Puisi

Cinta-Antologi Puisi Venand Samudin

Cinta itu neraka

Ketika karena cinta kamu dinsengsarakan, di sakiti, di campakan

Cinta itu kamu

Yakni kamu yang memiliki cinta, dan membagikan cintamu itu untuk orang-orang yang tidak memiliki cinta dalam hidupnya.

Venand Samudin

Cinta

Cinta itu luas
Seluas pemahamanmu tentang cinta
Cinta itu surga
Ketika cinta membuatmu damai
Sedamai di surga
Cinta itu indah
Ketika cinta memberikan keindahan dalam hidupmu
Cinta itu suci
Ketika karena cinta
Kamu menjadi suci
Cinta itu neraka
Ketika karena cinta kamu disengsarakan, disakiti, dicampakan
Cinta itu kamu
Yakni kamu yang memiliki cinta, dan membagikan cintamu itu untuk orang-orang yang tidak memiliki cinta dalam hidupnya.

(Ribang, 2018)

Baca juga Nol 3 Titik Satu Koma Kali 1

Pojok Kiri

Kembali aku duduk menyendiri
Kala hujan kembali membasahi bumi
Aku sendiri di pojok kiri
Dan tak mau seorang pun menghampiri
Aku mau berdiam di sini
Untuk kembali mengenal diri
Merenung di senja yang sunyi
Mengabaikan segala yang tengah terjadi
Di pojok kiri pada senja yang sunyi
Aku memilih menyendiri
Bukan untuk menjauhkan diri
Dari semua yang tengah terjadi
Tetapi karena hanya di pojok kiri
Aku bisa kembali mengenal diri.

Baca Juga :   (Geli)(sah) dan Gelisah Antologi Puisi Indrha Gamur

(Wailiti, 2017)

Baca juga Senja di Oesapa Berserta Kenangannya

Salahkah

Aku ada untuk yang lain
Yang lain ada untukku
Dalam aku ada cinta
Dalam mereka pula ada cinta
Cinta ku dari Dia
Cinta mereka dari Dia pula
Salahkah bila cinta yang ada padaku bagikan kepada mereka?
Salahkah pula bila mereka mencintaiku?
Aku ada karena Dia
Mereka ada juga karena Dia
Dosakah bila aku mencintai mereka?
Dosakah bila mereka mencintaiku juga?
Aku mencintai Dia dan aku mencintai mereka
Dia dan mereka, sama-sama kucintai

(Ribang, 2019)

Baca juga Hijabmu dan Rosarioku Dalam Cinta yang Esa

Mawar

Mawar tumbuh menawan, di antara bunga-bunga di taman
Membuat mereka yang memandangnya gemetar tak karuan
Banyak kawan mengingini mawar dari sekian bunga yang ditawar
Aku menyukai mawar, dia menyukai mawar
Mereka menyukai mawar, semua ternyata menyukai mawar
Mawar siapa yang engkau sukai?

Baca Juga :   Antologi Puisi Banera.id Spesial Hari Puisi Nasional

(April, 2019)

Baca juga Adven dan Harapan Untuk Pemimpin Terpilih

Misteri

Matahari terus berdandan, pada kaca langit nan megah
Sebentar saja ia kan beranjak, meninggalkan sang semesta
mentari kian menunduk hingga tunduk, terkubur di balik gunung
Kemolekannya perlahan memudar, luntur pada sang semesta
Perjalanan yang tak meninggalkan jejak, kepergian yang tak menyisakan kisah
itulah misteri sang Ilahi.

(Juni, 2019)

Baca juga Suatu Senja di Golo Lantar

Prasangka

Kata mereka, engkau terlalu tua
Engkau menyesatkan, engkau menyulitkan
Engkau tidak menarik, engkau tidak diminati
Engkau menyulitkan yang mudah
Serentak mempermudahkan yang sulit
Memahamimu sungguhlah sia-sia…….

(Maumere, 24 September 2018)

Baca juga Pahlawan Sesungguhnya di Masa Pandemi Covid-19

Sayembara Berjaga

Suatu pagi ku menepi di balik tirai
Sekejap aku menangkap segumpal cahaya
Berarak masuk melewati sela-sela jendela
Aku baru sadar ternyata matahari sudah kian menanjak
Dan petani pun sedari tadi mengais rezeki
Dari sejengkal tanah warisan leluhur
Mungkin karena mimpi yang terlalu indah
Hingga aku terbuai tak menyadari
Kalau matahari tengah mengejekku
Gara-gara ia kembali juara
Dalam sayembara siapa cepat berjaga
Untuk yang kesekian kalinya

Baca Juga :   Puisi-Puisi Maxi L. Sawung

(Manggarai, 29-12-2018)

Baca juga Juli dan Kenangan

Surat Untuk Tuhan

Tuhan,
Mengapa kini aku begitu takut
Jiwaku terasa gersang kini
Kurasakan maut semakin dekat tuk menjemputku
Tuhan,
Engkau berkenan pada jiwa yang mengasihi-Mu
Lindunglah aku di bawah naungan rahmat-Mu
Walau seringkali aku melupakan-Mu
Namun sesungguhnya hanya
Engkaulah satu-satunya batu sandunganku
Hanya Dikaulah andalanku
Tuhan,
Aku masih ingin tinggal di sini
Di dunia yang Engkau ciptakan untuk aku, mereka dan kami
Aku masih belum siap untuk pergi
Karena hidupku terlalu kotor dan jijik
Hidupku terlampau hina
Tidak ada harta yang hendak ku bawa
Selain setumpuk dosa menodai jiwa
Tuhan,
Aku ingin hidup Lebih lama lagi

(Maret, 2020)

Venand Samudin (Foto/Dokpri)

Penulis adalah Mahasiswa tingkat 3 STFK Ledalero.

Sekarang tinggal di Seminari Tinggi Rogationist, Ribang – Maumere.



Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button