cerpen

Bukan Aku Yang Dikubur, Tapi Harapku

Oleh : Korsin Budiman

Tentang pergi yang paling aduh, Selalu ada pamit yang paling pedih, itulah kosa katamu  Lia sewaktu menceritakan temanmu yang jatuh karena cinta, senja itu. Hari itu bertepatan dengan tanggal ulang tahun  kelahiranmu. Aku masih ingat ketika engkau menitipkan kepalamu di pundakku lalu dengan lirih penuh harap berkata, “aku tak ingin seperti temanku itu, aku ingin kita tetap memandang senja yang siap ditelan malam dengan senyum yang sama, walaupun malam sering kali menjanjikan ketakpastian. Aku ingin heningnya sore ini menjadi amin untuk kisah yang sudah kita rajut bersama selama ini”, pintamu lagi.

Rasa-rasanya dadaku telah menjadi kotak untuk menyimpan segala pintamu Lia”, jawabku singkat.

Ah, memang engkau pandai berkata Jef, tapi Lia yakin apa pun itu, pasti semuanya berarti bagiku”, jawabmu sambil mencubit pipiku manja.

Kata orang cinta selalu melempar orang pada pengalaman ekstase nun jauh, merapal amin pada ingatan yang tak pernah pergi, tapi cinta pulalah yang menguburkan segala harap bahkan  mungkin juga dirimu.

Baca Juga : Pemakaman Antologi Puisi Maxi L Sawung
Baca Juga : Ruteng, Kota Patah Hati Antologi Puisi Konstantina Delima

Ah buat apa juga terlalu memikirkan kata orang lain, hanya membuang waktu saja”. Potongku setelah imajinasiku mulai ikut mengeja apa yang telah dikatakan oleh mereka, “yang terpenting saya sudah nyaman dengan dia, jadi santuy saja bro. Tuhan juga tidak mungkin mau meneteskan air matanya hanya karena kata ingkar pada janji yang kuaminkan senja itu”.

Baca Juga :   Perihal Mencintaimu

Hari-hari  kami lewati dengan penuh canda tawa. Kuajak Lia pergi ke tempat-tempat yang paling pas untuk dua sejoli yang sedang mabuk asmara dan rasa-rasanya waktu sangat berharga untuk dilewatkan karena senyum yang entah itu memikul segala harap untuk tetap  bersama selamanya.

Tetapi ketika pertengahan bulan Juni, rasa-rasanya hidupku hancur, mau mati rasanya  (eh macam Tuhan Yesus saja). Ternyata Lia hendak pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya, entahlah mungkin karena ia adalah salah satu mahasiswa paling berprestasi di kampusnya atau tercantik dan seksi.

Baca Juga : Hujan Penghianat Antologi Puisi Novi Meti
Baca Juga : Antara Pagal, dureng dan senyum khas milik Ndu Antologi Puisi Oncak Sarigoza

Iapun mengajakku untuk bertemu di sebuah cafe tempat kami jatuh cinta pada pandangan pertama tepatnya pada saat liburan Natal bulan Desember. Dengan berat aku melangkah dari rumahku menuju cafe, maklumlah jaraknya terlalu jauh, apalagi hujan begitu deras. “Mungkinkah ini pertanda bahwa alam pun ikut menangis menyaksikan diriku ditinggalkan sang kekasih”.

Sudahlah paling tidak aku ingin melihat senyumnya untuk terakhir kalinya yang selama ini aku taburkan di setiap mimpi tidurku atau paling tidak aku ingin menjadikan senyumnya yang paling teduh sebagai bantal tidurku sekaligus kepalaku yang cemas akan berita kematian karena covid-19 dari negeri seberang”. Aku pun dengan cepat menancap gas motorku menyusuri malam yang paling pekat dan hujan yang merajam seluruh tubuhku hanya untuk melihat sang kekasih.

Baca Juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus
Baca Juga : Rindu yang Sempat Riuh

Sesampainya di cafe, Lia sudah menungguku dengan penuh cemas karena hujan yang sangat deras dan dingin malam yang paling brengsek. Dia pun menyambutku di depan pintu seperti menyambut anak yang hilang seperti yang dikisahkan dalam kitab suci itu. Aku pun enggan untuk memeluknya, karena percuma saja, semuanya tidak akan mengobati dada ini yang terlalu sesak dengan pintanya senja itu. Tetapi Lia mengerti dengan apa yang sedang kugulati malam itu. Ia memilih untuk masuk lebih dahulu dan menarik kursi agak jarak dari meja agar aku bisa duduk. “Engkau mau pesan apa Jef”, tanya Lia seraya siap berdiri untuk memberitahukan pesanan kepada pelayan di cafe itu. “Biar aku pesan segelas kopi saja  Lia”. Pintaku sambil menyalakan sebatang rokok yang masih sisa tadi sore.

Baca Juga : Kesedihan Antologi Puisi Inggrida Astuti Lestari
Baca Juga : Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Setelah ia memesannya, ia pun langsung meletakkan cangkir yang berisikan kopi di depanku. Anehnya ia juga memesan secangkir kopi sepertiku walaupun ia sendiri tidak menyukai kopi. Tetapi mungkin ia ingin merasakan apa yang kurasakan malam itu, atau mungkin juga ia ingin merasakan tentang pahit dan manisnya hidup tapi bersatu dalam kehangatan yang paling resah seluruh. Atau entahlah aku hanya mereka-reka saja. Ia pun langsung memulai pembicaraan tetapi dengan sebuah pertanyaan, “menurut Jef, kata apa yang paling engkau benci dalam hidupmu”. Aku tertegun mendengar pertanyaannya, lalu aku berusaha untuk menegakkan mataku dan menatapnya, “aku benci kata pergi Lia”, jawabku. “Sejak aku mengetahui bahwa engkau akan pergi ke Amerika, harapku hampir patah tentang rumah tangga yang kita janjikan saban hari”. Seketika cafe itu sepi, seakan hujan yang sedaritadinya begitu deras kini memilih untuk jeda. Aku mendengar riak-riak air mata mulai  keluar dan jatuh dari kedua bola matanya Lia.

Baca Juga :   Kopi dan Sebatang Rokok

Dengan cukup tegar, ia memegang erat kedua tanganku, “sebenarnya aku tak ingin menyesakkan dadamu dengan perpisahan ini, aku ingin kita tetap bersama walaupun ada jarak di antara kita. Saya hanya ingin memeluk masa depanku yang cerah, dan masa depan kita jef, masa depan kita..”, tegasnya untuk berusaha meyakinkanku. Tetapi aku tak cukup kuat untuk meyakinkan diriku tentang kemungkinan di hari esok.”Lia aku tidak ingin  menghalangi niatmu, aku sangat mendukungmu untuk belajar ke Amerika, dan aku lebih bahagia ketika engkau berhasil di sana dan tentang janji kita saban hari, biarlah itu menjadi cerita yang paling merdu untuk kau nyanyikan di sela-sela belajarmu” gumamku untuk meyakinkannya. Setelah mendengar ucapanku dia langsung meninggalkanku dengan tak sempat mengeringkan air mata pada pipinya. Aku berdiri untuk menahannya sebentar tetapi dengan cepat ia di telan oleh hujan yang lebat dan malam yang paling pekat.

Baca Juga :   Jomblo Itu Bebas

Ledalero, 21 Januari 2021

Korsin Budiman

Penulis adalah salah satu mahasiswa di STFK Ledalero. Sekarang ini tinggal di Unit Mikhael.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Periksa Juga
Close
Back to top button