Opini

Food Estate dan Budaya Berkerumun

Di beberapa hari yang lalu, seorang ibu berstatus guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) datang memberi kabar melalui handphon. Ia bercerita banyak tentang situasi terkini di daerahnya khususnya euforial kehadiran Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, banyak anakan padi terinjak di lahan sawah kepunyaan saudaranya. Asyiknya, kejadian itu tidak membuat mereka marah. Malah ada kesan “bangga” ketika Jokowi boleh melintasi pematang sawah mereka di sana. Di Kabupaten Sumba Tengah. Mungkin pertama dalam sejarah berdirinya bangsa ini. Jejak kaki seorang presiden bakal menua dalam cerita yang tidak bakal pernah selesai.

Baca Juga :   Kaum Muda Harapan Bangsa

Baca Juga : Fragen Jingga Antologi Puisi Venansius Patrick Padu
Baca juga : Puisi Lelaki Senja

Di saat begini, saya sudah memutuskan menyediakan waktu lebih banyak bercengkerama bersama para guru untuk menggali banyak informasi dan situasi di sekolah khusunya dalam hal Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Ada yang mengeluh tetapi tidak sedikit yang berkomentar santai dan cenderung optimis bahwa beginilah pendidikan ke depannya.

Baca Juga :   Refleksi HUT ke- 75 RI, Di Tengah Pandemic Covid 19

Para guru akhirnya berani keluar dari zona nyaman dan membangun lumbung pengetahuan lebih banyak dari biasanya. Hanya dengan demikian, posisi guru bakal tetap eksis dan tertanam kuat di hati dan pikiran peserta didik. Generasi emas NTT 2050. Di titik ini, saya tersenyum bangga. Para guru di ini NTT sudah mampu berpikir dan berkreasi melampaui semua situasi dan kesulitan. Tidak mengeluh dan tetap optimis, itu sudah cukup.

“Saya sudah menulis. Ada beberapa modul dan artikel ilmiah populer. Saya mau tulis PTK, tetapi apakah mungkin bisa di tengah situasi pandemi begini. Itu yang mau saya konsultasikan. Oh ya? Ada banyak salam dan ucapan terima kasih dan kawan-kawan guru. Kami sudah mulai menulis. Yah, seperti yang pak pernah sampaikan, menulis adalah cara untuk menyelamatkan wajah. Berpikirlah agar kualitasmu melampaui komodo”, ujarnya sambil terkekeh.

Baca Juga :   Mengendus Fenomena Demokrasi Cukong

Baca Juga : Doamu Mantra Pelindung Antologi Puisi Veer Lado
Baca Juga : Mawarku Antologi puisi Edy Feliks Hatam

1 2 3 4Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button