cerpen

Balada Natal di Perantauan

Aksamina Belyah

Rindu yang tetata rapi dipertengahan bulan november adalah rindu pada dirimu Mama.
Saya berharap, Kita segera saling merangkul,
melepas rindu yang kian menggebu. Sebab, tak ada harga yang setara untuk membayar rasa rindu , selain pertemuan itu sendiri.”

“Mama,,” suara pelan seperti sedang menggigil seketika pecah dalam kamar kos. “Aku rindu pulang! Aku ingin pulang! Aku rindu Mama! Akankah desember kali ini kita bisa rayakan Natal bersama? Kupang dan Alor bukanlah jarak yang dekat. Kita dipisahkan oleh lautan yang membentang luas, ma. Mungkin bagi orang lain, perihal rindu yang terbentang antara aku dan mama adalah hal yang tidak rumit. Namun, bagiku untuk berjumpa dengan mu mama, adalah peristiwa rumit yang selalu kupecahkan tiap kali menjelang Desember.” Pelan-pelan perempuan itu memeluk bantal gulingnya, menarik selimut, sambil membungkukkan kedua lututnya. Kedua pupil matanya seperti menyimpan sepenggal kisah pilu yang tak bisa ia lupakan. Hari itu, ia benar-benar patah. Belum lagi dua baris kalimat masuk ke layar hanphonenya.


“Nona, natal di Kupang saja ya? Mama tidak punya cukup uang untuk kirim kasih nona.” Kembali suara isak tangis penuh di ujung bibirnya.


“Lisa, kamu kuat kok! Merayakan Natal di Kupang atau pun di Alor semuanya sama. Tetapi, akankah kamu tabah ketika kedua bola matamu melihat keluarga yang lengkap duduk di sampingmu disaat malam Natal? Bisakah kau menahan air matamu ketika membakar lilin Natal seorang diri, tanpa ada siapa-siapa yang kau kenal, selain Ibu Pendeta yang memimpin ibadah di malam Natal nanti?” Suara gemuruh penuh tanya sontak memenuhi isi kepalanya. Rasanya malam itu adalah malam yang paling kelam dalam sejarah hidupnya.

Baca Juga :   Tak Bisa Membohongi Rasa


Beberapa mimpi telah Ia rangkai sendiri bersama sunyi di sudut kamarnya, beberapa doa sering ia naikkan setiap kali suasana kos sedang sunyi. Namun, semua itu tak berjalan sesuai harapannya.


Malam itu, ia berusaha melapangkan batinnya. Pelan-pelan ia merespon SMS yang masuk di layar ponselnya.
“Ya, mama. Tidak apa-apa. Nanti saya natal di sini saja. Mama sehat-sehat di situ ya. Jangan lupa selalu doakan Lisa ya ma. Lisa sayang mama.”


Satu setengah pekan berlalu, Desember pun tiba. Terlihat Lisa yang sedang duduk merenung di depan cermin. Raut wajahnya seakan sedang merindukan seseorang. Lelaki sederhana yang mecintai ibunya dengan cara yang sederhana, beliau yang memiliki hati yang tabah, yang selalu mengungkapkan cinta kepadanya dalam bentuk tindakan nyata, mengajaknya berkelana menyusuri belukar untuk mencari telur ayam hutan, buah kenari, serta yang mengajarkan Lisa tentang bagaimana cara memilih lahan yang cocok untuk dijadikan ladang. Beliau adalah sosok ayah yang setelahnya tidak pernah ia temukan sosok seperti beliau.


Beberapa menit kemudian, air matanya jatuh dibawah pelupuk matanya. Seketika ia tersungkur, menunduk dan menagis sejadi-jadinya.
“Tuhan! Haruskah aku ada di situasi ini? Tuhan! Tidakkah kau melihat batinku? Untuk kali ini, aku hanya rindu merayakan Natal bersama mama dan saudara saudariku!”
Untuk sekali lagi, Ia benar-benar merasakan rapuh.


Menjadi anak perempuan terakhir yang diperbolehkan untuk merantau, melanjutkan studi di perguruan tinggi yang jauh dari jangkaun keluarga telah membuat Lisa tumbuh menjadi perempuan yang berbeda dengan teman sebayanya. Belajar tabah, bersyukur untuk setiap peristiwa yang ia alami, serta mensyukuri perbuatan-perbuatan baik yang diterimanya membuatnya menjadi pribadi yang sederhana, pekerja keras dan selalu tabah dalam menjalani hidup.

Baca Juga :   Om Sopir Pung Ego Deng Gesek-gesek Manja Para Penumpang


Sampai di suatu sore, tepatnya tanggal dua puluh empat Desember, lonceng Natal telah dibunyikan, lilin-lilin kecil beraneka warna pun telah dinyalakan, ditambah lagi dengan lantunan lagu Natal yang diputar oleh tetangga kosnya yang senasib dengannya. Suasana begitu syahdu namun berbeda dengan batin Lisa. Merasa sebatang kara di tengah-tengah kegaduhan telah merasuk dalam batinnya. Nyatanya Ia tidak mampu berada di situasi yang dialaminya.


Tok! Tok! Tok!
“Lisa, kamu sudah selesai siap-siapnya?” pertanyaan yang dilontarkan oleh Tania dari depan pintu kamar Lisa.
“Iya Tania, ini sudah mau selesai.” Pean-pelan ia berdiri sambil menyeka pelupuk matanya yang basah.
“Oke kalau begitu, saya tunggu di depan kos ya,” lalu berjalan menuju gerbang masuk ke kos. Selesai bersiap-siap, Lisa pun keluar menghampiri Tania. Lima belas menit kemudian, Lisa dan Tania tiba di Gereja Genezaret Diospora Danau Ina Oesapa. Di gerbang depan Gereja, tampak dua Majelis Gereja yang sedang berdiri dengan bahu sedikit membungkuk sambil bersalaman dengan setiap jemaat yang datang ke Gereja.


Saat itu waktu menunjukkan pukul 20.00 WITA. Tampak Mamanya Lisa yang sedang sibuk merapikan kue-kue Natal bersama ibu-ibu yang lain. Suasana Natal sangat terasa. Namun, sesekali beliau menoleh ponselnya, berharap ada SMS yang masuk. Tentunya SMS dari Lisa.
“Ibu, anak ibu yang bungsu itu tidak pulang liburan ya? Kok dari tadi dia tidak kelihatan?” tanya seorang ibu yang berdiri di samping beliau.


“Oh, Lisa anakku? Untuk liburan kali ini, dia tidak pulang,” jawab beliau dengan nada pelan.
“Oiya Ibu, pantasan saja dari tadi saya tidak melihatnya. Semoga dia sehat-sehat di sana ya bu,” respon ibu itu dengan nada ramah.
“Amin. Terima kasih ya bu,” sedikit membungkukkan tubuhnya seraya berterima kasih.

Baca Juga :   Kado Ulang Tahun Carla

Lisa duduk di samping Tania dan seorang ibu yang berusia kira-kira empat puluhan tahun. Sepanjang prosesi ibadah malam Natal berlangsung, Lisa terlihat sangat tidak fokus. Ditambah lagi dengan serumpun keluarga kecil yang lengkap duduk di bangku pas di depan Lisa dan Tania. Bagaimana tidak jika Lisa semakin merasa terharu? Sontak Ia teringat akan suasana Natal tujuh tahun yang lalu, ketika almarhum ayahnya masih bersama dengan mereka. Suasana Natal yang sesudah itu tak pernah ia rasakan. Pilu itu kembali memuncak ketika prosesi pembakaran lilin keluarga oleh semua anggota keluarga yang diwakilkan.


“Lisa! Selamat Natal ya! Selamat merayakan hari kelahiran Yesus Kristus sang juru selamat dunia! Lisa, Tuhan ada bersamamu ketika kau merasa tak ada keluargamu saat ini!” bisikan pilu keluar dari batinnya sendiri. Suasana Natal semakin memuncak, ketika lampu dimatikan, hanya lilin-lilin kecil yang dinyalakan. Tania yang adalah teman satu kos Lisa, pun merasakan hal yang sama. Mereka berdua saling merangkul dan menagis.


“Selamat Natal ya Lisa,” ucap Tania dengan nada pilu.
“Selamat Natal juga ya Tania,” Tuhan beserta kita.

Sepuluh menit kemudian, ibadah Natal pun selesai. Tania dan Lisa kembali ke kos. Sepanjang perjalanan mereka ditemani senter ponsel android milik Lisa serta dentingan lagu Natal yang ia putar di ponselnya. Sesampai di kos, mereka berdua membakar lilin kecil yang telah disiapkan. Mereka berdua berdoa bersama, mengucap syukur untuk semua hal yang telah mereka alami. Mereka percaya bahwa Tuhan ada untuk mereka dan keluarga mereka yang jauh di desa.

Artikel Terkait

Komentar

  1. Terima kasih Kak Admin BANERA.ID yang telah mempublikasikan Karya saya yang masih tergong belia ini. Hal-hal baik kiranya selalu berpaut padamu Kakak.

    Salam sayang dari Alor.🥰

  2. Terima kasih Kak Admin BANERA.ID yang telah mempublikasikan Karya saya yang masih tergong belia ini. Hal-hal baik kiranya selalu berpaut padamu Kakak.

    Salam sayang dari Alor.🥰

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button