cerpen

Kopi dan Sebatang Rokok

Foto: Ceritakita

Malam sepi nan kelabu
Di atas meja tak bertuan
Kumuntahkan semua kalimat-kalimat syahdu

Kopi dan sebatang rokok
Menyisahkan kalimat antara aksara dan pusara; Pada kopi ku diajarkan betapa pahit kalimat-kalimat berampaskan kenangan
Dan; Sebatang rokok perihal asap dan angin mempuisikan bahwa luapan kata-kata hilang lenyap Di balik rasa mengkuak gundah gulana

Penghujung, Januari ‘2020

Sahabat
(sajak kita yang terlampau lama)

Raga menghadirkan kebersamaan dan kebehagiaan
Dibalik keluh kesah yang tanpa syarat.
Selimut kasih senantiasa member kehangatan dalam jiwa setiap polesab persahabatan.

Baca Juga :   Hujan di Malam Hari

Kugoreskan pena,
Kurangkai indah tiap kalimat-kalimat cinta bertinta emas.
Kataku; biar kekal bersama kata yang dikalimatkan.
Kata itu terpatri dalam syair yang ssyahdu.
Memunculkan rasa rindu yang kian berlabuh.ritme suka-duka beradu
Dalam notasi-notasi lagu yang walaupun minor sekalipun,
Member makna akan bahagia bersama itu indah.

Cinta kebersamaan selalu ada di setiap munculnya mentari
Dan tidak menjadi hilang di telan rembulan yang datang mengusik.
Cerita kami, nostalgia lama.

Baca Juga :   Bagaimana Aku Menelanjangimu Antologi Puisi Maxi L. Sawung

La Cosa Nostra
#ghawa/wasa
Medio April yang cerah
Kuwu, 19 April 2019

Kopi dan Malam Minggu

Selepas Maghrib seorang wanita bertengger di kejauhan dengan segelas kopi tanpa rasa.
Dengan sengaja menyeruput sambil mendengung ; “kopi ini kembali kuteguk setelah setahun lalu aku menyeruput dengan rindu dan sepi berpadu”.
Sambil menatap nanar gelas berceritakan ampas nostalgia
Tak dirasanya, kopi yang ditegukannya kopi yang ditinggalkan selepas malam Minggu

Baca Juga :   Telaga warna

(Malam Minggu, mengadu sajak pada ampasnya kopi)
Cuma itu !!

Malam Minggu, Kloang’aur Oktober 2019

Penulis :
Fand Wasa, Asal dari Wootopo-Ende
Mahasiswa STFK Ledalero
Tinggal di Unit Gabriel

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button