Puisi

Kesedihan Antologi Puisi Inggrida Astuti Lestari

Sesungguhnya aku menamai ini siksa
Merepotkan pikiran
Menyusahkan Asa
Hampir sepekan dekapan hujan merajalela pada tatapanku

Inggrida Astuti Lestari

Kesedihan

Lelah
Merintih
Meratap
Tak bernyawa

Gubuk kecil masih berduka
Bangunan tak lagi berpenghuni
Senyum bersampul darah
Hampir seperti perang tak berujung
Dunia kini terlihat sengit dan menderita

Menikam dengan halus
Berteman tak mengenal
Bercerita tanpa awal
Memojok tanpa bersuara
Jiwa yang kaku nan luka
Tak tertolong

Sekolah tanpa penghuni
Rumah tanpa berkata
Jalan menjadi sepi
Tak ada sapa, dan semua menjadi asing asing
Jiwa-jiwa kembali kepada pangkuan-Nya tanpa pamit
Dimana aku dan kalian
Berjalan menyusuri bara api
Dipasung menenteskan kepedihan
Sayang, darah itu akan mengalir tanpa berkesudahan
Seakan goresan perang tak memberi ampun
Kesedihanku pun tak tertolong penuh
Ampuni

Baca Juga :   Sarimin Pergi ke Pasar Antologi Puisi Aris Setiyanto

Baca juga : Yang Merangsang Antologi Puisi Indrha Gamur
Baca juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus

Dekapan Hujan

Dekapan hujan kembali dengan abadi
Ingin sepekan aku tertidur
Memejamkan mata jiwaku
Pada angin yang hendak pergi
Serta candu pada dia tak lepas
Nyanyian hujan masih sama
Entalah
Atau mungkin saja
Pertanyaanku

Baca Juga :   Menawar Tangis Hujan Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Sesungguhnya aku menamai ini siksa
Merepotkan pikiran
Menyusahkan Asa
Hampir sepekan dekapan hujan merajalela pada tatapanku
Yahh
Hujan ini tetap abadi
Syair tetap dilantunkan
Menunggu tetap dengan waktunya
Sayang sudahkah dirimu menemani kopi saat hujan tetap menjadi teman
Bingung

Baca juga : Aku Masih Mencari Bayanganmu Antologi Puisi Paulus Lunga
Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh

Isolasi

Tanpa suara
Tanpa sapa
Tanpa tawa
Nestapa melanda
Tanpa memberi ampun

Sungguh malang nasibmu nak
Engkau berbaring tanpa mendengar simpang siur untuk menyapa jiwamu
Sembari merintih tanpa berhenti
Ternyata awan hitam tak peduli

Baca Juga :   Aku Bersama Hujan Antologi Puisi Maria Camelia

Gurauan jiwa yang panik
Cakaran luka yang masih berdarah
Lemparan kata tak terbalas
Dan nyanyian meratapi kepiluan
Malangnya lukamu dalam ruang ini

Kaku
Luka
Letih dan lelah
Kesabaran
Mohon ampun
Biarkan menjadi luka abadi
Diobati dengan doa yang engkau lantunkan pada yang Kuasa

Baca juga : Samudra Kasih Ibu Antologi Puisi Wandro J. Haman
Baca juga : Rimbun Kepala Antologi Puisi Maxi L Sawung

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button