Opini

Ketakutan di Tengah Badai Virus Corona

Oleh: Fredy Langgut

Beberapa dekade belakangan, persoalan yang dihadapi oleh manusia ialah ketakutan. Setiap orang ini pasti mengalami ketakutan dalam hidupnya. Ketakutan manusia bersifat kompleks. Ada orang yang mengalami ketakutan karena kehilangan pekerjaan, tempat tinggal, keluarga, sahabat dan kekasih tercinta. Akan tetapi, ketakutan yang paling dominan ialah ketakutan terpapar virus corona. Ketakutan muncul sejak tahun 2019 yang menimbulkan kecemasan di seluruh dunia. Virus corona dipicu pada bulan Desember tahun 2019 di kota Wuhan, China. Kota Wuhan merupakan episentrum pertama penyebaran virus corona yang telah menghadirkan ketakutan manusia pada umumnya. Dari kota ini virus corona menyebar secara massif di tengah dunia.  Bahkan, virus corona saat ini masih menyebar ke seluruh dunia termasuk di Negara Indonesia. Penderitaan dan ketakutan masyarakat semakin signifikan sehingga menyebabkan pudarnya semangat menjunjung tinggi gotong royong masyarakat, karena takut terpapar virus corona.

Baca Juga : Membangun Integritas dan Dedikasi Organisasi Mahasiswa
Baca Juga : Manggarai Timur Rumah Kita Bersama

Virus corona sudah dipandang sebagai persoalan dunia, karena ia merusak tatanan kehidupana universal. Normalitas kehidupan manusia mengalami kemandekan, angka kematian manusia kian meningkat drastis dari waktu ke waktu. Semua hal ini merupakan akibat dari penyebaran virus corona yang semakin liar. Penyebaran yang liar itu membuat pola pikir manusia terganggu sehingga mengakibatkan ketakutan yang berlebihan dalam kehidupan di tengah masyarakat. Ketakutan yang berlebihan tersebut dapat mengakibatkan serangan jantung, dan ancaman kematian.

Selain hal di atas, peradaban ekonomi, pendidikan dan budaya saat ini tengah terdampak akibat virus corona. Ekonomi masyarakat kian merosot secara serentak dan menimbulkan masyarakat menderita. Realitas ketakutan masyarakat sekarang merupakan persoalan luar biasa.  karena dunia sedang menangis dilanda oleh badai yang tak berakhir itu.   Para ahli sedang dan sudah berusaha sekuat kemampuan mereka masing-masing menangkal badai itu, namun belum berhasil.

Baca Juga :   Mengapa Hantu Populisme Bangkit?

Dalam dunia pendidikan, banyak siswa-siswi maupun juga guru-guru tidak dapat melakukan kegiatan belajar dan mengajar dengan efektif, karena takut terpapar virus corona. Aktivitas kuliah tatap muka, kantor dan berkerumunan seperti acara pesta ditiadakan sebagai cara untuk mengurangi penyebaran virus corona. Pembatasan interaksi sosial atau musyawarah dengan yang lain ditiadakan. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan mengadakan kegiatan proses pembelajaran secara online guna menjaga keselamatan siswa-siswi maupun guru dari sebaran virus corona. Akan tetapi, kenyatan yang terjadi sekarang ialah kegiatan belajar secara online ini tidak semua murid dapat dilaksanakan dengan baik, karena alasan tertentu seperti jangkau jaringan internet terbatas. Dengan persoalan ini, ketakutan dan kecemasan orangtua pada anak-anak pun menjadi signifikan. Ketakutan yang paling dominan ialah perkembangan akademis bagi anak-anak mereka di tengah situasi yang superkejam saat ini.

Baca Juga : Hutan Manja Antologi Puisi Ardhi Ridwansyah
Baca Juga : Jangan Terhanyut Dalam Euforia Kemenangan

Bukan hanya itu, pemerintah juga telah memerlakukan kebijakan tinggal di rumah dan kerja di rumah untuk mengurangi penyebaran virus corona. Hal ini juga menyebabkan kecemasan bagi para masyarakat kecil karena mengakibatkan banyak hal, terebih khusus pendapatan ekonomi dalam keluarga. Menurut penulis, kebijkan ini sangat baik untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat guna menjaga situasi yang kondusif, sehingga masyarakat melakukan aktivitas di rumah sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku.  Meskipun di sisi lain kebijakan tersebut memengaruhi interaksi sosial menjadi terbatas dan memengaruhi pendapatan ekonomi dalam keluarga, terlebih khusus bagi para petani atau masyarakat kecil.  Selain itu, tradisi mudik, pesta sekolah, lonto leok (musyawarah dalam tradisi masyarakat Manggarai) ditiadakan secara serentak. Gereja juga menganjurkan supaya kehadiran umat dalam kegiatan rohani kiranya terbatas demi mengurangi penyebaran virus corona, terlebih khusus pada daerah yang sudah terpapar oleh virus corona. Umat diberi kesempatan untuk berdoa dari rumah.

Baca Juga :   Revitalisasi Nilai Kebajikan Intelektual di Tengah Covid-19

Penulis sangat yakin, dalam situasi seperi ini, iman diuji dan ditantang sejauh mana keyakinan kita kepada Kristus yang tersalib. Dengan kata lain, semua persoalan di atas menantang manusia untuk semakin dewasa berpikir dan bertindak serta bertanggung jawab atas segala persoalan dalam kehidupan. Kendati virus corona melahirkan berbagai gangguan psikologis berupa stres yang berwujud ketakutan, kegelisahan dan kecemasan. Frekuensi frustrasi manusia menjadi meningkat drastis disebabkan karena ketakutan yang berlebihan. Nurjana mengemukakan pendapatnya, virus corona mengakibatkan seseorang menjadi frustrasi karena sebarannya cepat dan mematikan. Artinya pada situasi pandemik ini, semua orang pasti mengalami perasaan ketakutan akan kematian dan kecemasan akan terpapar olehnya. Oleh karena itu, tidaklah heran, saat ini banyak orang mengalami stres, derita dan kematian karena virus corona. Ketakutan tersebut dapat dilihat melalui berbagai gejala, seperti meningkatnya ketegangan, kegelisahan, dan kecemasan. Bila dihayati, hal tersebut berpengaruh pada fisik, seperti timbulnya sakit kepala, malas, gangguan tidur dll. Ataupun stres juga dapat terlihat pada perilaku seseorang setiap hari sehingga membuat individu jadi tidak sabar, cepat marah, perubahan pola makan dan rendah diri. Oleh karena itu, penulis mengkalim bahwa perbincangan tentang ketakutan tak terlepas dari kehidupan manusia. Manusia merupakan sumber ketakutan yang melahirkan penderitaan dan kegagalan dalam melakukan sesuatu, dan virus corona merupakan tantangan dunia bagi hidup manusia.

Baca Juga :   Transformasi PMKRI: Membentuk Kader Intelektual Populis

Baca Juga : PEREMPUAN: Kewajiban Keadaban Bersama
Baca Juga : Mengencani rindu hingga mampus di atas ranjang

Solusi sederhana mengatasi ketakutan di tengah virus corona

Pada bagian ini, penulis mencoba menawarkan solusi sederhana cara mengatasi kecemasan di tengah pandemik virus corona. Solusi ini merupakan sebuah motivasi penulis sendiri kepada semua masyarakat luas. Penulis menganjurkan bahwa dalam masa pandemic, setiap orang sungguh-sungguh memahami penyebab ketakutan pandemic virus corona. Dengan itu, setiap insan kiranya tetap kritis dalam berpikir berkaitan dengan informasi-informasi yang diberitakan di media cetak maupun media elektronik terutama informasi tentang virus corona. Penulis menyakini bahwa dengan berpikir kritis dapat membantu mengurangi ketakutan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tingkat kecemasan atau ketakutan.  Mengikuti protokol kesehatan dengan baik sehingga imunitas tubuh tetap sehat dan nyaman dari penularan virus corona. Istirahat yang cukup, olahraga yang cukup dan makan yang bergizi. Jika semua itu dapat dijalankan dengan memadai, kehidupan kiranya terasa lebih tenang dan lebih tenang menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di tengah wabah virus corona. Oleh karena itu, setiap pribadi dapat memutus perasaan ketakutan tersebut dengan berpikir kritis. Berpikir kritis dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Artinya, kita bebas untuk berpikir kritis.  Tujuannya ialah menstimulasi pikiran logis atau kritis agar perasaan kecemasan seseorang dapat dihalau.  Dengan kata lain, obat perasaan takut adalah berpikir kritis dan sistematis, paling kurang menanggapi kecemasan dengan kekuatan nalar berpikir.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button