cerpen

Ibu Pergi dalam Gegas yang Tak Sempat Kukemas

Foto:Locita.co

Penulis: Riko Raden

Angin malam yang biasa dikenal sebagai penyebab badan tidak nyaman karena masuk angin, biasanya tidak kusukai. Apalagi angin malam yang datang mengandung tanya, mengandung kata , yang pada akhirnya terpenjara dalam sunyi. Lalu diam. Tapi untuk kali ini, angin malam yang dingin akan membuat aku merasa menikmati alunan riuh angin lewat bunyian piano dari sebuah kapela dekat kamar tidurku. Aku sangat suka menikmati bunyi piano itu walau aku sendiri tidak tahu bermain piano.

Angin malam yang dingin tak selamanya hembusannya mendinginkan, buktinya bersama bunyian piano itu aku semakin gairah untuk merawat ingatan yang pernah hadir dalam sajak-sajak hidup ini. Semakin lama aku menikmati bunyi piano, semakin kuat dalam ingatanku perihal akan wajah seseorang. Wajah yang selalu membuatku tetap tersenyum. Juga matanya tampak sayup, lembut bak embun pagi yang melahirkan sejuta kiasan pada malam ini. Dia adalah ibuku. Aku ada karena dia. Dia ada untukku.

“Apakah ini malam tentang sejuta kenangan bersamanya? Ohh, ibu. Seandainya engkau ada di sini, lembaran kusam ini pasti kutulis penuh dengan sejuta senyummu. Mengingatmu pada tiang-tiang falsafaku, memberikan secuil kisah pada hati yang galau, memberikan mimpi pada mata yang terlelap malam.” Kataku dalam hati sembari terus menikmati bunyi piano itu.

Malam semakin larut. Bunyian piano berhenti. Bulan seakan-akan enggan menampakkan dirinya. Dan bintang-bintang pun sembunyi disecehan awan yang hitam. Cakrawala malam pun terus mencekam sepi. Sekarang di dalam kamar ini, yang kudengar hanyalah hembusan angin yang penuh birahi. Tubuhku rasanya dingin. Sungguh dingin.

Pada malam yang semakin sunyi ini, aku meratap, menangis dan menarik aku pada memoar akan paras seorang ibu. Aku teringat kembali kenangan bersama ibu di rumah sederhana itu. Ibu selalu memberikan aku kekuatan saat rembulan tidak menyinari rumah kami. Ibu selalu memberikan aku tempat yang nyaman saat matahari membakar rumah kami, ibulah yang selalu menuntun aku ke jalan yang benar. Kini semua telah sirna dari hadapanku. Ibu telah meninggalkan aku setahun yang lalu. Kepergiannya membuat hidupku terus merana tanpa arah. Aku hanya seorang diri, sebatang kara. Aku tak tahu entah sampai kapan aku hidup sendirian tanpa seorang ibu. Mungkin sang kalik telah menentukan hidupku seperti ini karena hanya Dialah yang tahu rahasia hidup manusia. Ibu meninggal mungkin Dia telah mencintainya. Jujur saja, hingga kini aku tak mengerti dan terus bertanya. Mengapa Tuhan memanggil ibu setahun yang lalu kala rembulan malam tidak menyinari rumah kami. Aku begitu terkejut apalagi melihat ibu terbaring di tanah pada tengah malam. Aku berlari dari kamar tidur membawa lampu pelita, aku pikir saat itu mata ibu terbuka untuk melihatku, namun tetap saja ibu telah meninggal dunia dalam rumah yang gelap. Barangkali, ibu meninggal dunia karena kecewa, aku tidak memberikan jawaban atas pertanyaannya. Entahlah! Sungguh aku tak tahu, karena dia pergi tanpa meninggalkan pesan pun kesan. Hanya kenangan yang tersisa. Pahit terasa seperti empedu saat ibu meninggalkan aku dalam rumah sederhana ini. Ibu telah pergi dalam gegas yang tak sempat kukemas dan rindu dalam yang masih menggemas.

Baca Juga :   Empo Rua

Setelah kepergiaan ibu, malam-malamku diliputi kesunyian. Aku sering menatap langit malam. Aku berharap akan melihat ibu pada langit malam itu. Aku sangat merindukan tatapannya yang menyegarkan jiwa ragaku. Ibu telah pergi dengan membawa kenangan yang pernah kami rajut di rumah sederhana ini. Aku tak tahu apakah dia masih menyimpan semua kenangan kebersamaan kami. Semoga saja ibu tidak melupakan semua kenangan itu walau dia berada di surga. Karena dia pernah berkata bahwa semua kenangan kami tak pernah dilupakan, entah di mana atau sampai kapan pun tidak akan dilupakan.

Baca Juga :   Jomblo Itu Bebas

Di kamar sumpek ini aku sepi sendiri, duduk termenung menggoreskan sebuah curahan hati untuk ibu yang telah meninggalkan aku selamanya. Kadang aku merindukan elusan tangannya yang selalu memberikan kehangatan pada ubunku. Kebiassaan kami sebelum istirahat malam selalu diselingi dongeng seorang pencuri yang sering berjalan di tengah malam. Pada setiap kata ataupun kalimat pasti ada kata ‘bunuh’ sehingga membuatku takut. Aku merangkum tubuh ibu saat dia terus mengisahkan dongeng seorang pencuri ini. Tubuh yang selalu memberikan kehangatan membuatku merasa aman walau ibu terus mengisahkan dongeng seorang pencuri yang pada akhirnya dibunuh oleh warga kampung karena dia telah mencuri beras salah seorang warga di kampung. Setiap kali ibu mengisahkan dongeng selalu saja ada pesan tersendiri untukku. Kadang dia menulis pesan lewat kertas usang, juga secara spontan dari mulut manisnya.

Tapi kenangan itu terhanyut oleh derai air mata yang membanjiri. Kenangan itu sudah terbakar oleh kilat dan semuanya lenyap. Sekarang malamku gelap. Rembulan tempat aku memandang paras pasi kini telah dirundung duka. Dia menangis dan air matanya menjelma dalam air hujan. Dan paras seorang ibu pun tak kunjung datang. Aku menjadi sedih. Aku tak bisa menatap dan memeluk ibu lagi.

Baca Juga :   Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Malam semakin larut, kesepian terus menemaniku. Sebatang lilin yang selalu menyinari kamar sumpekku seakan-akan tahu akan isi hatiku. Hembusan angin malam semakin menyengat terasa. Badanku mulai terasa dingin. Aku sesekali mengambil sarung yang pernah ibu pakai saat melawat orang mati di kampung .

Diintip cahaya bintang malam yang tak seberapa, aku sempat melihat foto ibu yang pernah ia sembunyikan karena takut aku melihat wajahnya yang tidak sebanding dengan paras para artis di negeriku yang semakin hari semakin cantik. Sedangkan, ibu semakin hari semakin keriput karena terus dibakar sinar sang surya. Tapi bagiku, ibu sangat cantik. Dia wanita pertama yang membuatku tahu arti cantik pada diri seorang perempuan.

Aku melihat lilin yang selalu menyinari kamar sumpekku pelan-pelan mulai sayup. Lewat hembusan angin malam yang lembut tapi menyengat aku titipkan buat ibu sebuah kidung tanpa nada:
”Ibu jangan pernah melupakan aku saat engkau berada di surga, kelak aku juga akan berada di sana nanti. Aku sangat merindukan tatapanmu! Tatapanmulah yang menuntun langkahku menuju rumah Bapa di Surga! Dalam tatapanmu aku melihat cahaya yang menerangi dan menyejukkan hati ini.”
“Selamat malam ibu. Aku tetap setia mendoakanmu.” Kataku dalam hati. Angin malam diam serupa patung. Malam pun semakin larut. Gelap.

*Riko Raden, penghuni unti St. Rafael Ledalero. Ia menulis cerpen ini saat dirinya sedang menikmati malam minggu di sebuah kamar tidurnya. Ia bisa menulis sesuatu apabila ia terlebih dahulu menjadi dirinya sendiri.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button