Puisi

Kebisuan di Pertengahan Juni Antologi Puisi Defri N. Sae

Bising kota meronta
Sebuah rona telah pudar
Bahasa telah gugur
Membelai buku-buku kusam tanpa kata

Netra telah buta
Dibelai hati
Sebelum kaki melangkah pergi
Jemari menjadi budak sepasang mata

Biarkan kita menjadi bisu
Serupa abu-abu
Menorehkan tinta sepanjang Juni
Semuanya hanya begitu dan begini

Musim berganti
Mereka dirantai
Sepi tak usai
Tak tersentuh jemari

Biarkan gedung diagungkan
Telah gugur pepatah sungkan
Mengurai dari orang berdosa
Sepanjang Juni digoda 

(Juni 2021)

Baca Juga : Eksploitasi Konsumen, dan Paradigma Ambigu Masyarakat Moderen
Baca Juga : Aku Bersama Hujan Antologi Puisi Maria Camelia

Juni Yang Pulang

Ruas-ruas waktu terkuras
Atas lembayung yang tak pupus
Waktu sepanjang Juni membelai pantai, dataran, dan gunung-gunung dielus
Memanjakan bocah-bocah di antara seruling dan gambus 

Juni berkemas dan merapikan jejak-jejaknya 
Dari kenangan yang pernah gugur di ruang-ruang hampa
Maupun bising yang bertempat di kota-kota
Hingga doa-doa pribadi yang memohon pengampunan dosa

Juni akan pergi
Meninggalkan suka, duka, dan harapan-harapan yang tercerai-berai
Membelai petuah dan doa yang menguning 
Pasti dan tidak adalah paket tak terhitung

Hatur kasih setiap detik yang berguguran
Kami tak mampu menjadikanmu benih yang subur
Untuk mengobati sesal bercucuran
Tak apa-apa, hati-hati untuk Juni yang pulang

(Kefamenanu, 29 Juni 2021)

Baca Juga : Waktu Antologi Puisi Wandro J. Haman
Baca Juga : Sarimin Pergi ke Pasar Antologi Puisi Aris Setiyanto

Baca Juga :   Via Dolorosa Antologi Puisi Antonius Bi Tua
1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button