Puisi

Hutan Manja Antologi Puisi Ardhi Ridwansyah

Terkaman cinta
Saat itu kuterbuai juga menikmati.
Sentuhan lembut manja menghiasi.
Tubuhku telah mati, cinta pun pergi,
Batin terkoyak, tersisa elegi.

(Ardhy Ridwansyah)

Hutan Manja

Hutan-hutan tempat burung,
Menekur, bersenandung,
Dalam rimbun daun syahdu,
Serta mata tatap senja,
Memekis waktu yang begitu sendu.

Sesekali lirih tangis dari akar yang rapuh,
Berbisik pada tanah kering dan kaku.
Meminta secercah cahaya pada mentari,
Yang terbenam di sudut hari.

Ada terakhir ia membelai,
Ranting-ranting yang genting,
Selepas air mata dari langit jiwa,
Menetes basahi batang nan tegar,
Menantang masa dengan nanar.

Jakarta, 2021

Baca Juga : Jangan Terhanyut Dalam Euforia Kemenangan
Baca Juga : PEREMPUAN: Kewajiban Keadaban Bersama

Terkaman Cinta

Gemulai angin datang,
Mengetuk pintu jiwa tertutup rapat,
Dalam batinku terasa gerah dan geram,
Menusuk hati yang perih diterkam cinta,

Cinta itu yang menyalak dan mengejar,
Aku yang berlari ke segala arah mata angin,
Dan aku tersungkur kala cinta menyergapku,
Dengan kata rindu, dengan janji manis,
Yang membuatku meringis.

Baca Juga :   Kumpulan Puisi Hams Hama

Saat itu kuterbuai juga menikmati.
Sentuhan lembut manja menghiasi.
Tubuhku telah mati, cinta pun pergi,
Batin terkoyak, tersisa elegi.

Jakarta, 2021

Baca Juga : Mengencani rindu hingga mampus di atas ranjang
Baca Juga : Senja itu kau menawarkan ribuan kata

Lubang Dalam Dada

Mata kaki berkenalan dengan matahari,
Sejengkal cahaya pagi menyapa,
Tanah yang lega telah lepas,
Dari gempuran hujan yang menyisakan,
Genangan penuh kenangan.

Kau dan aku dulu kerap tatap,
Lubang-lubang jalan menganga,
Lalu berkisah tentang lubang di hati,
Apa bisa kembali mengatup?

Lalu kita tertawa dan kala senja tiba,
Kita rintih bersama, rasakan derita,
Dari lubang yang membesar dalam dada,
Menyisakan hujan beraroma rindu,
Tiada kata namun ada air mata.

Jakarta, 2021

Baca Juga : Hilangnya mendung di langit rumah
Baca Juga : Frater. Salahkah Aku mencintaimu ?

Singgah Parasmu

Dari parasmu singgah,
Di lubuk hati dan bersimpuh,
Lantunkan sebuah lagu rapuh.

Dengan nada tersusun sendu,
Getarkan raga kering dan gersang,
Memantik jwa untuk belajar merasa,
Apa arti sebuah cinta tanpa adanya,
Tetes keringat dan air mata.

Baca Juga :   Cantik Itu Luka Antologi Puisi Kanis Rade

Yang basahi tanah-tanah kerontang.
Tumbuh bunga jelita menyapa,
Hari tak selalu ramah.

Jakarta, 2021

Baca Juga : Sajak Calon Jenazah Antologi Puisi Wandro J. Haman
Baca Juga : Jangan Dibaca Antologi Puisi Maxi L Sawung

Momen Kepulangan

Aku pulang bawa mentari,
Yang rekat di baju kusamku,
Aromanya menerkam hidung,
Dengan debu jalan dan janji,
Yang hanya sekadar kata,
Tanpa ditepati.

Lelah mataku, menatap waktu,
Di ruang tamu, jam dinding
Mengejek dengan suara,
Pada setiap detik; seolah mengingatkan,
Bahwa masa terus berjalan dengan tegas,
Sedang diri merangkak menanti ajal,
Datang dengan binal.

Jakarta, 2021

Baca Juga : Liku – Liku Politik Menuju Revolusi
Baca Juga : Bencana Alam Konsekuensi Sikap Skeptis dan Apatis Manusia

Gegar Otak

Gagal kepala ini mengingat,
Belai jemarimu bak ombak,
Di pesisir pantai, memantik,
Jari kaki rasakan sejuknya lautan.

Kucoba raba wajahmu,
Menulusuri waktu,
Memilah kenangan yang menumpuk,
Dalam dada ia bersemayam,

Baca Juga :   Kabar Pagi Antologi puisi Defri Sae

Namun tak jua lesung pipi,
Yang kuingat dan gincu merahmu,
Telah luntur dalam benak.
Mengalir sebagai darah dalam tubuh,
Seorang pecundang.

Jakarta, 2021

Ardhi Ridwansyah

“Penulis kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998, ini telah menulis berbagai media juga Tulisan esainya dimuat di islami.coterminalmojok.cotatkala.conyimpang.comnusantaranews.copucukmera.idibtimes.id., dan cerano.id. Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Puisinya juga dimuat di media seperti kawaca.comcatatanpringadi.comapajake.idmbludus.comkamianakpantai.com, literasikalbar, ruangtelisik, sudutkantin.comcakradunia.co, marewai, metafor.idscientia.id, LPM Pendapa, metamorfosa.comorfobiru.com, Majalah Kuntum, Radar Cirebon, Radar Malang, koran Minggu Pagi,  Harian Bhirawa, Dinamika News,  Harian SIB dan Harian BMR FOX. Penulis buku antologi puisi tunggal Lelaki yang Bersetubuh dengan Malam. Salah satu penyair terpilih dalam “Sayembara Manuskrip Puisi: Siapakah Jakarta”.   E-Mail: ardhir81@gmail.com, Instagram: @ardhigidaw, FB: Ardhi Ridwansyah, Whatsaap: 087819823958 .”


Artikel Terkait

Satu komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button