Opini

Filosofi Orang India dalam Mencari Makna Hidup

Foto: Wikipedia.id

Penulis : Dionisius Bei
(Mahasiswa STFT Widya Sasana)

Pencarian seluruh filsafat India adalah pencarian akan suatu kebenaran tertinggi yang mengantar manusia pada pembebasan penderitaan dan pencapaian kebahagian terdalam. Berangkat dari pengalaman indrawi bahwa segala sesuatu ada yang eksistensi dan non-eksistensi, pasti ada sesuatu yang lebih tinggi, yakni absolut. Filsafat India ingin mengantar manusia mengerti lebih jauh tentang makna eksistensi tertinggi dari keberadaanya. Melaui kedua kitab yang besar dalam filsafat india, yakni Kitab Veda dan Kitab Upanishad, akhirnya para filsuf india menemukan bahwa kebenaran tertinggi dari semua pencarian adalah Brahman. Dan realitas tertinggi ini mengaktualisasikan dirinya dalam esensi terdalam jiwa manusia, yakni Atman. Dalam penulisan ini, penulis akan melakukan pencarian mendalam tentang eksistensi tertinggi dari Brahaman dan Atman dalam Kitab Veda dan Kitab Upanishad. Penulis ingin menemukan nilai-nilai filosofis dari Brahman dan Atman dari kedua kitab tersebut.

Kitab Veda

Kitab Veda adalah kitab yang berisikan ayat-ayat kebijaksaan yang membentuk inti dari liturgi suci India. Kitab Veda terdiri atas beberapa kitab yang di satukan menjadi satu kesatuan. Dalam bagian-bagian kitab Veda ini masing memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Masing-masing Veda memilik empat bagian. Bagian pertama, terdiri atas ayat-ayat, himne para Dewa dan nyanyian-nyanyian (Samhita). Bagian kedua, terdiri atas susunan ayat-ayat untuk kepentingan ritual (Brahman). Bagian ketiga, terdiri atas refleksi dan tafsiran atas upacara-upacara ritual (Aranyanka). Dan bagian keempat, berisikan tentang persoalan-persoalan utama yang mendasari pemikiran dan praktik religius (Upanishad).

Baca Juga :   Eksistensi Generasi Milenial

Brahaman atau pemahaman tentang realitas tertinggi dari Kitab Veda adalah terletak pada penghayatan upacara-upacara religius serta nyanyi-nyanyian dan puji-pujian. Dengan melakukan upacara-upacara religius mereka meyakini bahwa atas realitas tertinggi yang tidak dapat dijangkau dengan mata indrawi. Para filsuf India meyakini bahwa segala yang ada di bawah kolong langit ini tidak berada dengan sendirinya, melainkan ada penyebab utama yang menyebabkannya. Maka, dengan melakukan upacara-upacara serta nyanyian dan puji-pujian, mereka menghormati eksistensi tertinggi tersebut.

Dalam kaitanya dengan Atman, mereka menyadari bahwa dalam diri manusia hanya memiliki satu esensi mendalam yang tidak dapat mati. Bahwa esensi terdalam manusia itu terkukung dan terpenjara oleh tubuh fana manusia. Maka perlu adanya sikap untuk mencapai kesucian atau pemurnian esensi terdalam tersebut. Keyakinan ini perlu ditransformasikan dalam upacara-upacara religius serta puji-pujian dan nyanyian-nyanyian kepada realitas tertinggi adalah juga berguna untuk penyucian dan keselamatan bagi esensi terdalam manusia tersebut.

Kitab Upanishad
Upanishad memulai pencarian akan realitas tertinggi dengan pertanyaannya: apa kodrat realitas tertinggi dan siapakah aku pada lapisan yang paling dalam dari eksistensiku? Para resi meyakini bahwa segala sesuatu yang terlihat indah dan agung ini pasti ada sesuatu yang menyebabkannya. Mereka menamainya itu Brahman. Pemberian nama itu tidak deskriptif, sebab mereka tidak menamai sesuatu sebagai definitif, entah abstrak atau konkret. Mereka juga meyakini bahwa jika Brahman adalah realitas tertinggi, maka tidak mungkin baginya dibatasi, karena tak ada sesuatu yang melampauinya yang bisa membatasinya. Brahman adalah sesuatu yang tidak dapat didengar, diraba, dirasa, dialah yang memungkinkan kausalitas dan waktu. Maka, Brahman sebagai realitas tertinggi tidak mungkin eksis dalam ruang dan waktu. Brahman melampaui segala sesuatu yang berbau indrawi. Dia tidak dapat dijangkau oleh mata indrawi manusia. Dia adalah itu yang tertinggi diatas segala yang esensi dan eksistensi, dia adalah absolut. Brahman adalah kesatuan antara eksistensi dan non-eksistensi.

Baca Juga :   Pilkada dan Jebakan "Money Politics"

Berbeda dengan Veda yang mencari realitas tertinggi itu dalam upcara-upacara religius, Upanishad menyingkirkan segala hal yang berbau religius. Upanishad lebih mencari jalan kebenaran melalui gagasan monastik dan dualistik. Dualistik di sini artinya bahwa Brahman dan Atman adalah dua hal, tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Brahman adalah itu yang menjadi realitas tertinggi dan penyebab dari semua yang ada. Brahman tidak dapat dijangkau oleh manusia dengan indranya. Maka, untuk memahami Brahman, para filsuf India menyatakan bahwa dalam diri manusia ada sesuatu yang tidak dapat mati atau sesuatu yang dinegasikan dan merupakan eksitensi dari Brahma yakni Atman.

Baca Juga :   POLITIK DAN GEREJA TERLIBAT

Corak Dominan

Dari segala pencarian filsafat India ada beberapa yang menjadi corak dominanya. Corak dominan ini menjadi ringkasan besar akan tujuan dari segala pencarian filsuf India. Corak-corak yang demikian menandakan bahwa filsafat India adalah suatu kekayaan, keragaman dan kerumitan pikiran. Corak-corak tersebut antara lain :

a) Karakter Praktis
Ketika dikonfrotasikan dengan segala penderitaan fisik, rohani maupun jasmani, mereka mulai mencari jalan pembebasan yang dapat menghapus segala jejak-jejak penderitaan itu. Pencarian akan pembebasan penderitaan itu akhirnya membawa mereka pada pengertian yang dapat menjelaskan kodrat realitas dan kodrat eksistensi manusia serta pengembangan logika dan teori-teori pengetahuan. Hal ini mendorong mereka untuk terus mencaritahu penyebab segala penderitaan dan membawa mereka pada kebahagiaan.

b) Disisplin Diri
Bagaian kedua ini para filsuf India menyadari bahwa segala bentuk penderitaan itu terjadi karena orang tidak pernah merasa cukup. Maka, diperlukan pengontrolan diri yang terus menerus. Dengan melakukan pengontrolan diri yang baik, para filsuf yakin dapat mencapai pembebasan dari segala macam bentuk penderitaan.

c) Kebenaran
Akhirnya segala pencarian mengarahkan pada pembenaran tertinggi, yakni persatuan ang intim dengan realitas tertinggi. Maka, untuk mencapai pembenaran ini segala visi mesti dilakukan pengujian, terlebih khusus dalam penghayatan hidup. Bahwa semakin dalam penghayatan kausalitas hidup, semakin besar ujian untuk pencapaian pembenaran.

Sumber
John M. Koler “Filsafat India” Pengantar dan Diterjemahkan oleh Donatus Sermada

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button