Opini

Ekofeminisme: Sebuah Tindakan Rasa Memiliki (Sense of Belonging)

Penulis : Epi Muda

Banera.id – Akhir-akhir ini, isu mengenai kerusakan lingkungan hidup sangat krusial. Kerusakan lingkungan hidup justru berawal dari keserakahan manusia untuk memperlakukan alam dengan semena-mena. Tindakan manusia ini tentunya membawa dampak yang sangat fatal dan mendatangkan bencana alam. Anehnya setelah terjadi bencana alam, manusia berasumsi bahwa itu disebabkan karena fenomena alam itu sendiri. Pandangan ini merupakan pandangan yang perlu ditelusuri secara saksama karena manusia sudah tahu bahwa merusakan alam juga dapat mendatangkan bencana alam.

Untuk itu, dalam tulisan saya ini, saya mengulas bagaimana merubah pola pikir lama manusia yang beranggapan bahwa kerusakan alam sebagai akibat fenomena alam itu sendiri dengan melibatkan manusia sebagai biang kerok terjadinya bencana alam. Saya mengulasnya dengan menilik lebih jauh konsep tentang ekofeminisme: sebuah tindakan rasa memiliki (sense of belonging). Menjadi dasarnya adalah membawa manusia kepada kesadaran untuk membangun pola pikir yang kritis dalam memperlakukan alam sebagai saudari (feminisme) dalam satu ciptaan yang utuh.

Baca Juga :   Mencari Tuhan Dalam Wajah Sesama

Ekofeminisme Sebuah Pandangan Baru

Francoise d’Eaubonne dalam bukunya Le Feminisme Ou La Mort (1974) mengatakan bahwa ekofeminisme adalah penggabungan antara ekologi dan feminisme. Ekofeminisme tepatnya ada keterkaitan penting antara operasi terhadap perempuan dan operasi terhadap alam. Hal ini mau dikatakan bahwa alam dan perempuan tiak dapat dipisahkan, keduanya saling keterkaitan.

Baca Juga :   Hermeneutika Diri : Sebuah Jalan Yang Panjang

Menurut Sonny Keraf, etika lingkungan di satu pihak berupaya membongkar cara pandang manusia yang keliru tentang dirinya, alam dan tempat manusia dan alam dan pihak lain menyodorkan sebuah pandangan baru yaitu ekofeminisme (2006; 123) atau lebih ramah lingkungan (2006; 124). Dengan demikian Sonny Keraf menggugat kembalikan posisi alam pada semulanya dengan menawarkan etika yang baik dalam memperlakukan alam. Lebih lanjut memikirkan keadaan alam sebagai saudari dalam satu ciptaan yang utuh (ekofeminisme)

Untuk itu, ekofeminisme merupakan cabang feminisme yang memperlihatkan pada aspek dominasi dan hierarki nilai. Alam senantiasa didominasi oleh manusia. Ada dasar yang dikritik ekofeminisme yaitu hierarki nilai bagaimana alam dioperasi oleh manusia selaras dengan bagaimana laki-laki mengoperasi perempuan. Sonny Keraf mengatakan bahwa; ekofeminisme menawarkan konsep deep ecology, aksi bersama untuk menggugat semua institusi sosial dan politik yang melanggengkan dominasi dan eksploitasi perempuan dan alam (2006; 133). Maka, dari itu ekofeminisme mengambil tempat utama dalam pandangan mata manusia berkaitan dengan perilaku dalam menguasainya. Di sini harus ada perjuangan untuk melawan dan mengembalikan alam kepada keadaan semula dan menciptkan iklim ekofeminisme dalam bingkai cipataan yang utuh.

1 2 3Laman berikutnya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button