Puisi

Bukan Asu Antologi Puisi Maxi L Sawung

“Kita adalah sepasang detik dan detak

Pada jam dinding di rumah Tuhan

Ketika ada yang menghitung detik kehilangan

Mereka akan merindukan detak pertemuan”.

-Maxi L Sawung

BUKAN ASU

Pada bayang langkah ayah
Anak-anak latih berjalan

Pada rimbun kepala ibu
Anak-anak latih mengeja kata

Kelak mereka akan melangkah
Juga akan berkata-kata

Saat itu tiba
Tidak ada lagi bayang ayah
Mulai berguguran rambut ibu
Mereka duduk merenung

Melihat anaknya bertumbuh
Sambil menebak
Sudah benarkah mereka mengasuh

Biar nanti tak dipermalukan
Atau dipanggil asu.

-2021

Baca Juga :   Ciuman Pertama Antologi Puisi Defri Noksi Sae

Baca Juga : Vita Quaerens Fabulam (Hidup harus dinarasikan)
Baca Juga : Daun Di Pagar Rumahmu Antologi Puisi Fr. Blasis Prang

KITA SEPASANG


Kita adalah sepasang detik dan detak
Pada jam dinding di rumah Tuhan
Ketika ada yang menghitung detik kehilangan
Mereka akan merindukan detak pertemuan
Tuhan suka memperhatikan waktu
Melihat kita berlalu
Sambil tersenyum
Ia mulai menulis takdir baru
Pada hari yang entah
Ketika mendengar detak menggema bahagia
Dan detik terus berada di dekatnya
Tuhan melihat semuanya indah.

Baca Juga :   Selamat Bertambah Usia " N" Antologi Puisi Maxi L Sawung


-2021

Baca Juga : Antologi Puisi Banera.id ( Spesial Hari Puisi Sedunia )
Baca Juga : Kamu Antologi Puisi Maria Magdalena

KETIKA CINTA ITU BUTA

Jika cinta itu buta
Aku akan mengalah
Membiarkan kau menuntun arah
Sebab telah aku percaya
Rasa yang jatuh dari pandangan mata
Memang sudah takdirnya
Terlepas nanti akan suka
Atau luka itu semua bagian dari bahagia
Banyak yang mengira pada cinta
Hanya ada kegembiraan
Tanpa ada kehilangan
Maka ketika mereka menangis
Akan ada kutukan bagi pertemuan
Padahal rasa cinta itu serupa buah terlarang
Yang tumbuh di dalam dada
Dan hidup di tengah Indra
Dengan hukum rimbanya:
Jangan makan terlalu sedikit
Juga jangan makan terlalu banyak
Sebab rasa nyaman bertahan sejauh percaya
Kaki akan terus melangkah di atas jalan
Dan tidak akan berakhir pada tepian jurang
Kekecewaan.
-2021

Penulis: Maxi L Sawung, tinggal di Maumere, menyukai buku. Menghabiskan sisa waktunya di Facebook, @Maxi L Sawung.


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button