cerpen

Ibu Belum Ada Puisi

Foto:myworld.blogspot

Penulis: Chan Setu

Kujumpai banyak massa yang berbondong-bondong di luar sana. Ramai massa yang hilir-mudik ke sana-ke mari. Menjumpai anak-anak mereka dengan segala aura bahagia. Sedang, di pojok panggung, depan lapangan sepak bola kecamatan kami, aku menatap nanar ribuan orangtua dari sekian banyak anak-anak yang berlari, bermain kejar-kejaran sambil menangkap dan memeluk mereka erat-erat. Ada air mata yang jatuh tak terbendung, ada pula kesendirian yang tak dapat diberi kata untuk cerita. Hari ini, hari dimana aku dan sebagian teman—teman sebayaku menata diri dalam lomba membaca puisi tingkat kecamatan.

Di depan sana, ada seorang anak perempuan dengan baju gaun putih yang menawan, berselendang merah, menebar senyum ke sana-ke mari, sambil rambutnya yang dibiarkan lurus tergerai tak terikat mengibas manis pada bibirnya yang tersungging lesung di kedua pipihnya yang mulai merah meronah. Bukan karena malu melainkan karena teriakkan massa yang penuh gairah bersorak memberi semangat dan motivasi baginya. Dengan lantang ia membaca puisinya yang berjudul Air Mata. Aku mendengarnya dengan sembab di kedua bola mataku, air itu mengalir disepanjang got pori-pori hidungku. Satu per satu jatuh di atas kakiku.

Air mata: aku tak pernah mengundangnya bertamu
Aku tak pernah memaksanya bercinta bahkan bersetubuh
Ia datang menyelinap pada spion-spion kehidupanku membentuk diri pada spionase
Saban hari, aku bertanya pada tubuh: “bu, mengapa kamu menggeliat geli bahkan kau tak tahu betapa hatiku gerah dan gelisah dipapar oleh ribuan nyeri yang menggerogoti pori-pori kulitku?”
Kau mengabaikan aku, memberi jawaban tanpa benar-benar menjawabnya
Apakah aku pernah salah padamu air mata
Kau jatuh, kau terpelanting
Kau gugur, Kau membuatku sembab
Kau membuatku tak berdaya
Kau mencuri airku dan membuat mataku sakit
Kau memaksa mataku berair dan air mataku malu tersipu sembab nun merah
Ah tubuh, mataku telah berair atau air mataku telah berair
Keduanya sama dan aku tak menangis
Hanya air mataku saja yang menangis panjang.

Terima kasih. Tepukkan tangan mengelegar panjang, disorak dengan senduh yang belum usai dilepaskan. Massa saling berbisik, saling menanyakan kepada siapa anak ini belajar menulis puisi? Kepada siapa anak ini melatih membaca puisi? Berbagai kata keluar membentuk beribu-ribu pertanyaan. Dan aku, aku tertegun dengan gairah ingin mengenalnya lebih dekat. Jauh dalam pikiranku, aku berkhayal untuk saban hari, aku ingin menulis puisi tentang “Gaun Seorang Wanita yang Disorakki.” Batinku saja.

Baca Juga :   Merawat Jalan Sunyi

Sedang, aku berasumsi lebih jauh dengan pikiranku sendiri. Di tengah-tengah lapangan, dari mikrofon yang bergaung – bertalu memanggil namaku berkali-kali bahkan aku tak yakin akan kedengaran yang semu. Angin, menyadarkan aku dari imajinasi gadis itu. Namaku sekali lagi dipanggil-panggil. Mungkinkah angin benar, namaku yang dipanggil itu? Kucoba menghilangkan ilusi tentang gadis bergaun putih itu. Mencoba mencium harum dari selendang merah ranum yang sempat terekam dalam mataku dan bukan pada ingatanku. Sekali lagi kami panggil peserta atas nama Muniarwan untuk segera naik ke atas panggung. Itu namaku. Nama yang tak kutahu dari mana asal-asulnya. Aku terlalu akrab dengan nama itu. Saking akrab aku tak yakin namaku punya sejarah. Sambil berpikir tentang nama yang diberikan tanpa asal-usul itu, aku menlangkahkan kaki dengan mencoba untuk lebih santai – lebih rileks. Seperti amarah, massa menyorakki aku dengan teriakkan uhhhhuhhhhhhuhhhhh ada kebencian, ada kebosanan yang panjang dari waktu yang membiarkan kaki mereka berdiri menunggu aku untuk menampakkan diri, bukan untuk mendengarkan aku membacakan puisi. Ketika, master of ceremony membaca kembali namaku dengan keterangan akan mendiskualifikasikan aku dari ajang lomba tingkat kecamatan ini. Aku mulai berlari dan menghampiri miskrofon itu dengan nafas tersengal-sengal, hal pertama yang kuucupkan adalah permohonan maaf kepada massa yang mulai tak sabaran untuk melanjutkan lomba tersebut. Ada teriakkan lagi dari massa itu, teriakkan kebencian, teriakkan kebosanan akibat waktu yang membiarkan mereka menunggu. Tak ada sorak-sorai penyemangat untukku, tidak sperti gadis itu. Dan aku menyadari, aku bukan siapa-siapa. Bahkan puisi yang akan kubacakan bukan sebuah puisi yang bisa menyempurnakan puisi gadis bergaun putih itu. Untuk kesekian kalinya lagi, kucium aroma selendang itu dengan akrab. Ada aroma motivasi pun ada matanya yang menatapku dengan hasrat untuk mendengarkan puisiku. Semoga saja. “Bantinku dalam hati.”

Baca Juga :   Karya-Karya SMP Negeri 4 Lembor (2)

Perkenalkan namaku Muniarwan. Nama lengkapnya Muniarwan Muri. Sebelumnya, mohon maaf untuk keterlambatan saya yang membuat kalian gerah hingga menunggu sampai bosan.

Dan pada kesempatan ini, ijinkan saya untuk membacakan sebuah puisi yang berjudul Ibu Belum Ada Puisi. Selamat menikmati!
Ibu Belum Ada Puisi
Dan, untuk yang kesekian kalinya, Ibu itu menjawab Nak, ibu belum ada puisi.

Saban hari, ketika riak-riak jalan ditelanjangi oleh hujan yang mampir dengan amarah kian meledak dari para pekerja rupiahwan.
Di gubuk kecil jauh dari perkampungan, sehimpun keluarga menitih kemiri yang baru dipungut dari tanah-tanah kering yang kini basah
Ada tawa, ada riah, ada canda, ada gairah, ada perih, ada lelah, ada cerita
Dan yang diingat hanyalah kenangan.
Tak ada mimpi, tak ada pula kisah
Lebur dalam kesedihan panjang di hadapan lilin-lilin yang berserakkan
Ada amarah, ada sesal, ada kecurigaan, ada nafsu, ada balas dendam
Tinggal air mata jadi berantakkan, mencibir, dan tak bisa berbuat apa-apa selain menanyakan “ibu, masih ingat dengan permintaanku kemarin sore?”
Ibu, tak menjawab, tak ada mulut yang bergumam, tak ada tangan yang mengiyakan bahkan tak ada banyangan yang bisa menwujudkannya.
Tubuh itu kaku, berbaring lemas, tanpa nafas pun tanpa nafsu
Di sudut ruangan 3 kali 4, ada seorang pria yang pergi nelangsa dalam pikirannya
Membincangkan kenangan dan membaca air mata yang terkenang
Di sudut lain, ada laki-laki muda yang terisak sambil tersungut-menyungut
Membaca doa yang dikenang setiap embun bertamu di halaman rumah
Pada sudut yang lain, di dua sisi yang lain dua bocah perempuan membakar tawa dalam merontah
Menulis cerita dan menyanyikan lagu
Pada tubuh yang kaku tak berdaya, tanpa nafas pun tanpa nada
Aku mengatakan “Ibu, mana puisi yang kuminta kemarin.”
Teriakku berkali-kali, memecahkan kuping yang tuli oleh air mata, memanggil kembali kenangan yang tercecer – berserakkan di atas makam yang nisannya tertulis “Nak, Ibu belum ada puisi.”
Amarahku membaca dan nafasku mengutuk air mata, kenangan yang kemarin
Ditanyakann berulang kali dan dijawab dengan satu kata
“Nak, bapa dititip ibumu untuk mengatakan. Ibu Belum ada Puisi.”
Kakakku laki-kali: Dik, kakak diberi doa ibu untuk mengatakan Ibu, Meninggalkan Air matanya di kepalamu.”
Adikku perumpuan: Kak, kami diberi kenangan ibu untuk mengatakan “Ibu, tidak pernah mengajarkan Kakak, menulis puisi” dan kata ibu: “yang mengajarkan kakak menulis puisi adalah air mata kakak sendiri.”
Nak, sampai jumpa di puisimu ini.

Terima kasih. Tak ada tepukkan tangan, tak ada sorak-sorai, tak ada teriakkan, tak ada lagi suara-suara gaduh selain anak-anak kecil yang meronta dibelikan manisan dan anak-anak balita yang merajuk meminta ibunya untuk menetekkan air susunya. Dan aku, terdiam, terpaku. Air mataku sudah sejak 15 menit yang lalu mengalir basah dengan hujan yang menemani suasana panggung ini. Kepalaku masih tertegun. Mataku masih sayup-sayup. Dan kakiku masih lemas. Sedang tanganku masih pada posisi salam. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya menghampiriku dari langkahnya yang kuhitung satu per satu hingga mendekatiku ada isak yang terdengar sama. “Apakah, mereka menangis? Menemaniku menangis? Atau mereka sedang bersandiwara dengan intermezzo yang mulai berakhir? Kuangkat kepalaku dengan tagak, mataku melahap rata seluruh hadirin di dalam panggung itu. Dan ada ribuan air mata yang tak terhitung jatuh basah di tanah juga di atas kaki-kaki mereka. Ada iba, ada sedih, ada resah ada doa yang ingin mereka sampaikan. Dan untuk ibu yang kuceritakan dalam puisi adalah ibu yang telah melahirkan aku dengan kematiannya yang tak pernah ditinggal selamanya: masih ada kenangan bersamanya. Terima kasih untukmu, ibuku. “Doaku dalam hati.”
Untuk terakhir kalinya, puisi ini kubacakan kepada ibuku. Ibu, ini puisi yang telah kau guruiku pada air mataku sendiri.
Terima kasih, bu.

Nita Pleat, 2020.

Penulis:
Chan Setu merupakan mahasiswa semester IV di STFK Ledalero. Dan saat ini menetap di Wisma Arnoldus Nita Pleat, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Maumere.

Editor: Edid Teresa

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button