Puisi

Kumpulan Puisi Herman Nufa

Suara-Mu berbisik merayuku
Tuk tetap bersama-Mu
Meyakinkanku akan cinta-Mu
Suara kasih-Mu memenuhi relung jiwaku hingga saat ini aku pun terlelap dalam belaian suara kasih-Mu.

Herman Nufa

Lilin

Hadirmu dalam ketulusan hati
Dibakar dalam semangat pengabdian
Cahayamu penuh pengorbanan
Yang tak pernah kunjung henti

Kau rela luluh meleleh dan hancur
Demi cintamu kepada kami
Melebur tuk memberi terang kehidupan
Kepada kelamnya bumi ini

Kaulah cahaya dalam kegelapan
Saat dirimu dihadang tiupan angin
Nyalamu redup secara perlahan-lahan
Seolah menanti waktumu akan mati

Saat dirimu mulai redup
Engkau masih memberikan harapan
Nyalamu cerah, indah nan gemerlap
Dalam cinta, harap dan iman

Engkaulah terang yang hidup
Di tengah kelamnya bumi
Diselimuti gelapnya hidup
Yang bercabang tak bernafas lagi

Baca juga Matinya Veronika

Suara-Mu

Baca Juga :   Cantik Itu Luka Antologi Puisi Kanis Rade

Hadir-Mu menyapa batinku
Suara-Mu bermadah dalam diriku
Kubenamkan suara-Mu dalam jiwaku
Alunan bisik-Mu menggema dalam bejana hatiku

Kepolosan diriku tak mampu mengartikan semuanya
Aku membiarkan Bisik-Mu berlalu
Namun dalam diam suara-Mu menggema
Memanggil namaku di sepanjang waktu

Waktu berkisar bersama alunan suara-Mu
Menanti jawaban pasti
Suara-Mu merdu
Merangkul datangku tuk tinggal bersama-Mu

Langkah pasti menoreh kisah
Di bulan Agustus 2018
Aku memutuskan tuk mengikuti-Nya
Ketika akhirnya aku mengucapkan selamat tinggal pada dunia lamaku
Pada tempat dan orang-orang yang aku cintai

Aku melangkah pergi meninggalkan semuanya
Setetes air mata berlinang di pipiku
Kesedihan dan harapan mengiringi langkahku
Aku tahu apa yang kupikirkan dan kurasakan sulit untuk berjalan pergi
Tinggalkan semua kenangan bersama derasnya gelombang

Baca Juga Kumpulan Puisi Indrha Gamur

Pukuafu

Baca Juga :   Kelana Embun Pagi Antologi Puisi Andi Hotmartuah Girsan

Dinginnya pagi menggigilkan hatiku
Pada gelap pagi yang merayapi lantai
Terik mentari menyapa hadirku
Pada dunia yang baru

Semuanya hilang sekejap
Bak mentari di akhir senja
Yah, seribu saat milikku sekarang hanyalah kenangan
Dengan imann, aku dapat menyimpan mimpi yang lebih baik dalam hatiku

Suara-Mu berbisik merayuku
Tuk tetap bersama-Mu
Meyakinkanku akan cinta-Mu
Suara kasih-Mu memenuhi relung jiwaku hingga saat ini aku pun terlelap dalam belaian suara kasih-Mu.

Baca Juga :   Cinta-Antologi Puisi Venand Samudin

Untuk-Mu Yang Menjadi Pesona Hatiku
Aku penikmat rindu yang selalu menunggu
Rinduku terlarut dalam secangkir mentari
Yang kuteguk saat embun mengadu
Pada kabut yang memikat bumi

Baca juga Pahlawan Sesungguhnya di Masa Pandemi Covid-19

Aku tertegun dalam satu kenikmatan

Yang menghantar aku pada keinginan
Untuk selalu bersama-Nya
Dalam ruang cinta yang mesra

Hatiku berjamur melati
Hangat akan dekapan diri-Nya
Yang membagi kasih pada pribadi
Yang haus akan cinta-Nya

Aku selaku penikmat
Berdoa dalam hikmat
Yang memikat
Agar aku terikat

Aku terbenam dalam kenikmatan
Dibaluti sentuhan harapan
Pada sosok yang mengisi kalbu
Di setiap ruang hampaku

Baca juga Juli dan Kenangan

Herman Nufa (Foto/Dokpri)

Penulis Mahasiswa STFK Ledalero


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button