cerpenSastra

Ini Aku

Oleh: Bernardus T Beding

(Penikmat Sastra)

Gelap gulita mencekam sukma menggerogoti hari esok yang selama ini diperjuangkan Os dengan susah payah. Sekat masa depan yang penuh ceria telah habis tergusur oleh gosip anak manusia yang cerewet. Gila kuasa, gila uang, gila seks. Hati polos Os tersobek, kalbunya terus membatin. Perjalanan hidupnya jadi imam sirnalah sudah. Prospek masa depan terpampang beberapa tanda tanya besar. Hati kecilnya bergumam pada Yang Maha Kuasa.

“Tuhan, apakah jalan panggilanku ini buntu? Apakah ziarah menelusuri jalan ini hanyalah tameng yang membuat keluargaku senang? Tidak! Tidak!”

Os diam beberapa saat.

Begitulah Os mengadu pada Dia yang selama ini ia kejar. Ia menerawang jauh menembus plafon kamarnya. Ia begitu gelisah dan cemas ketika menemukan suatu persoalan yang menyelubungi panggilan hidupnya. Ia meneteskan air mata perjuangannya. Keringat meleleh dari pori-pori tubuh kurusnya yang sudah lama termakan kelaparan.

Baca Juga :   Puisi-Puisi Wandro J. Haman

Dalam keadaan yang demikian, entah bagaimana, Os kemudian menemukan suatu respek jalan keluar demi pembebasan dirinya dari keterpurukan jalan hidup jadi imam.

Ia bangkit dari tempat duduknya sembari menepis butir-butir peluh yang terus mengalir dari dahi lebarnya. Mengemas buku-buku dan barang-barangnya yang lain untuk minggat dari medan bakti. Semua barang terpaksa rapi. Program-program hidupnya yang tertempel pada papan jadwal ia sobek berkeping-keping. Dalam hati, Os mengucapkan selamat jalan, selamat jalan, selamat tinggal semuanya.

Ijazah dan sertifikat yang ia peroleh selama ini tak ketinggalan dibawa pulang ke kampung halaman idamannya. Orientasi masa depannya yang baru ia teguhkan dalam kesunyian kamar tidurnya, yang disaksikan oleh tumpukan barang-barang dan pandangan arca Yesus tersalib yang terpampang pada dinding bisu. Walaupun demikian, sesekali Os memandang selembar potret sahabat dekatnya yang tersenyum simpul seakan-akan memberikan motivasi untuk merancang rencana hidup di luar biara.

Baca Juga :   Tatap Muka

Hanya terima kasih dan maaf, serta doa yang Os titipkan pada kuping-kuping sesamanya dalam komunitas.

Os tergontai-gontai menelusuri lorong biara menuju kamarnya. Ia menjinjing barangnya mendekati bus yang telah lama menunggunya. Langkah berat dan rasa hati yang sepi serta remuk menemani Os. Tak seorang pembina yang menghantarnya.

“Sungguh edan betul zaman ini,” bisik hati Os. “Biarlah kupergi mencari hidup yang baru. Karena inilah keputusanku, dan keputusanku ini adalah pilihanku. Pilihanku adalah jalanku,” tegas niat Os menatap para frater yang heran-heran memandang kepergian Os.

Bis pun perlahan melaju lalu menghilang. Air mata Os membasahi kedua pipinya. Hati yang suci terasa hancur luruh. Rasa gelisah dan cemas mengiringi kepergian seorang cendekiawan muda. Os merasa suasana batinnya seolah-olah terlempar jauh ke dalam alam luas. Bola mata semua orang yang berada dalam bus memandang sinis penuh curiga. Os diam membisu memandang jauh ke depan. Musik yang dibuka abang sopir mengiringi deraian air mata kedukaan Os.

Baca Juga :   Sepintas Rindu

Saat-saat inilah ia merasakan kesendirian walau hanya sebentar saja. Tubuh gemetar. Jiwanya luluh beremah-remah menanti pencerahan baru dari sang surya untuk melangkah pasti menembusi realitas hidup sebagai awam.

Kegelapan dan hiruk-pikuk bus malam di kota dingin seribu Gereja di Ruteng menjemput Os. Seakan-akan memanggil Os untuk mengadu nasib.

Walaupun dalam hati yang kering kerontang dan kegelisahan jiwa, Os tetap optimis untuk menembusi realitas sembari bersandar pada Dia yang pernah memanggilnya.

Realitas pengangguran dan kemacetan ekonomi dalam desain struktur Indonesia akan ia hadapi. Supremasi hukum yang mandek akan ia tantang dalam hidupnya. Orang-orang pinggiran yang lupa dibiayai hidup oleh Negara akan menjadi subjek yang berharga bersama Os untuk menjemput hari kebahagiaan. Itulah optimisme hidupnya, niat sucinya bila hidup bersama masyarakat. Yah, ini aku.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button