Opini

Hanya Karena Cemburu, Orang Bisa Saling Belah

Ilustrasi: medialampung

Oleh: Riko Raden

Voxntt pada 22/08/2020, menurunkan sebuah berita dengan judul “Termakan Api Cemburu, Pria di Ruteng Nekat Bacok Orang.” Kejadian nas ini terjadi di Perumnas, Kelurahan Compang Tuke, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dalam berita yang dirilis oleh media ini, kasus ini belum menemukan fakta yang benar tentang kecemburuan dari pihak pelaku. Saya secara pribadi tidak bisa mengklaimkan begitu saja kecemburuan dari pihak pelaku. Kalau saya mengatakan bahwa pelaku cemburu karena isterinya selingkuh dengan korban. Atau mungkin pelaku ada rasa dendam masa lalu dengan korban sehingga dia membacok korban dengan sebuah parang.

Jika kemungkinan yang kedua ini benar, berarti manusia sukar sekali memaafkan atau mengampuni sesamanya. Memang mengampuni atau memaafkan orang lain sangat sulit. Mengampuni tidak seperti membalik telapak tangan. Itupun kalau kita mengampuni orang lain. Dan lukanya masih bekas dan memang sulit untuk disembuhkan. Butuh waktu yang lama untuk menghilangkan luka itu.

Namun prasangka-prasangka di atas, mungkin tidak benar. Sebab media sendiri juga belum menemukan fakta yang benar tentang kasus ini. Dan saya pun tidak bisa mengklaimkan begitu saja atas kasus itu. Saya tahu bahwa menulis opini di media masa bukan hanya menuangkan ide-ide tapi juga butuh fakta dan data yang solid. Menulis di media masa harus disertakan dengan fakta agar para pembaca bisa mengerti bahwa tulisan kita benar-benar terjadi. Terkait masalah cemburu di atas, hanya korban dan pelaku saja yang tahu.

Baca Juga :   Memperkenalkan Pemikiran Jürgen Habermas

Dalam kasus di atas, saya boleh mengatakan bahwa cemburu adalah sikap iri hati dan kecurigaan manusia terhadap sesamanya. Manusia melihat sesamanya sebagai musuh benyutan yang tidak akan pernah diselesaikan dengan akal sehat manusia. Bukan persaudaraan yang ingin dicapai, melain rasa iri hati di atas medan pertempuran dan siapa yang paling kuat. Rasa persaudaraan tidak ada sama sekali. Sikap lembut dalam dunia persaudaraan, berubah menjadi singa dan serigala, buas dan ganas.

Banyak yang bilang bahwa cemburu tanda sayang. Dalam hubungan pacaran atau pernikahan, rasa cemburu diperlukan agar kita semakin harmonis dengan pasangan. Sayangnya, rasa cemburu menimbulkan perasaan tidak nyaman pada kedua pihak yang menjalani hubungan. Dan rasa cemburu itu selalu ada dalam diri manusia selagi manusia itu masih hidup.
Namun tidak semua rasa cemburu yang dialami adalah sesuatu yang sehat.

Baca Juga :   Eksploitasi Konsumen, dan Paradigma Ambigu Masyarakat Moderen

Cemburu yang tidak sehat bisa muncul ketika perasaan tersebut begitu berlebihan dan mulai menimbulkan masalah di berbagai aspek kehidupan.

“Rasa cemburu yang berlebihan dan tidak dapat divalidasi dengan alasan cemburu tanda sayang”.

Justru rasa cemburu yang berlebihan terhadap orang lain bisa membawa luka atau korban seperti pada kasus di atas. Pelaku sudah tidak bisa mengontrol rasa cemburu dalam hatinya sehingga orang lain menjadi korban. Apabila pelaku sadar bahwa masih ada jalan lain untuk mengatasi masalah itu, mungkin tidak akan terjadi seperti itu.

Akan tetapi, karena pelaku tidak bisa tahan dengan nafsu cemburu itu, sehingga bisa mengorbankan orang lain.
Akhirnya, saya mau mengatakan bahwa cemburu tidak selamanya membawa rasa sayang atau semakin erat rasa persaudaraan. Rasa cemburu juga bisa menghancurkan relasi juga bisa mengorbankan orang lain. Rasa cemburu dalam kasus di atas, bukan hal yang biasa-biasa saja melainkan sudah termasuk dalam tindakan kekerasan terhadap orang lain.

Baca Juga :   Covid-19 dan Dampak Bagi Dunia Pendidikan di Indonesia

Api cemburu yang ada dalam diri pelaku telah membawa orang lain menjadi korban. Api cemburu itu, membuat pelaku bertanggung jawab terhadap perbuatannya. Api cemburu itu, membuat pelaku diidentikan dengan serigala yang tak pernah puas dengan nafsunya.

Kita belajar dari kasus di atas untuk tidak boleh cemburu berlebihan terhadap orang lain. Kita harus benar-benar memahami pada konteks yang ingin kita capai. Rasa cemburu berlebihan sampai melukai orang lain, bukanlah solusi yang tepat dari sebuah masalah. Ketika kita mengulurkan tangan untuk meminta maaf dan memberi maaf, maka sebenarnya saat itu kita sedang mengulurkan cinta. Meminta maaf berarti meminta kesediaan untuk membebaskan diri dari belenggu kertetakanan dan rasa cemburu. Berdamailah dengan sesama, selagi Tuhan memberikan kita hidup.

*Mahasiswa STFK Ledalero

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button