cerpen

Balada Salib

Foto: Fotolia.com

Oleh : RP.Ovan,O.Carm

Di sebuah persimpangan keheningan
Aku melihat
Sebuah tontonan yang mengejikan
Entah dimana kaki ini kan berpijak

Peluh tubuh dirajam
Bebas cambuk membias brutal
Menyengat di antara mentari yang meramuh
Ah…. Sekilas kumelihat sorot mata ketulusan
Mengapa ini terjadi?
Mendengar teriakan masa
Salibkan Dia! salibkan Dia! salibkan Dia!
Ego terperih membungkam dari celah-celah ranting yang katup
Martabat manusia diinjak-injak
Satu, dua, tiga
Ahahhaha,
Jumbai jubahnya dibuka
Tubuh ditelanjangi bermandikan darah dan luka-luka bekas pendarahan

Dimana nurani kita?
Pada salib yang terbaring kaku
Aku menghitung satu persatu masa
Ada tawa
Ada tangis…
Di jejak-jejak keheningan itu,
Ada takut yang menyergap
Ah kita…
Siapa yang kita tangisi?
Apa yang kita takuti?
Tidakkah kita puas dengan ego kita?
Sadar,sadar, tak ada gunanya lagi
Semuanya lebur
Menyatu dalam setetes demi setetes darah yang mengalir
Salib bersimbah darah
Setetes demi setetes pecah di atas ibu bumi

Kembali,
Kudengar gerangan di atas kayu salib
Kata dari derita yang tak terperikan
Beban salib yang dipikul bukan juga salahnya
Teriaknya
“Bapaku, bapaku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”
Kematian telah tiba
Gemuruh langit kembali menggelegar ibu bumi
Ah Tuhan,
Sungguh orang ini Anak Allah
Mengapa sesal itu menjadi penghujung,
Nurani kita membungkam
Jiwa kita masih mengadu
Mata kita masih diliputi dengki,
Rajam kebencian
Saudara/I lihatlah salib itu
Ada cinta dari keselamatan yang ditehbusnya
Saudara/i,
Salib kita menunggu kita

Balada Jumat

Sudah habis kisah laluku
Mengembara di antara kicauan pelangi senja
Membuang semua lembaran hidup
Satu persatu kutanggalkan tangga,
Bulan dan tahun tak sadar ku menitih air mata

Sejarah kelam,
Kisah sepongah takdir hilang di atas jerami-jerami kayu
Menengadah,bertekuk sujud,menjerit,mengerang
Perjalanan yang belum usai

Arek-arek berbaris
Mencibir, meludah lalu menjerit
Salibkan Dia!salibkan Dia!
Salibkan Dia!
Malam menjadi kelabu
Sepasang mata mematai-matai
Lalu sekeping perak menjadi pemuas nafsu
Ah, manusia

Cambuk saling mencambuk,
Desiran nadi berepotan
Siapa yang memenangi tetesan demi tetesan
Mengerang di antara sakit dan kepedihan
Satu persatu pecah
Di antara jelah-jelah pijakan
Tanah mengenang ada darah meniti perih
“Bapa, ampunilah mereka,
Sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”

Bengis serdadu Yahudi
Mengembara di antara jalan-jalan
Luka mengangah
Putri-putri Yerusalem menetes tak lama lalu permisi
Tersungkur dan jatuh
Tak terasa Golgota sejenak mampir
Ada undi mengundi
Martabat di balik kedengkian

Siapa dan mengapa gerangan berlanjut
Satu,dua,tiga
Lumpuh
Katrol kata menarik sepongah tubuh tak berdaya
Lalu berbisik
“Tuhan ingatlah aku
Ketika Engkau berada di dalam kerajaan bapa-MU”
Dimana telinga…
Ketika hujatan demi hujatan berlari mengejar
Hahahaha
“orang lain Ia selamatkan
Tapi apa dirinya sendiri tidak Ia selamatkan”
Memalukan, bukan?
Kata seorang upahan dari kebodohan mereka
Ah, Tuhanku!
Bukalah mata mereka

Sejenak gelap seperti pekat
Menghalau petang yang lagi mengganas
“Bapaku, ya Bapaku mengapa Engkau meninggalkan Aku?”
Tabir perjanjian itu terbelah…
Ricuh,
Berantakan dan semuanya terbirit,
“Sungguh, orang ini anak Allah”

Baca Juga :   Antologi Puisi Hams Hama

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button