Opini

Eksklusivisme Agama di tengah Pandemi Covid 19

Foto: Sehatq.com

Penulis: Mathias Banusu
(Mahasiswa STFK Ledalero, Maumere)

Eksklusivisme Agama

Eksklusivisme berasal dari kata eksklusif yang berarti terpisah dari yang lain. Sedangkan imbuhan isme dimengerti sebagai paham atau ideologi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), eksklusivisme merupakan paham yang mempunyai kecenderungan untuk memisahkan diri dari masyarakat. Tindakan ini dibuat dengan dasar dan tujuan yang gamblang yakni menjaga keutuhan dan keadaan natural suku, agama, ras dan antargolongan yang dihayati oleh suatu masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa sikap eksklusivisme tergambar jelas dalam pikiran dan hati sekelompok orang yang sudah dan sedang menghayati konstruksi suku, agama, ras ataupun golongan dalam suatu masyarakat. Sikap eksklusivisme lahir dari suatu kontruksi sosial dan menyimpan benih-benih perbenturan antar suatu kelompok masyarakat dengan kelompok lainnya. Ekslusivisme memiliki dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah suatu kelompok masyarakat tetap mempertahankan kebudayaan kelompoknya karena menganggap kelompoknya yang paling baik, dan wajib dipertahankan, mampu membedakan dirinya dengan orang lain serta tidak mudah terpengaruh dengan kelompok lain. Sedangkan dampak negatif dari eksklusivisme yakni membuat seseorang menganggap kepentingan kelompok sendiri menjadi satu-satunya hal yang penting, tertutup pada pengaruh budaya lain sehingga sangat sulit melakukan perubahan yang bersifat progresif, serta dapat memecah belah persatuan (kompasiana-com.cdn.ampproject.org, diakses pada 11 Juni 2020).

Salah satu persoalan eksklusivisme dalam beragama yang terjadi saat ini adalah keberatan dari masyarakat Minangkabau akan kehadiran aplikasi Injil berbahasa Minangkabau. Bagi mereka aplikasi tersebut sangat kontradiktif dan bertolak belakang dengan adat dan budaya masyarakat Minangkabau yang memiliki falsafah basandi syarak, syarak basandi kiabullah. Keberatan ini ditujukan kepada Johnny G. Plate selaku Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, agar dapat menghapus aplikasi Injil berbahasa Minangkabau yang ada di Play Store. Jika ditelisik lebih dalam persoalan ini, saya secara pribadi berargumentasi bahwa sikap eksklusivisme yang demikian memiliki potensi dalam menumbuhkan benih-benih intoleransi dalam beragama. Yang akhirnya bermuara pada sikap radikalisme dan fundamentalisme suku, agama, ras serta antargolongan yang satu dengan yang lainnya.

Persoalan intoleransi dalam kehidupan beragama masih menjadi tema perbincangan yang memantik nalar dan emosi publik. Persoalan ini bukanlah persoalan baru, melainkan sudah dan sedang dialami oleh masyarakat seluruh dunia tidak terkecuali masyarakat Indonesia. Persoalan intoleransi ini yang pada akhirnya menggiring individu untuk bersikap fundamentalisme. Persoalan fundamentalisme hampir terjadi di segala bidang kehidupan manusia. Salah satunya adalah persoalan fundamentalisme agama. Problematika ini diimunisasi oleh pelbagai kemajuan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi yang lazim dikenal fenomena global.

Fenomena globalisasi yang ditandai dengan perjumpaan dan juga perbenturan antarbudaya dan agama, nilai-nilai moral universal dibutuhkan sebagai panduan agar budaya-budaya lokal dan agama-agama tidak terperangkap ke dalam bahaya primordialisme dan fundamentalisme (Otto Gusti Madung, 2014: 152). Namun, pertemuan antar nilai, ideologi, agama, budaya serta bahasa dalam situasi global justru menimbulkan suatu keresahan bagi seluruh elemen masyarakat. Kaum fundamentalisme agama biasanya menilai segala perubahan yang terjadi dipandang sebagai suatu ancaman berbahaya bagi eksistensi dan keberadaan mereka. Penafsiran tersebut biasanya berpotensi untuk mengklaim dan memutlakan bahwa kelompok agama, suku, ras dan golongan mereka yang paling benar dan mesti diikuti oleh seluruh komponen masyarakat. Mereka kemudian mengalami kebinggungan orientasi, yang berujung pada sikap menutup diri terhadap yang lain dan melahirkan perasaan benci yang mendalam terhadap segala yang dianggap kafir dan sesat, serta terhadap sikap-sikap sekuler dan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang menggoda (Paulus Budi Kleden, 2003:15).

Baca Juga :   Refleksi HUT ke- 75 RI, Di Tengah Pandemic Covid 19

Pandemi Covid 19 : Persoalan Global

Fenomena pandemi Covid-19 merupakan persoalan global yang sedang menguncang dunia dan memporak-porandakan pelbagai aktivitas manusia dalam bidang sosial, ekonomi, politik, agama serta kebudayaan masyarakat. Serangan virus yang mematikan ini menyerang manusia secara komprehensif tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, ras maupun golongan tertentu. Diafirmasi lagi bahwa virus ini tak dapat dideteksi secara kasat mata manusia, hanya dapat diketahui melalui gejalah-gejalah yang terjadi pada seseorang yang telah terpapar virus ini. Hingga saat ini pun belum ditemukan vaksin sebagai obat penangkal ataupun penghacur virus tersebut.

Adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dapat menimbulkan suatu peroalan baru dalam kehidupan manusia. Dampak yang sangat terasa dalam bidang ekonomi terkait dengan pemenuhan kebutuhan makan dan minum setiap hari oleh seluruh komponen masyarakat. Tak menjadi persoalan bagi masyarakat kelas atas, para birokrat, elit politik dan kaum kapitalis yang tentunya masih bisa mempertahankan hidup dengan kekayaan yang dimiliki. Sebaliknya dengan masyarakat kelas menegah ke bawah akan menjadi sulit dalam proses pemenuhan ketuhuhan sandang, pangan maupun papan. Bisa saja ada korban yang penyebab kematiannya tidak sebabkan oleh virus corona, tetapi mungkin kekurangan dan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan primer (makanan dan minuman).

Fenomena krisis global yang dihadapi oleh seluruh negara di dunia tak terkecuali Indonesia kian hari merepresentasikan suatu gambaran raut wajah yang semakin kusut, muram, sedih serentak dihujani oleh air mata. Setiap hari banyak korban yang meninggal, jumlah yang terinfeksi pun kian meningkat tajam. Inilah salah satu krisis kemanusiaan yang sangat krusial di abad 21. Lantas apa yang sudah dan sedang diusahkan oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini? Strategi yang tepat dan relevan manakah yang dapat direalisasikan sebagai usaha dalam menghadapi persoalan ini? Menurut hemat saya, sejauh ini pemerintah berkolaborasi dengan tenaga medis dan kesehatan serta pihak keamanan dalam mengahadapi pandemi ini. Himbauan dan protokol pemerintah untuk melalukan penjarakkan sosial, bekerja dan belajar di rumah, menghidari tempat-tempat umum semisal, kampus, kantor-kantor, pasar atau pun supermarket serta tempat-tempat umum lainnya. Semuanya ini dilakukan demi mencegah dan mengakhiri proses penularan dan penyebaran virus corona tersebut. Akan tetapi, seperti yang telah saya uraikan di atas, bahwasannya akan berdampak pada bidang kehidupan sosial, ekonomi, politik, agama dan kebudayaan. Lantas apalagi yang dapat dilakukan untuk kembali menegahkan pelbagai sektor kehidupan manusia yang semakin hari kian mengalami penurunan baik dalam tingkat produktivitas, konstrubisi dan sebagainya.

Baca Juga :   Bunuh Diri dan Peran Keluarga

Menanggapi persoalan ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kepala daerah di seluruh Indonesia untuk menerapkan fase normal baru atau new normal. Apa yang dimaksud dengan era new normal? “Era new normal dipahami sebagai skenario untuk mempercepat penanganan Covid-19 dalam aspek kesehatan dan sosial-ekonomi. Pemerintah Indonesia telah mengumumkan rencana untuk mengimplementasikan skenario new normal dengan mempertimbangkan studi epidemiologis dan kesiapan regional”. (tirto.id, diakses pada 11 Juni 2020). Dalam pemahaman Peter Tan, new normal merupakan serangkaian norma baru kontak sosial seperti menjaga jarak dua meter dari orang lain di tempat-tempat umum kapan saja, serta mengikuti protokol kesehatan seperti mencuci tangan, memakai masker dan menjaga kekebalan tubuh. Serentak diafirmasi oleh perkataan Presiden yakni: “berdamai” atau “berkompromi” dengan virus corona. (nttprogresif.com, diakses pada 11 Juni). “Di tengah euforia memasuki tahap normal baru, jumlah kasus Covid-19 jusrtu naik di sejumlah daerah. Peningkatan kasus terbesar terjadi di Jawa Timur, diikuti Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah dan Kalimantan Selatan. Jawa Timur dengan 5. 948 kasus, saat ini menjadi episentrum penularan Covid-19 kedua terbesar setelah Jakarta dengan 8. 033 kasus” (Kompas, 9 Juni 2020). Hal ini mengindikasikan bahwa penerapan era new normal bisa mendatangkan suatu malapeta yang lebih besar dampaknya terhadap kehidupan manusia.

Kerjasama dalam Semangat Toleransi Beragama

Krisis global yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 merupakan suatu persoalan yang meraup nyawa sebagaian besar umat manusia. Bagaimana pun juga krisis ini adalah krisis yang sudah dan sedang dialami dan dihadapi oleh seluruh komponen masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, kesadaran setiap individu perlu aktifkan bahwa krisis yang saat ini terjadi merupakan persoalan bersama dan tanggungjawab kolektif dalam menghadapinya. Keaktifan kedasaran yang dimaksud adalah sikap membuka diri dan menjauhkan sikap eksklusivime yang cenderung bersikap introver, menutup diri, tidak peka dengan situasi yang dihadapi dan alami oleh sesamanya.

Baca Juga :   Perempuan, Iklan Media dan Jebakan Kapitalisme (Memaknai Hari Perempuan Sedunia)

Persoalan eksklusivime agama yang dialami oleh masyarakat Minangkabau merupakan suatu persoalan yang mesti dihindari dan sebaiknya tidak terjadi. Semestinya masyarakat Minangkabau bersyukur bahwa eksistensi agama dan perlengakapn keagamaan mereka diakui, dihargai oleh setiap orang. Salah satu penghargaan ditunjukan melalui terjemahan Injil berbahasa Minangkabau yang ada di Play Store. Terjemahan injil ini hemat saya tidak menggangu serentak menggurangi apalagi menghina iman seseorang dalam hal ini iman masyarakat Minangkabau. Beriman itu soal kepercayaan seseorang yang terjadi dalam hubungan vertikal dengan Yang Transenden. Setiap orang yang mengimani Allahnya sebagai sumber segala ada, sumber kebahagiaan, cinta kasih, kedamaian dan keadilan mesti direalisasikan dalam kehidupan bersama yakni dalam semangat toleransi antar umat beragama. Kita mengimani Allah sebagai setuatu yang misteri. Dan yang misteri itu dapat kita kontekstualisasikan dalam kontruksi relasi antar umat beragama, saling belajar, mengerti, memahami serta menghargai satu sama lain. Konkretisasi iman dalam pelbagai tindakan-tindakan kasih, semangat solider dengan sesama yang berkekurangan dalam masa-masa sulit ini, memberikan bantuan tanpa melihat status dan latar belakang seseorang merupakan tanggungjawab kolektif sebagai manusia yang memiliki spirit sosialis. Beriman kepada Tuhan tanpa merealisasikan ajaraan-ajaran-Nya adalah suatu kebohongan besar dan beriman tanpa nalar. Iman mesti melibatkan nalar atau akal budi. Sebab, akal budi dapat membantu kita untuk berpikir serta bertindak secara bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan sesama. Sesama kita adalah ‘subjek atau patner’ yang melaluinya kita dapat merealisasikan diri kita secara integral. Iman perlu dibuktikan melalui tindakan-tindakan nyata. Dengan demikian, saya anda dan kita semua dapat memahami dan mengerti secara baik, bahwa beriman bukan soal saya berdoa terus-menerus, taat pada setiap aturan yang terkadang bersifat kaku dan statis. Tetapi beriman itu soal kesediaan pribadi untuk bertindak. Iman butuh tindakan. Dunia kita saat ini dilanda oleh virus corona yang menyerang manusia tanpa memandang latar belakang suku, agama, ras ataupun golongan yang dianut oleh seseorang. Semestinya moment ini menjadi kesempatan berharga bagi setiap orang beriman untuk mempererat semangat toleransi dalam karya pelayan satu terhadap yang lainnya. Krisis pandemi Covid-19 ini mengajak kita sekalian untuk membarui diri dan cara beriman. Kiranya sikap eksklusivisme dan intoleransi tidak menjadi penghalang bagi setiap orang untuk membantu sesamanya yang sedang menderita dan meminta bantuan dari kita. Sudah saatnya bagi kita untuk membangun semangat solidaritas, toleransi dan kerja sama demi mewujudkan masa depan bangsa dan seluruh masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button