Puisi

Kekasih Antologi Puisi Erlin Efrin

Dear Kekasih
Panjang sabar untuk segala tanya
Bukan tentang siapa, tetapi tentang aku dan kamu
Panjang sabar untuk mulut yang tak berhenti bertanya
Bukan soal siapa tetapi soal hati
Hati yang tak tenang berpijak jauh darimu

Dear Kekasih
Panjang sabar untuk segala kerisauan
Maafkan hati yang selalu meronta
Bukan tentang apa, tetapi tentang kapan?
Kapan kembali, melepas rindu yang selalu terpendam

Dear Kekasih.
Panjang sabar untuk segala tanya yang mungkin mengganggu pikiranmu.
Panjang sabar untuk segala rindu yang mungkin membuatmu risau.
Itu semua bukan tanpa sebab.
Ini semua tentang rindu yang tak kunjung usai.

(Rentung, 7 April 2021)

Baca Juga : Musafir Panggilan Antologi Puisi Haris Meme
Baca Juga : Indriyanti

Hujan

Jika hujan datang membasahi bumi dan menyejukkan musim panas
Lantas siapa yang akan datang menyejukkan hati yang sedang terbakar api cinta?
Jika matahari datang menyinari bumi
Lantas siapa yang akan datang menyinari hati yang sedang layu ini?

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Diandra Caecilya

Aku dan kamu sudah tak bisa bersama lagi
Strata memisahkan kita
Kita berdua bak langit dan bumi
Kini aku terpenjara pada rasa ini
Rasa ingin memilikimu lagi, namun itu tidak mungkin

Strata ini menjadi orang ketiga dalam cinta kita
Cinta ini, Kini seperti bayangan
Semakin kukejar semakin ia menjauh
Kini, Kulepaskan cintaku pergi bersama strata yang diciptakan
Berharap kelak akan menemukan cinta yang tulus tanpa memandang strata.

(Rentung 7 April 2021)

Baca Juga : Teror dan Teror(isme)
Baca Juga : Divina Commedia: Grazie Dantev (700 tahun Dante Aleghieri)

Ketukan Rindu

Setiap malam telingaku selalu mendengar ketukan itu.
Ia, Ketukan pintu hati.
Bunyi ketukan itu hanya aku dengar pada malam hari.
Entah mengapa dia selalu datang pada malam hari?

Baca Juga :   Cinta-Antologi Puisi Venand Samudin

Dia selalu datang menggangguku.
Dia selalu membangunkanku dari tidur malamku.
Dia selalu membuat tidur malamku tak tenang.
Sungguh dia membuatku tersiksa.

Cobalah sesekali jangan datang pada malam hari.
Sebab sangat sulit bagiku untuk menahannya.
Bisa-bisa mataku tak mampu kupejamkan kembali.
Sudah cukup bagiku tersiksa menahannya.

Ia, rindu.
Rindu yang selalu mengetuk pintu hati.
Rindu selalu datang menggangguku pada malam hari.
Entah mengapa rindu selalu datang di malam hari?
Sudalah, sesekali jangan menggangguku.

(Rentung, 7 April 2021)

Baca Juga : Hermeneutika Diri : Sebuah Jalan Yang Panjang
Baca Juga : Eksistensi Generasi Milenial

Menahan Rasa

Kini, Aku terpenjara pada Sebuah rasa
Rasa ingin memilikimu, namun itu tak mungkin.
Entah mengapa rasa ini tumbuh untukmu,
meski Aku tahu itu tidak mungkin. Tetapi
Salahkah jika rasa ini tumbuh untukmu?

Baca Juga :   Prolog Sebuah Buku Antologi Puisi Cici Ndiwa

Aku tidak bisa menahan rasa ini
Gejolak mencintaimu semakin membara
Bak panasnya api yang berkoar-koar
Tak ada air yang bisa memadamkannya
Kecuali dirimu menerima cintaku

Setiap kali aku melihatmu, Rasa ini semakin bergejolak
Inginku katakan aku mencintaimu, Namun mulut ini enggan tuk berbicara
Sebab aku tahu, cintamu hanya untuknya
Namun, salahkah jika aku juga mencintaimu?
Kini aku hanya bisa menahan rasa ini
Entah sampai kapan, aku pun tak tahu
Biarkan waktu menjawab semuanya

(Rentung, 7 April 2021)

Penulis Mahasiswi semester 8 pada program studi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan, UNIKA St. Paulus Ruteng


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button