Puisi

Kamu Luar Biasa Antologi Puisi Andi Dollo

Hari masih pagi
Ibu sudah menyalakan api
Ayam jantan masih terlelap
Sedang aku dan tanya masih saling mendekap
Sejauh ini, masihkah penaku
Mampu menulis pada lembar kertasmu.

Andi Dollo

Kamu Luar Biasa

Tidak ada yang namanya tinggal tetap.
Hari ini, di sini, besok, atau mungkin sedetik setelahnya,
bisa pergi dan menghilang.

Tapi, ingat!
Jatuh, patah kemudian kehilangan sesuatu itu,
hal yang biasa. Yang tidak biasa itu, kalau
kamu hanya tinggal pada lingkaran itu-itu saja.
Hidup itu harus terus dijalani, yang hilang
jangan dicari. Yang tidak ingin jangan
dipaksakan. Nanti,
semuanya pasti kembali.
Entah itu yang benar-benar hilang atau akan
digantikan dengan yang baru.
Nanti, pasti akan tercapai.
Meskipun dulu tak ingin.

Hari ini kau boleh hancur sehancur hancurnya,
mungkin besok malah kau tertawa
sejadi-jadinya.
Hidup ini sederhana.
Hanya saja, terkadang kita mempersulitnya
dengan hal ini itu. Pada akhirnya, ya tetap
begitu-begitu saja.
Jalan yang kau pilih mungkin dibenci sebagian
orang. Tapi ingatlah, kebahagiaanmu di atas
segalanya.
Kamu itu sempurna adanya. Jangan pernah
berkecil hati.
Nikmati, jalani.
Melangkahlah dengan bebas, sesuka dan
Sekehendak hatimu.
Dirimu milikmu.
Kamu luar biasa adanya.

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Maxi. L. Sawung

Ruteng, 2021.

Baca juga : Patah Hati Pertama Antologi Puisi Ningsih Ye
Baca juga : Pemakaman Antologi Puisi Maxi L Sawung

Manusia Dan Usia

Kata orang-orang yang sudah sangat uzur
di suatu detik yang kemudian berlanjut
pada menit kemudian menyusul jam,
Kita ini manusia rapuh.
Dari tanah kembali ke tanah.
Hidup diberi pedang asa untuk bertarung dengan waktu.
Kemudian, kisahnya saat itu juga.
Pada mulanya adalah Firman, kemudian dibentuklah dari tanah,
sesosok manusia.
Lalu, waktu jadi jaminan berbatas. Manusia tak abadi

Hari lalu hanya jawaban untuk besok
atau lusa yang adalah kemarin tuk hari setelahnya.
Betul-betul sebuah misteri.

Sampai di sini mengertikah?
Lagi-lagi sebuah misteri.
Kita hanya manusia.
Di atas kita, masih ada langit.
Di bawah kita masih ada tanah.
Tuhan yang empunya.
Kita memelihara.
Hari ini kita hidup, besok?

Hidup penuh tanya nak.
Tuhan yang empunya jawaban.

Ruteng, 2021.

Baca juga : Bukan Aku Yang Dikubur, Tapi Harapku
Baca juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus

Mama

Pagi-pagi buta
Ayam jantan masih lelap
Ada bara api di balik dingin
Tak ada suara, hanya tangan yang terus bekerja.

Pagi-pagi buta.
Angin berembus sepi
Embun masih akrab dengan genteng rumah
Seisinya masih lelap
Tapi ada kasih yang sudah sibuk

Pagi-pagi buta
Dunia juga masih didekap malam
Tapi ada cinta yang hidup
Menghangatkan dingin
Menyalakan kehidupan
Mengalahkan dekap embun
Dan memulai hari.
Memberikan nafasnya
Untukku, untuk mereka
Ya, itu cinta dari mama.

Ruteng, 2021.

Baca juga : Ruteng, Kota Patah Hati Antologi Puisi Konstantina Delima
Baca juga : Hujan Penghianat Antologi Puisi Novi Meti

Kamu

Saat-saat begini tak lagi kutemui indah senyum dan cantik parasmu
Tak ada lagi jalan yang terang menuju hatimu
Semua seperti menghilang

Gelap yang jatuh di sekelilingku benar-benar nyaman,
kaki-kaki langit terasa begitu dekat.
Yang bisa kulihat hanya gelap tanpa batas
Sehingga seperti tanpa harapan, aku dan kamu tinggal kenangan

Kemudian hinggap dingin di sekujur tubuhku
Aku di sini tanpa asa
Sebab hanya hangat nafasmu yang selalu ada saat-saat seperti ini.
Menghangatkan tubuhku dan membakar jiwa yang sepi.

Saat waktu telah larut, kutitip semua dukaku padanya.
Barangkali besok saat fajar menyingsing, langit kembali terbuka
Kaki dapat melangkah
Dan hati temu damai pada yang lain.

Ruteng, 2021.

Baca juga : Antara Pagal, dureng dan senyum khas milik Ndu Antologi Puisi Oncak Sarigoza
Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh

Sial Berbaris Luka

Sial sekali
Penaku patah, kertasku tercabik lagi
Tak punya apa-apa di sini
Benar-benar hancur

Inginnya melangkah lebih jauh
Tapi ditarik kenyataan dan ditampar oleh kenyataan:
hal yang tak dapat kuhindari

Kemarin lupa, hari ini hancur berantakan
Besok, masihkah dapat berdiri dengan baik?

Sungguh kakiku tak punya daya lagi
Tanganku mati lemas

Jangan tanya hatiku
Remuk redam tak berbentuk
Aku hancur, tak ada kamu lagi di sini.
Aku sendiri.

Ruteng, 2021.

Andi Dollo

Penulis, Andi Dollo, hidup di Tenda, Ruteng, Flores, NTT. Akrab disapa Andi. Mencintai kehidupan tulisan dalam keseharian. Dapat disapa melalui media sosial: fb. Andi Dolo dan Ig.@Andidollo serta No. Wa. 085205466205.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button