Sosok

Kisah Pemerhati Lingkungan Hidup, Dr. Sonny Keraf

Penulis | Karolina Wako Lenga

Alexander Sonny Keraf, demikian nama lengkap pria kelahiran 1 Juli 1958 di Lamalera, Lembata, Flores Timur. Sonny Keraf pernah menjabat sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup pada masa Kabinet Persatuan Nasional. Beliau merupakan putra Katolik yang lahir di sebuah desa kecil di wilayah timur Indonesia yang memulai pendidikan pertamanya di Sekolah Dasar Katolik Lamalera, Lembata pada tahun 1971 hingga akhirnya melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Ilmu Filsafat Drikarya dan memperoleh gelar Sarjana. Tak hanya sampai disitu ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi yaitu di Universitas Katolik Leuven, Belgia hingga kemudian meraih gelar Magister dan Doktor di kampus yang sama.

Baca juga Cinta Seorang Gadis Antologi Puisi Emanuel Ervahno

Sonny Keraf memulai karirnya sebagai staf Editor pada penerbit Yayasan Obor Mas Indonesia pada tahun 1985-1988. Lalu menjadi staf Pusat Pengembangan Etika dan dosen filsafat pada Universitas Atma Jaya Jakarta sejak tahun 1988.

Meski memiliki latar belakang pendidikan filsafat, Dr. Sonny Keraf yang merupakan salah satu kader partai PDI Perjuangan itu memiliki sejumlah kompetensi yang memadai sehingga pada 26 Oktober 1999 sampai 9 Agustus 2001 pria kelahiran Flores Timur ini dipercayakan oleh Presiden RI ketika itu Gus Dur untuk menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup.

Baca Juga :   Rinu Romanus dan Cikal Bakal Lahirnya Majalah SRD

Baca juga Senja di Oesapa Berserta Kenangannya

Seperti dikutip dari Tokoh. ID, selama masa jabatannya sebagai Menteri, beliau kerap kali menyoroti berbagai masalah lingkungan hidup yang terjadi, seperti masalah kebakaran hutan dan kabut asap yang terus menerjang sebagian wilayah Indonesia hampir setiap tahunnya antara lain di wilayah Kepulauan Riau, di sebagian Kalimantan, Sumatera, NTT, dan masalah izin untuk mengusahakan hutan di kawasan Pulau Siberut, Mentawai, Sumatera Barat dan daerah lainnya.

Masalah tersebut menjadi perhatiannya karena dinilai bertentangan dengan upaya dan prinsip pelestarian alam/lingkungan hidup. Dalam masa jabatannya yang hanya dua tahun saja, beliau telah berusaha keras untuk mengatasi masalah di bidang lingkungan hidup karena dipandang sangat erat kaitannya dengan ekosisten kehidupan manusia.

Baca juga Adven dan Harapan Untuk Pemimpin Terpilih

Baca Juga :   Perjalanan Hidup Fansi Antang hingga Menjadi Kades Termuda di Manggarai Timur

Pada tahun 2004 hingga 2009 beliau dipercayakan kembali menjadi Wakil Ketua Komisi VII DPR RI bidang ESDM, Ristek dan LH (den.go.id). Sama halnya ketika menjadi Menteri, di jabatan yang baru ini beliau kerap kali menyoroti masalah yang berkaitan dengan lingkungan hidup agar dapat di tangani atau dikelola dengan bijak oleh pemerintah dan masyarakat sehingga tidak merusak alam tempat manusia dan makluk hidup lainya bisa hidup nyaman secara berkelanjutan.

Baca juga Pahlawan Sesungguhnya di Masa Pandemi Covid-19

Dikutip dari Tokoh. ID sebagai putra kelahiran NTT, beliau kerap menyumbangkan pikirannya agar pembangunan daerah yang tengah di galakan di semua wilayah Indonesia terutama pembangunan fisik di bidang pertanian, perkebunan, perumahan, industri, pertambangan dan lain sebagainya, diharapkan tetap memperhatikan kelestarian alam.

Khusus untuk wilayah NTT tempat kelahirannya, beliau menyarankan agar pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat, lebih fokus untuk meningkatkan kapasitas di bidang pertanian, pariwisata, pendidikan, dan peternakan serta perikanan, bukan industry dan pertambangan yang berpotensi merusak kelestarian alam dan lingkungan hidup.

Baca Juga :   Membangun Pemahaman Komprehensif Tentang Perbedaan Status Kewarganegaraan Dan Status Kependudukan

Baca juga Ada apa dengan Cinta – Antologi Puisi Emanuela Mogang

Mantan Menteri Lingkungan ini juga menjadi penggerak dari Gerakan Jaga Bumi. Gerakan penghijauan ini bertujuan untuk mengajak masyarakat agar lebih mencintai dan menjaga kelestarian alam.

Tak hanya aktif dalam dunia politik dan pendidikan beliau juga telah menuliskan beberapa karya yang akhirnya dipublikasikan seperti; Pragmatisme Menurut Willian James (Kanisius, 1985), Pasar Bebas, Keadilan dan Peran Pemerintah: atas Etika Politik Ekonomi Adam Smith, Hukum Kodrat dan Teori Hak Milik Pribadi, dan Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya serta karya bersama Mikhael Dua yang berjudul Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis.

Di dalam karyanya ini beliau menjelaskan mengenai apa itu filsafat, teori-teori tentang pengetahuan dan lain sebagainya yang bisa menjadi buku panduan agar lebih mampu untuk semakin kritis dalam sikap ilmiah, seperti tidak mudah dalam mempercayai sesuatu.

Karolina Wako Lenga (foto/Dokpri)

(Karolina Wako Lenga, Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga. Alumni SMAS Regina Pacis Bajawa)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button