cerpen

Kado Ulang Tahun Carla

Foto: lovepik

Oleh: Akri Suhardi

Mentari pagi bersinar cerah. Menghangatkan tubuh yang tengah diselimuti dingin. Carla, si gadis manis berpipi lesung itu berdiri menyapa mentari dari bibir jendela. Bola matanya menari-nari melirik ke rumah pak Joko, tetangganya. Astaga! Carla kaget sembari menutup mulut dengan jari jemari mungilnya. Ia terperangah pada pria yang tengah berdiri di depan rumah pak Joko.

Siapa dia? Oh Tuhan mimpikah aku? Bisiknya sambil mengucek kedua bola matanya yang kemudian melotot tajam menembus awan pagi. Ya benar, itu seorang pria. Aku sedang tidak bermimpi. Gumamnya. Hari kedua, ketiga dan hari keempat Carla terus melihat pria itu di rumah pak Joko. Rupanya sugesti Carla semakin menjadi-jadi. Dari hari ke hari tatapan Carla pada sosok pria itu semkin bertahan lama. Kisarannya naik dua puluh menit per hari.

Pada hari kempat, seperti biasa pada bibir jendela Carla kembali menatap. Dari pintu rumah pak Joko disapa senyuman manis sehangat mentari pagi, dari seorang pria berkumis tipis yang tidak lain sosok pria yang sama. Carla pun tersipu malu, telah tertangkap basah. Aduh, tamat sudah riwayatku, gumam Carla.

***
Senyuman menjadi senjata terampuh untuk memikat wanita. Itulah yang dirasakan Carla setelah menerima senyuman pria berkumis tipis itu. Rupanya Carla telah terjatuh pada senyuman itu.

“Ibu.” Carla memanggil ibunya.
“Ia nak.” Jawab sang ibu.
“Bu, itu loh, pria di rumah pak Joko itu, namanya siapa?”
“Hmm, tumben kamu nanya. Jangan-jangan kamu suka?”
“Ah ibu.” Pungkasnya sambil mencubit bahu ibunya dengan manja.
“Carla serius bu.” Sambungnya sambil tersenyum kecil.
“Baiklah nak. Itu namanya Jek. Keponakan pak Joko yang baru datang libur.”
“Oh. Gitu ya bu.” Kemudian tawa keduanya pecah.

Baca Juga :   Pilkada

***
Waktu silih berganti, tak peduli pada apa yang terjadi.
“Carla.”
“Ia bu.” Jawab Carla.
“Nak tolong panggilkan adekmu Jesika di rumah pak Joko.”
“Baik bu.” Carla pun bergegas. Setibanya di rumah pak Joko ia mengetuk pintu.
“Hei kamu.” Sapa Jek.
“Hei kamu.” Jawab Carla sekenanya.

Keduanya saling beradu pandang.
“Ayo, silahkan masuk.”
“Tidak usah, aku di sini saja. Mau panggil Jesika adikku.”
“Oh, Jesika ada di dalam. Masuk dulu.” Pungkas Jek ramah.
Teka-teki tentang sosok pria berkumis tipis itu terungakap. Kisah kasih mulai tertoreh pada lembar-lembar kehidupan cinta.

“Kenalkan, aku Jek.” Ucap Jek membelah kesunyian sembari mengulurkan tangan hendak bersalaman.
“Aku Carla.” Jawanya singkat seraya menyambut uluran tangan Jek. Jantungnya berdegup kencang.
“Oh, rumah kamu yang bercat biru itu ya?”
“Benar Jek.” Sahut Carla.
“Berarti kita tetangga.” Keduanya tersenyum kecil. Perbincangan keduanya pun terhenti ketika Jesika datang dan merayu Carla pulang.

“Oh ya Jek, aku pamit dulu. Kalau ada waktu datang ke rumah.”
“Oke Carla. Dengan senang hati, aku akan datang.” Kata Jek menutup pembicaraan. Carla pun pergi bersama Jesika. Dari beranda rumah, Jek menatap hingga Carla dan adiknya masuk ke dalam rumah.

Baca Juga :   Ibu Belum Ada Puisi

***
Janji adalah utang. Itulah pepatah kuno.
“Ehh, nak Jek. Silahkan masuk.” Sambut ibu Carla penuh ramah.
“Bu, Carla ada?” tanya Jek sambil tersenyum sopan.
“Ada nak, silahkan duduk. Clara!” Ibu Clara memanggil puterunya itu.
“Ia bu.” Sahut Calra
“Ini ada nak Jek.” Sambung ibu Clara.

Wahai sang musafir cinta, inikah engaku datang? membawa tulang rusuk yang telah lama dinantikan?
“Hai Jek, kamu sudah dari tadi?” Sapa Carla.
“Barusan, Carla.”
Ibu Carla datang membawa dua gelas teh.
“Nak ini teh untuk kamu berdua biar ngobrolnya tambah romantis.” Canda Ibu Carla.

“Trima kasih ya bu.” keduanya kompak menjawab. Romantis? Carla bergeming. Bukankah aku merindunya? Oh ibu, semengerti ini engkau terhadapku?
Keduanya mereguk teh di gelasnya masing-masing.

“Hari ini kamu buat apa Carla?”
“Saya tidak ada kegiatan Jek. Kebetulan kami sedang berlibur.” Jawab Carla.
“Kamu semester berapa?” Tanya Jek.
“Saya semster tiga, jurusan akuntansi. Kalau kamu?” Tandas Carla.
“Aku juga baru semester tiga. Hari ini aku tidak ada planing dan sebenarnya aku mau mengajak kamu jalan-jalan.” Jek memberanikan diri mengajak Carla jalan-jalan.

“Boleh.” Sahut Carla sambil tersipu. “Kalau begitu aku pamit dulu pada ibuku.”
Hari itu, keduanya mulai merangkai kata cinta. Bibir jendela tidak lagi menjadi penghalang. Dari hari ke hari keduanya semakin mesra. Hingga benih cinta tumbuh pada hati mereka. Maka terjadilah sudah. Lubuk hati yang terdalam terguncang dan memaksa kata cinta untuk segera diungkapkan. Dan tepat di bawah pohon cemara, keduanya duduk saling menggenggam tangan.

Baca Juga :   Butuh Banyak Rasa

Tiba-tiba…
“Aku mencintaimu, Carla. Apakah kamu mencintaiku?”
Carla terperangah. Namun ia tak sanggup menyembunyikan hati kecilnya.
” Aku juga mencintaimu Jek.” Jawab Carla. Keduanya berpelukan. Disaksikan burung-burung yang bernyanyi ria.

***
Hari itu hari sabtu. Biasanya Jek selalu datang ke rumah Carla. Namun pria berkumis tipis itu tidak kujung datang juga. Sesekali Carla mengintip dari balik jendela, ke arah rumah pak Joko. Nihil. Sama saja. Hanya kekosongan yang didapat. Carla mulai gelisah. Padahal hari itu Carla merayakan ulang tahun yang ke-20. Sementara Jek tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Carla kemudian menanyakan perihal Jek kepada ibunya. Namun sang ibu tidak mengetahui sama sekali. Lantas ia pun bergegas ke rumah pak Joko untuk mencari keberadaan pujaan hatinya.
“Jek sudah berangkat tadi pagi, nak. Ia kembali ke Jakarta. Maaf, saya lupa mengabarkan ke nak Carla.” Pungkas pak Joko.

Hatinnya berkecamuk. Kemudian ia meninggalkan pak Joko yang berdiri di hadapannya.
Malam itu, Carla merayakan ulang tahun ke 20. Tanpa Jek si pujaan hati. Namun dihadiri teman-temannya datang mengucapkan selamat. Tetapi Carla tampak tidak semangat, ia sedang patah hati. Kekesalannya pada Jek belum juga pudar. Keberangkatan Jek yang tanpa pamit adalah kado buruk di hari ulang tahunnya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button