cerpen

Cinta yang Rumit

Foto: Google

“Kisah cinta yang rumit akan memberikan kedalaman rasa cinta yang tak ada batasnya”, itulah kata-katamu yang selalu kau ucapkan bila engkau merasa sedih perihal hubungan cinta kita yang tak direstui orang tuamu, tetapi engkau sangat optimis dengan kepercayaanmu tersebut. Sepenggal kalimat itulah yang memberiku harapan yang besar bahwa kita dapat bersatu lagi.

Tepat sebulan yang lalu ketika hubungan kita baru memasuki tiga tahun resmi berpacaran dan di luar dugaan saat itu juga merupakan awal dari kehancuran hubungan kita bahwa semua kebahagiaan dan impian-impian yang telah kita lukis bersama harus segera hilang dan lenyap begitu saja. Perihal orang tuamu yang memindahkan engkau untuk melanjutkan kuliah di luar negeri dengan intensi agar anak semata wayang mereka harus menjauh dari lelaki sepertiku yang dalam pemahaman mereka tidak memiliki masa depan. Memang aku akui mungkin ini kebodohanku yang telah berani mencintaimu tanpa melihat status sosialku yang berasal dari keluarga miskin yang membayar uang kuliah saja terpaksa kedua orang tuaku harus mengutang di koperasi. Hal ini sangat berbeda denganmu yang berasal dari keluarga terpandang dan berada. Tentunya orang tuamu sudah memikirkan yang terbaik demi kebahagiaan anaknya. Namun bagaimana kalian mempersoalkan perasaan yang tumbuh begitu saja tanpa melihat status sosial kaya atau miskin seperti yang dibanggakan oleh kedua orang tua tiara…. itu sebuah pertanyaan yang belum kutemui jawabannya. Apakah harta yang mereka dibanggakan itu akan abadi bersamanya, apakah dengan harta yang berlimpah akan menjamin kebahagiaan, “dasar konyol, celetukku”. Huh kenapa aku jadi sibuk dengan orang lain yang selalu membanggakan hartanya. Sebenarnya bukan sok sibuk tetapi hanya bentuk ekspresiku terhadap perlakuan dari orang tua tiara pacarku.

Keputusan kedua orang tua Tiara untuk memindahkannya keluar negeri sungguh menyiksa hatinya karena ia sudah terlanjur mencintaiku. Tiara tidak mau jauh dariku, Ia selalu ingin agar hari-harinya selalu bersamaku seperti kenangan 3 tahun yang kami lewati bersama dengan sabar dan tetap tegar menerima celaan dan hinaan dari orang tua tiara terhadap hubungan kami. Dan aku tidak pernah menyerah untuk tetap mencintainya. Sampai akhirnya kedua orang tuanya memutuskan Tiara untuk pindah ke luar negeri. Sepikiran denganku bagi Tiara kekayaan tidak menjamin kebahagiaan dan bahkan Ia sangat tidak memedulikannya karena baginya jika kita bisa bahagia dan merasa cocok mengapa kita tidak melanjutkannya. Perbedaan status sosial aku dan tiara yang boleh dikatakan antara langit dan bumi, tetapi itu bukan menjadi penghalang untuk kami tetap saling mencintai. Namun kehendak orang tuanya tak dapat dibantah lagi olehnya dengan terpaksa Tiara harus mengikuti kemauan orang tuanya untuk pindah ke luar negeri.

Baca Juga :   Puisi-Puisi Wandro J. Haman

Begitu pun dengan aku sebagai lelaki yang sangat mencintai Tiara tentunya aku sangat merasa kehilangan seperti yang dirasakan Tiara, tetapi apalah daya kami tak dapat melawan kehendak orang tuanya. Sore itu seperti biasa aku pergi ke taman yang sudah menjadi kebiasaan aku dan tiara menghabiskan waktu senggang untuk menikmati keindahan di taman itu sembari bercerita tentang hubungan kami yang rumit yang sudah dianggap menjadi masalah biasa itu membuat kami tidak terlalu peduli karena kami percaya saling mencintai membuat kami tetap kuat dalam menjalani hubungan. Meskipun hantaman badai penolakan dari orang tua Tiara yang datang bertubi-tubi tidak dapat kami mungkiri. Namun hari ini aku harus pergi sendirian di taman untuk bisa mengenang kisah-kisah indah yang kami lalui bersama yang mungkin masih melekat pada ranting-ranting pohon di keindahan taman itu. Karena sudah seminggu tak pernah berjumpa dengan tiara dan kabarnya pun tak kuketahui, hanya di tempat inilah yang dapat aku datang untuk membayar semua riduku pada tiara. Hari ini suasana di taman itu tampak sepi tidak seperti hari-hari sebelumnya banyak pengunjung yang datang seolah-olah tidak mau ketinggalan untuk foto-foto kala senja tiba. Dan memang taman ini sangat indah apa lagi di waktu senja tiba kiranya dapat menghipnotis kita untuk selalu kunjungi tempat ini. Ah… Mungkin saat ini mereka mengerti tentang tersiksanya hati ini yang akan ditinggal kekasih yang sangat dicintai dan mungkin mereka tidak mau mengganggu dan membiarkan aku untuk sendiri dulu. “betapa pengertian ya orang-orang di kotaku ini”, batinku. Ketika aku sedang di alam lamunanku membayangkan kisah indah bersama Tiara orang yang sangat kucintai itu tiba-tiba lamunanku terusik oleh suara yang memanggil namaku. “Bram, panggilnya dengan nada yang sendu”, dengan segera aku mencoba membalikkan tubuhku untuk melihat sosok yang memanggil namaku barusan tak aku sangka ternyata itu Tiara, gadis yang sedang terbayang dalam angan-anganku tadi, gadis yang sedang aku rindukan. Tuhan memang sungguh baik mengetahui isi hatiku saat ini sehingga Dia memperkenankan aku untuk bertemu Tiara. Tidak sempat aku berdiri menyambutnya Tiara langsung lari dan memelukku dengan erat seakan tak dapat terpisahkan lagi dan air matanya yang tak dapat dibendung lagi pun berderai membasahi pipinya bak hujan yang sangat merindukan bumi tidak tahu kapan redanya, Ia menampukkan membuka mulutnya untuk berbicara “Bram aku sangat mencintaimu dan akan tetap mencintaimu meskipun kita jauh nantinya” aku seakan tak mampu menahan air mata yang hendak jatuh tanpa permisi, tetapi sebagai laki-laki aku berusaha untuk kuat dengan menyangkal kerapuhan hati ini aku biarkan ia menangis sejadi-jadinya biarlah ia melepaskan segala kerinduannya dan rasa sakit hatinya untuk berpisah begitu pun dengan aku karena Tiara akan berangkat besok ke luar negeri. Ini merupakan kesempatan aku yang terakhir bersamanya aku coba tetap meyakinkannya bahwa aku juga akan tetap mencintainya “Ra.. Aku juga akan tetap mencintaimu walaupun kedua orang tuamu melarang dan juga jarak yang memisahkankah kita nanti, percayalah hatiku akan tetap untukmu, karena bagiku hubungan 3 tahun bukan waktu yang singkat untuk dijalani. Dengan terus aku membelai rambutnya yang panjang itu. Ia mencoba untuk kuat dengan melepaskan pelukannya yang erat ditubuhku dan berbicara lagi kali ini Ia mencoba mengingatkanku lagi akan kata-kata yang selalu Ia ucap di setiap kita menghadapi persoalan, dengan nada yang masih sendu kedengarannya “sayang masih ingatkan dengan apa yang selalu aku katakan ketika kita bertemu yah…masih di sini tempatnya (ia mencoba mengingat-ingat) belum ada sahutan dariku ia pun berbicara “hubungan cinta yang rumit akan memberikan kedalaman rasa cinta yang tak ada batasnya, yakinlah kita mampu melewatinya jika Tuhan berkehendak kita untuk bersatu. Dengan perasaan terharu aku menatap wajah dari perempuan yang aku cintai yang mencoba terlihat kuat meskipun hatinya hancur karena harus pergi melepaskan orang yang dicintainya. Beberapa jam kemudian engkau terpaksa harus pergi meninggalkan aku sendiri dalam kesunyian yang panjang tanpamu dan begitu pun dengan kamu yang pergi dengan hati yang tersiksa. Dalam lubuk hati kita masih menyimpan secuil harapan untuk dapat bertemu lagi untuk memenuhi segala keinginan dan harapan yang telah kita impikan bersama.

Baca Juga :   Mimpi Sang Pengiris Tuak

Tak terasa sudah sebulan aku menjalani hari-hariku hampa tanpamu semenjak senja kala itu engkau menghampiri aku di taman. Aku masih teringat jelas wajahmu yang cantik itu penuh dengan air mata tak tahan dengan namanya perpisahan. Apa lagi dengan orang yang dicintai. Dalam hari-hari kesibukanku menjalani hidup tanpamu membuatku semakin rindu akan dirimu. Meskipun kita tidak dapat saling memberi kabar sebagai pelepas rindu, tetapi yang pasti kita tetap percaya akan harapan-harapan yang kita janjikan bersama untuk bisa bersatu lagi nantinya. Namun di luar dugaanku bahwa aku harus menerima kenyataan pahit yang membuat kita tidak dapat bersatu selamanya setelah mendengar berita dari kerabatmu bahwa engkau mengalami kecelakaan maut yang merenggut nyawamu beserta harapan-harapan kita. Sekian.

Baca Juga :   Spermaku Tumpah Sebelum Kita Direstu

Identitas penulis.
Nama panggilan akrabnya Latrino Lele, lahir di kampung Bokogo, 09 November 1999. Asal Bokogo, Wolowea Timur dan sekarang kuliah di STFK Ledalero

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button