Renungan

Belas Kasihan Tuhan

Foto: dok pribadi

Oleh: Gust Kani, CS

“Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15)

Tak dapat dimungkiri, bersukacita atas kebaikan orang lain merupakan buah termulia dari kualitas hubungan kita. Jika hubungan terjalin dengan baik, kita pun merasa gembira dan akan dengan gampang mengatasi setiap persoalan. Selain, saling membantu juga mengarahkan kita kepada hubungan yang positif, membuat kita merasa bebas keluar dari zona nyaman, dan mendorong kita untuk berbagi kasih tanpa tebang pilih.

Pada Minggu Biasa XXV ini, Penginjil Matius menarasikan kepada kita pengajaran Yesus melalui Perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur (Mat 20:1:16).

Dikisahkan bahwa dalam perumpamaan ini si pemilik kebun anggur berbuat menurut haknya, yaitu mengupah para pekerja bukan atas dasar jasa-jasa mereka sendiri, melainkan lebih atas dasar belas kasihannya.

Atas perlakuan si pemilik kebun, para pekerja melancarkan protes karena merasa diperlakukan tidak adil. Bayangkan! Si pemilik kebun anggur tidak membedakan banyaknya gaji yang diupahkan kepada setiap pekerja, yang konon telah bekerja menurut durasi waktu kerja yang berbeda-beda. Si pemilik hanya membayar satu dinar kepada setiap pekerja, baik mereka yang bekerja hanya satu jam maupun mereka yang bekerja seharian penuh.

Baca Juga :   Renungan, Minggu 10 Mei 2020

“Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari” (Mat 20:12), demikian protes para pekerja tersebut.

Barangkali, reaksi tersebut juga menjadi reaksi kita semua ketika membaca dan merenungkan perumpamaan ini. Protes para pekerja yang telah bekerja seharian penuh itu secara manusiawi memang masuk akal. Mereka menuntut perlakuan yang pantas dan adil.

Lantas, apa tanggapan si pemilik kebun anggur? Nyatanya, si pemilik kebun anggur setia dengan perjanjian yang telah disepakati:
“Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?” (Mat 20:13). Bahwa mereka semua dibayar dengan upah tetap, bukan per jam.

Merenung lebih dalam perumpamaan ini, marilah kita mengesampingkan pola pikir industrial dan perkara upah yang adil. Melalui perumpamaan ini, Yesus hendak menegaskan kepada kita bahwa belas kasihan Tuhan itu tanpa perhitungan, cuma-cuma dan jauh melampaui pikiran manusia.

Si pemilik kebun dalam perumpamaan tersebut tidak mementingkan seberapa lama para pekerja itu melakukan tugasnya, tetap seberapa teguh niat dan dedikasi mereka untuk bekerja hingga segalanya pun diselesaikan dengan baik. Demikian juga cara Tuhan memperlakukan kita semua. Tuhan selalu menunjukkan belas kasihan-Nya melampaui apa yang pantas kita dapatkan.

Baca Juga :   Renungan Harian

Dia juga menawarkan kita semua pekerjaan, menurut kemampuan dan talenta masing-masing, untuk mewujudkan Kerajaan-Nya yang adil dan penuh damai di tengah dunia. Kendati demikian, kita harus sadar bahwa setiap pekerjaan atau jasa baik yang kita lakukan kepada sesama yang lain, tidak memberi hak untuk kita menuntutnya dari belas kasihan Tuhan.

Pada bagian penutup perumpamaan ini, si pemilik kebun anggur bertanya kepada para pekerja yang protes: “Iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” (Mat 20:15). Kita mestinya tidak iri hati atau cemburu karena Tuhan bermurah hati kepada orang lain, namun bersyukur dan berusaha untuk tidak hanya memikirkan diri kita sendiri dan apa yang menurut kita pantas untuk kita terima. Kita seharusnya bersukacita karena Tuhan begitu murah hati dan penuh belas kasihan kepada kita semua tanpa syarat.

Nabi Yesaya menegaskan bahwa pikiran dan cara kita tidak selalu sejalan dengan kehendak Tuhan (bdk. Yes 55:8). Kita tidak berpikir seperti Tuhan, juga tidak bertindak seperti Dia. Kita justru cenderung pelit. Pemikiran kita selalu mengarah ke diri sendiri: Jika bukan untuk saya, bukan untuk yang lain juga! Kita sering kali terbelenggu oleh rasa iri atau cemburu.

Baca Juga :   Setia Adalah Harga Mati

Iri hati justru menyebabkan kesedihan tanpa akhir dan menimbulkan perasaan negatif dalam diri kita. Kita mulai menginginkan kejahatan dan berbicara buruk tentang orang lain. Iri hati adalah salah satu kejahatan terselubung yang harus diperangi.

Untuk menghalau segala perasaan cemburu atau iri hati, marilah kita mengarahkan perhatian kita kepada wajah Yesus yang berbelas kasih. Allah Bapa begitu murah hati sehingga mengutus Yesus, Putra-Nya, agar kita diselamatkan dari belenggu dosa dan memperoleh hidup yang kekal.

Terlepas dari pasang surut kisah hidup kita, marilah kita terus bersukacita dan menanggapi dengan murah hati kasih karunia yang Tuhan berikan kepada kita dengan tanpa syarat dan cuma-cuma. Semoga belas kasihan Tuhan menaungi kita agar mampu melawan segala rasa cemburu dengan sepenuh hati.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button