cerpen

Jomblo Itu Bebas

Foto: Bantaranews

Penulis: Riko Raden

Menjalani hidup dalam kesendirian alias jomblo terkadang memang nggak mudah apalagi ketika dihadapkan dengan berbagai pertanyaan misalnya,
“Sudah punya pacar?”
“Usia sudah matang kok belum nikah-nikah?”
dan berbagai pertanyaan lainnya yang bisa kamu anggap angin lalu, tapi juga membuatmu galau dan frustrasi. Nggak cuma di situ saja, terkadang melihat teman-temanmu sudah memiliki gandengan, bahkan pendamping hidup bikin tingkat kegalauanmu makin akut lalu rasa kesepian pula mulai melandamu. Tapi apakah kamu pernah berpikir hal apa yang membuatmu masih jomblo sampai sekarang. Dan apa yang membuat merasa sulit mendapatkan seseorang yang spesial untuk hidupmu.

Siti adalah seorang perempuan yang sampai sekarang belum ada pacar apa lagi tunangan. Ia hidup seorang diri alias jomblo. Sekarang ia berumur 26 tahun. Umur yang sangat matang dan sudah cocok untuk hidup berkeluarga. Orang tuanya agak heran dan penuh tanya tentang Siti. Pada hal Siti sangat cantik tidak kalah dengan si Luna Maya walaupun sampai sekarang mbak Luna masih hidup jomblo. Juga teman-teman perempuan dan laki-laki yang selalu ada bersamanya saban hari selalu bertanya kapan ia mengakhiri masa lajangnya. Teman-temannya pernah memberitahukan kepada Siti bahwa hidup tanpa seorang pacar itu bagaikan siang tanpa sinar matahari dan malam tanpa bulan. Semuanya sunyi dan sepi. Dan hidup seperti angin berlalu. Tanpa ada makna. Teman-teman pernah menceritakan kepada Siti bahwa ada seseorang yang ingin dekat dengan hatinya, agar Siti tidak merasa kesepian. Teman-temannya sangat cemas apabila Siti nanti terus hidup seorang diri alias jomblo. Mereka takut sampai umur 30-an, Siti juga belum nikah. Nasehat atau masukan dari teman-temannya, hanya dibalas dengan senyum.

“Aku masih betah hidup seperti ini (jomblo).” jawabnya.
Dalam hatinya, Siti mengatakan bahwa umur tidak menentukan apakah seseorang sudah dewasa atau belum khususnya dengan pasangannya. Ia masih ingin mencintai dirinya sendiri. Ia ingin bebas tanpa ada orang lain yang mengintarinya. Bagi Siti, jika pernikahan tidak dilakukan dengan kematangan jiwa, dikhawatirkan yang terjadi hanyalah upaya pencegahan dari perbuatan maksiat, namun tidak disertai dengan visi yang kuat tentang bangunan rumah tangga. Siti sangat takut dan cemas apabila pasangan yang menikahinya tidak memiliki fondasi jiwa yang matang khususnya membangun jiwa Siti dan rumah tangga ke arah yang lebih baik. Ia lebih takut apabila pasangannya belum cukup memiliki jiwa kebapaan dan rasa tanggung jawab untuk memimpin keluarga, apalagi menanggung beban-beban rumah tangga yang tidak sederhana. Bagi Siti, nikah bukan soal menyalurkan hasrat biologis atau membuat orang tua senang, namun lebih dari itu, pernikahan adalah sesuatu yang mulia untuk membangun keluarga dengan segala peran yang ada di dalamnya. Siti rupanya belajar dari cara hidup Socrates.
Ia ingin bebas mengungkapkan ide dan cara hidupnya tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Ia ingin bergaul dengan siapa saja, menukar ide dan berdiskusi tentang banyak hal. Dengan itu, hidup Siti sangat bebas. Akan tetapi, Siti sebenarnya tidak boleh mengikuti cara hidup dari filsuf Athena ini karena semasa hidupnya, Socrates tidak pernah ada rasa tertarik dengan lawan jenis ( ia hanya bergulat dengan hidupnya sendiri dan membantu meluruskan ide orang lain yang tersesat). Apalagi zaman sekarang tentu beda dengan zaman Socrates. Ke mana-mana harus dengan pasangan. Jika kita berpergian ke tempat umum, misalnya taman kota, orang lain akan mengatakan bahwa kita tidak normal. Sebab taman kota diidentikan dengan taman pacaran. Malu juga kalau kita ke sana hanya seorang diri. Entahlah, intinya Siti bahagia dengan hidupnya. Entah Orang lain mengatakan bahwa dia tidak normal atau sejenis, yang penting Siti bebas dengan pilihan hidupnya.

Baca Juga :   Balada-Balada "Yeshua"

Saat ini, Siti sedang berada di kota Ruteng. Salah satu kota terdingin di daratan Flores bahkan NTT. Siti masih hidup seorang diri alias jomblo. Sekarang ia berumur 28 tahun. Orang tuanya sudah meninggal dunia. Di rumah hanya Siti dan adik bungsunya. Walaupun orang tuanya sudah meninggal dunia, Siti tetap setia dengan hidup seorang diri. Ada banyak laki-laki datang ke rumah dan ingin meminang hatinya, tapi Siti selalu menolak. Ia selalu memberikan alasan bahwa untuk sekarang ia masih ingin menyendiri.

Baca Juga :   Frater. Salahkah Aku mencintaimu ?

Laki-laki tersebut pulang dengan sejuta rasa penyesalan karena cinta mereka selalu ditolak, bahkan ada yang frustrasi, hilang nafsu makan dan beberapa di antaranya mencoba untuk bunuh diri. Sebegitu besarkah cinta mereka kepada Siti?.
Suatu hari, aku pergi ke rumah Siti. Sebagai keluarga wajib mengunjungi sesama. Atau dalam bahasa Manggarai “ngo lejong agu ase ka’e”. Supaya keluarga tetap kuat dan harmonis. Bapakku cerita bahwa Siti punya bapak masih status adik-kakak kandung. Bapaknya Siti sebagai kakak, sedangkan bapakku status adik. Makanya aku dan Siti sedikit mirip dari segi wajah. Hanya Siti dan keluarganya tinggal di kota sedangkan kami masih menjaga tanah kelahiran nenek moyang alis tinggal di kampung. Setiap akhir pekan, aku bersama keluarga selalu mengunjungi rumah Siti, biar hanya semalam, namun cukup untuk kami menceritakan pengalaman hidup selama kami tinggal di kampung dan keluarganya Siti yang di kota. Begitu indah dan bermakna apabila dalam hidup kita selalu berbagi pengalaman dari orang lain atau keluarga sendiri.
Sesampainya di rumah Siti, aku melihatnya sedang duduk di sebuah kursi. Ia duduk berhadapan dengan Gereja Katedral Ruteng. Maklum karena jarak rumah mereka sangat dekat dengan gereja ini. “Silakan masuk nana.” Katanya pelan.

Tak lama kemudian, Siti mengambil sebuah kursi dekatnya lalu diletakan di sampingnya. Dari rumah Siti, sangat indah apabila melihat orang-orang yang sedang asik berfoto-foto di taman gereja itu. Ada yang foto sesama perempuan, ada juga yang foto dengan pasangan mereka. Sungguh ramai sekali di tempat ini. “Enu, setiap sore selalu ramai begitu ka? Maksudnya orang-orang itu selalu datang foto di gereja itu.” Kataku sambil menunjuk ke arah gereja.

Aku melihat Siti juga sedang menikmati pemandangan yang sama. Ia sedikit senyum. Ia tidak tahu bahwa aku berrtanya kepadanya. Ia hanya senyum tanpa menoleh ke arahku.
“Aduh nana, minta maaf. Tadi tanya tentang apa?” Ia sadar dan kaget. Rupanya ia tidak dengar perkatanku tadi. Baiklah aku coba lagi bertanya tapi kali ini bertanya perihal mengapa ia belum nikah. Kataku dalam hati.
“Begini tadi enu. Kataku pelan. Mengapa sampai sekarang enu belum nikah?” Ia sedikit kaget dengan pertanyaanku. Aku melihat ada keraguan dalam dirinya menjawab pertanyaanku. Ia coba menarik nafas pelan-pelan.

Baca Juga :   Aku Mencintainya dalam Diam

“Begini nana. Katanya pelan. Dulu aku pernah jatuh cinta dengan seseorang. Kami dua saling mencintai. Kami pernah berjanji untuk tidak akan menyakiti satu sama lain. Dan apabila Tuhan merestui hubungan kami maka, kami berjanji untuk hidup semati. Dia sangat baik. Aku melihat bahwa dirinya yang kunanti selama ini. Dia bertanggung jawab atas hidupku dan anakku nanti.
“Terima kasih enu.” Jawabku singkat dengan nada halus.

Tapi rupanya Tuhan tidak mendengar isi hatiku. Tuhan mengambilnya dengan cara yang tidak pernah kuduga. Pacarku mati setelah ditabrak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Aku sangat terpukul dengan kepergiannya. Setelah pacarku meninggal, aku berjanji untuk hidup seorang diri. Aku ingin hidup jomblo seperti dia di alam sana tidur tanpa ada yang ditemani. Aku hidup untuknya.”
Tiba-tiba air matanya mengalir pelan membasai pipinya yang bening. Ia senyum dan berkata, “Nana, hidup tanpa pasangan alias jomblo itu bebas. Lihat saja aku sekarang, ke mana-mana tidak ada yang melarang. Ingin pergi keluar malam untuk mengikuti diskusi atau bertamu ke rumah teman, tanpa ada yang melarang. Hati senang walau tak punya pasangan. Cinta itu hanya halusinasi semata. Ia datang lalu pergi. Yang tinggal hanyalah kenangan yang kadang menyakitkan. Bagiku semua hari sama, baik senin maupun sabtu, aku tetap sendiri dan sendiri hanya bisa merenungi sepi.” Tiba-tiba Siti mengajakku untuk masuk ke dalam ruangan tamu karena adik bungsunya sudah menyiapkan kopi pahit ala Manggarai.

*Riko Raden, tinggal di unit St. Rafael Ledalero. Ia menulis cerpen ini saat dirinya sedang duduk di dapur sambil menikmati kopi pahit.

Editor: Waldus Budiman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button