Opini

Don Pande: Jiwa dan Dasar Pengabdian Orang Manggarai

Pic:Genpi.co

Don Pande (Bahasa Manggarai: Berbuat banyak) merupakan terminologi orang Manggarai yang hendak berbicara tentang karakter pengabdian.Pande (berbuat) bagi orang Manggarai tidak hanya berbicara tentang usaha untuk kesejahteraan diri. Ia juga berbicara tentang pengabdian bagi sesama. Tujuannya jelas yaitu demi kesejahteraan bersama.

Bagi orang Manggarai, don pande selalu berdasar pada don bae (banyak yang diketahui). Dengan pengetahuan yang banyak biasanya orang dapat berbuat banyak untuk membantu, menolong, serta mengabdi kepada sesama guna mencapai kesejahteraan umum. Bagi orang Manggarai, amatlah tidak masuk akal bila mereka yang telah belajar banyak dan tahu banyak hanya berbuat dan mengabdi kepentingan diri sendiri.

Don bae tidak hendak berbicara tentang ditemukannya semua jawaban yang dipertanyakan oleh mereka yang menghayati spiritualitas mencari (don lako) dan melihat (don ita). Mengapa? Alasannya ialah semakin orang memaknai peziarahannya secara mendalam semakin banyak yang dapat dikenal dan dialami. Pengenalan dan pengalaman itulah yang menghasilkan pengetahuan bagi setiap orang yang melakukan peziarahannya dengan penuh makna.

Don bae dari sendirinya memampukan orang untuk mengerti dan memahami makna peziarahan hidupnya masing-masing. Dengannya setiap orang sanggup dan mampu untuk menjalani hidup serta memaknainya dengan penuh arti. Hal itu berkaitan dengan kapasitas untuk mengenal diri serta kesanggupan untuk bertumbuh dan berkembang ke arah yang menunjukkan kesanggupan untuk menjalani hidup dengan penuh kedalaman.

Don bae tidak hanya berbicara dalam pengertian epistemologis semata. Ia juga berbicara tentang kesanggupan manusia untuk memahami hal-hal yang diluar kapasitas rasionalitas manusia. Dari sanalah dapat dikenal bahwa kapasitas peziarahan manusia bukan hanya berkaitan dengan perkara kemampuan manusiawi semata melainkan juga bersentuhan dengan kapasitas rohaniah. Kemampuan atau kapasitas rohaniah manusia inilah yang memungkinkan peziarahannya memilik makna yang lebih mendalam.

Don bae sebagai wujud dari pengetahuan tidak berhenti hanya pada tataran budi saja. Ia menyangkut juga dengan pengalaman. Tentang hal ini, Armada Riyanto (2013: 131) menulis: “Dewasa ini pengetahuan tidak hanya dipahami dalam konteks sebagai kebenaran ilmiah. Pengetahuan juga memasuki babak baru dalam kaitannya dengan pengalaman hidup manusia. Pengetahuan mesti memiliki makna bagi hidup manusia. Pengetahuan bukanlah itu yang memertaruhkan kehidupan manusia, melainkan membelanya”.

Dari uraian itu, maka hal yang secara langsung menjadi konsekuensi dan buah dari don bae itu ialah don pande. Don pande hendak berbicara tentang kapasitas kesanggupan manusia untuk mengabdi kepada sesama. Tidak hanya itu. Don pande juga berbicara tentang usaha dan perjuangan untuk mencapai kesejahteraan bersama. Dari penemuan dan pengetahuannya, manusia dimampukan untuk mengenal dan membedakan apa yang benar-salah, baik-buruk, adil-durjana, artifisial-reflektif, dan sebagainya. Kapasitas-kapasitas itulah yang membuat orang mampu untuk berbuat apa yang baik, benar, adil, dan sebagainya dalam hidup. Sebab hidup selalu berbicara tentang ada bersama yang lain. Dengannya, kesejahteraan bersama menjadi poin dan tolok ukur sejauh mana setiap orang mau dan mampu mengabdi sesama.

Bagi orang Manggarai, kedewasaan serta kebijaksanaan seseorang dapat diukur dari apa yang dibuatnya. Tidak hanya itu. Seberapa dalamnya orang mampu memaknai hidup sebagai sebuah peziarahan dapat diukur dari apa yang dibuatnya. Kapasitas pemaknaan akan don bae seseorang diukur dan diketahui dari pande-nya. Sebab amat mustahil untuk mengatakan bahwa perbuatan seseorang tidak didasarkan pada apa yang dikenal dan diketahuinya. Demikian juga halnya dengan semangat don pande di atas.

Pande bagi orang Manggarai tidak hanya berbicara tentang kesanggupan untuk berbuat apa saja. Pande berbicara juga tentang kemampuan manusia untuk ada bersama yang lain. Ada bersama yang lain hendak berbicara tentang kesanggupan mengejar kebaikan bersama. Itulah sebabnya don pande selalu menunjuk pada kesanggupan untuk mengabdi kepada sesama. Kesanggupan hanya dapat dimengerti dalam ada bersama dengan yang lain. Di sinilah, sosialitas manusia terungkap dan menemukan pemaknaannya.

Pande yang menjadi perwujudan dari bae juga bergerak dalam koridor usaha untuk mewujudkan apa yang adil, benar, damai, bahagia, dan kesejahteraan umum. Poin-poin itu dari dirinya sendiri menunjuk pada pemahaman bahwa pande bagi orang Manggarai benar-benar berbicara tentang karakter pengabdian bagi sesama. Pada poin itulah kita dapat mengerti relasi antara bae dan pande. Bae tidak pernah berhenti bagi orang secara pribadi. Bae memiliki karakter membagi dan mengabdi kepada sesama. Dan itu terwujud dalam pande.

Pande sebagai tindakan mengabdi dalam arti tertentu merupakan aktivitas memberi. Sebab dalam hidupnya, manusia tidak pernah diam dan tidak bisa tidak melakukan sesuatu bagi dirinya dan bagi orang lain. Singkatnya, mengabdi kepada dan bagi sesama menjadi karakter yang melekat erat dalam kodrat tiap orang. Hal itulah yang menjadi jiwa dan semangat don pande.

Pande sebagai aktivitas memberi mengungkapkan pengertian bahwa diriku tidak lagi menjadi milikku sendiri. Dengan pande saya mengungkapkan bahwa adanya saya selalu berkaitan dengan yang lain atau sesama. Oleh karena itu, pengetahuan dan juga kesanggupan serta kecakapan yang ada dalam diri tidak berhenti hanya pada kekuatan dan kesanggupan egoistis semata melainkan ada dalam kesanggupan untuk mengabdi sesama.

Pande yang mengungkapkan karakter pengabdian dalam masyarakat Manggarai menjadi alasan mengapa sampai saat ini kohesivitas antarmasyarakat masih terjaga. Kohesivitas itu terpatri dalam semangat saling mengabdi yang berorientasi pada usaha untuk memajukan kesejahteraan semua orang.

Salah satu poin yang hemat saya menunjukkan karakter pengabdian itu ialah adanya semangat bantu tau-tau (tolong menolong). Bantu tau-tau hanya mungkin bila orang yang don bae dapat mewujudkan pengetahuannya dalam don pande. Don pande menjadi dasar semangat dan kekuatan untuk mengabdi. Dengannya orang dituntut untuk belajar banyak dan memaknai peziarahan hidupnya dengan kesadaran penuh. Orang juga menjadi sadar bahwa ada bersama yang lain menuntutnya untuk saling mengabdi.

Don pande sebagai karakter pengabdian melekat erat dalam diri setiap orang Manggarai. Buktinya, ketika ada orang yang membutuhkan bantuan, semua warga bergerak untuk membantu meringankan beban sesuai dengan kecakapan masing-masing. Semangat untuk tolong menolong tidak mungkin lahir begitu saja. Semangat itu mensyaratkan tahu (bae) apa yang harus dibuat (pande). Kapasitas don pande bagi orang Manggarai ada dalam domain pengabdian dan pelayanan bagi sesama. Sebab, adanya manusia tergantung pada apa dan bagaiamana ia berbuat kepada diri sendiri dan orang lain.

Salam!

Penulis : Hiro Edison

Baca Juga :   Mafia Oligarki Dalam Wajah Demokrasi di Indonesia

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button