cerpenSastra

Juli dan Kenangan

Penulis | Diandra Caecilya

Awal bulan Juli, saatnya masuk sekolah. Dan ini saat yang paling mendebarkan sekaligus menakutkan bagi Lucy, gadis kecil yang pendiam dan cenderung tertutup.
“Ayo sayang, ini sekolahmu sekarang,” kata ibunya sambil terus menggenggam tangan Lucy yang tak mau lepas. Di dekat pintu, ada seorang anak sebaya Lucy yang berdiri mengamati mereka sembari tersenyum manis.

“Nah ini ada teman kamu, yang tinggal di dekat rumah,” kata ibunya sambil melambai ke arah anak lelaki itu. Anak itupun datang mendekati Lucy dan ibuya, kemudian mengulurkan tangan hendak bersalaman.
“Aku Adi, nama kamu siapa?”
“Aku Lucy,” ia menjawab pelan dan agak malu.

Baca Juga Kumpulan Puisi Wandro J. Haman

Dan itulah awal kisah persahabatan antara mereka berdua. Lucy dan Adi bersahabat erat. Bahkan layaknya saudara kembar. Pergi ke sekolah, bermain, makan sepiring berdua, minum dari gelas yang sama dan terkadang tidur bersama, yang tentunya tidur di depan TV dan selalu dijaga mama atau papa. Adipunya sifat kalem, suka mengalah dan berusaha seolah menjadi seorang kakak buat Lucy. Berbeda dengan Lucy yang punya karakter pendiam tapi keras kepala, tomboy tapi terkadang sedikit cengeng.

Baca Juga :   Frater. Salahkah Aku mencintaimu ?


Hari berlalu, tahun berganti. Adi dan Lucy tumbuh menjadi anak remaja dengan segala tingkah dan aktivitas. Tapi kemanapun selalu bersama, seolah tidak terpisahkan.


Hingga memasuki masa putih abu-abu, suatu senja papa memanggil mereka berdua. “Duduklah nak, papa mau bicara.”
Melihat wajah serius papa yang susah ditebak, Lucy dan Adi pun duduk dengan beribu tanda tanya di kepala. Ada apa gerangan? Lantas, Lucy meraih bagian bawah kaus Adi, seolah minta perlindungan. Papa menatap mereka berdua bergantian.
“Papa tahu kalian berdua sudah seperti saudara kandung. Papa melihat itu semua. Melihat kamu berdua pergi sekolah, bermain, makan sepiring berdua, bahkan pakai baju saja papa sudah tidak bisa bedakan mana Adi punya mana Lucy punya. Nak, dengarkan papa. Kita punya adat. Kalau kita makan dan minum dari tempat yang sama, itu sudah seperti saudara kandung, dan itu artinya kita tidak boleh hidup bersama atau menikah.”

Baca Juga :   Luka Tak Berdarah

Deg!!
Serasa ada palu godam yang menghantam jantung keduanya. Tidak terasa air mata jatuh di pipi keduanya.
“Papa kenapa begitu tega bicara seperti itu pada kami? Apa salah kami, papa?”
Sejak hari itu keduanya tampak murung. Hal yang tidak terduga membuat hari-hari mereka berubah.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button