Opini

Globalisasi Media dan Komersialisasi Budaya Lokal

Konradus Budiman Nasu
(Mahasiswa STFK Ledalero, Tinggal di Ritapiret
)

Arus globalisasi telah mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat, terutama wajah budaya lokal. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi turut mempengaruhi eksistensi budaya lokal. Konteks NTT, tidak dapat dimungkiri, teknologi informasi memiliki andil dalam mempromosikan budaya lokal. Salah satu contoh ialah masyarakat pedalaman Wae Rebo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur yang telah mengubah wajahnya menjadi masyarakat global (global village) sebagai akibat dari globalisasi media. Media mengubah keprimitifannya sebagai sebuah ikon global.

Akibat arus globalisasi media memang sangat besar terhadap budaya lokal. Melalui media kontak budaya memberikan stimulus untuk menyadarkan dan memberikan informasi tentang keberadaan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal (local wisdom). Kontak budaya memberikan sumbangsih terhadap pengembangan nilai-nilai dan persepsi di kalangan masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Satu sisi, peran media yang berupaya mengglobalkan budaya lokal merupakan kebanggaan masyarakat dalam membuka sekat-sekat batas. Sisi lain, tidak dapat disembunyikan, nilai-nilai budaya lokal sudah digempur badai globalisasi. Hal ini diakibatkan oleh peran negara-negara penguasa teknologi sepeti Amerika, Jepang, China yang memiliki akses kendali dalam globalisasi media. Ini dibuktikan dengan kehadiran kesenian-kesenian budaya popular luar negeri yang dapat disaksikan dengan mudah di internet, bahkan sudah membaur dengan budaya lokal. Kondisi ini semakin membuat tersisihnya kesenian kebudayaan lokal di negeri ini, khususnya NTT.

Baca Juga :   Don Pande: Jiwa dan Dasar Pengabdian Orang Manggarai

Perubahan sosial akibat industrialisasi media dan globalisasi informasi, maka kesenian kebudayaan lokal NTT pun mengarah kepada dimensi yang bercorak komersial. Di Manggarai misalnya, tarian Caci semakin kehilangan nilai-nilai spiritual akibat kepentingan uang atau komersial. Media misalnya mendapat untung dengan melaporkan atau mempromosikan Caci kapan dan di mana pun. Sekarang di mana-mana orang bebas bermain Caci. Intinya ada kesepakatan dan dana dalam rangka kegiatan Caci atau dikomersialisasi untuk kepentingan pariwisata. Kendatipun demikian, globalisasi tidak menghilangkan semua budaya lokal di NTT. Ada beberapa kesenian yang masih menunjukan eksistensinya di tengah arus globalisasi. Tentu masing-masing daerah memiliki kesenian yang belum dibaluti oleh pengaruh-pengaruh luar.

Baca Juga :   Logical Fallacy on Epstimology

Namun tidak dapat dirahasiakan, globalisasi saat ini membongkar nilai-niali budaya lokal. Faktor dari luar berupa pengaruh dari kesenian budaya popular dan karya kesenian yang lebih modern dan masuk dalam budaya lokal. Sedangkan faktor dari dalam berupa minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya lokal sebagai penguat identitas bangsa. Di samping itu, peran pemerintah yang tidak menempatkan diri sebagai pelindung dan pengayom budaya lokal.

Arus globalisasi begitu pesat harus diantisipasi dengan memperkuat identitas kesenian kebudayaan lokal masyarakat NTT dan budaya nasional. Pada tataran tertentu pembinaan dan pengembangan budaya lokal yang dilakukan oleh lembaga pemerintah selama ini masih hanya sebatas pada fornmalitas saja, tanpa menyentuh esensi. Intinya bahwa perlu mengembalikan marwah dan nilai-nilai budaya lokal, sambil terbuka pada perkembangan zaman.

Baca Juga :   Manggarai Timur Rumah Kita Bersama

Budaya lokal tidak boleh tercerabut dari akar sejarahnya. Jika pemerintah menjadikan budaya lokal dalam rangka pengembangan pariwisata mestinya perlu diterapkan struktur-struktur yang tepat. Artinya pengembangan itu tidak memungkinkan terjadinya semacam komersialisasi, hanya berorientasi pada pendapatan. Pengembangan itu bukan hanya kepentingan turisme saja, melainkan lahir dari peradaban budaya serta mampu menampilkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Penting penyelarasan nilai-nilai itu di hadapan pesatnya perkembangan zaman. Akhirnya generasi penerus bisa menikmati dan menggali nilai-nilai yang terkandung di dalam budaya lokal itu. Untuk itu, perlu keseriusan pemerintah dalam mempertahankan budaya lokal ini dengan mengeluarkan peraturan daerah agar orang tidak sesuka hati membuat aksi-aksi budaya lokal, seperti tarian daerah. Intinya perlu pengilhaman nilai-nilai lokal dalam rangka pembentukan diri masyarakat. Jangan sampai kita terjebak dalam upaya mendapatkan keuntungan dengan mengkomersialisasi budaya sendiri.

Editor: Pepy Dain

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button