cerpen

Ayahku Menjelma Pria Berjas Putih

Penulis | Veer Lado, Pengembara yang abadi

Suara mobil bagai deru ombak yang memecah pantai sudah menjadi sahabatku sejak aku memilih hidup di Ibu Kota. Aroma sampah yang menggunung dekat kontrakan tempat aku tinggal sudah menjadi hidangan tetap untuk indra penciumanku.

Bagi mataku, debu di jalanan ketika aku mengendarai sepeda motor layaknya hati yang ditinggal kekasih, meneteskan air mata. Kota polusi.

Sudah seperti sebuah ritual khusus, aku selalu bangun pagi untuk menyambut fajar dan menikmati hangatnya arunika dari fly over dekat kontrakanku.

“Jangan lupa, ya. Hari ini kamu ada janji bertemu dokter.” Kekasihku Virginia mengingatkan aku lewat pesan singkat.

Kekasih yang terpisah jarak, tetapi terasa begitu dekat meski hanya lewat gawai. Matahari mulai terik. Aku kembali ke kontrakan, berjalan kaki meninggalkan fly over.

Bunga indah dengan kuntum berwarna merah bermekaran di halaman. Aku tidak tahu, apa nama bunga itu. Namun, seingatku tempo hari Virginia bilang itu bunga pukul sembilan.

Entahlah, aku bukan lelaki pecinta bunga. Ya, kira-kira pukul sembilan aku mengendarai sepeda motor menuju rumah sakit. Motor tua kesayanganku, teman jalan dalam suka maupun duka selama empat tahun terakhir ini.

Tiba di rumah sakit, aku meninggalkan motorku di tempat parkir. Segera kutemui dokter mata untuk melakukan pemeriksaan.

“Matamu mengalami katarak dan harus di operasi.”


Kata dokter beberapa saat setelah melakukan pemeriksaan. Aku terdiam. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Setelah sejenak terdiam, aku berkonsultasi dengan dokter, berharap ada cara lain selain operasi. Ya, semisal terapi. Namun, harapanku pupus. Satu-satunya agar mataku bebas dari katarak hanyalah operasi.

“Ah, badai cobaan apa lagi ini?” Keluhku.

Suster membawa aku menuju laboratorium untuk melakukan pengecekan gula darah. Dokter pun memutuskan agar segera melakukan tindakan operasi setelah mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium bahwa gula darahku normal.

“Besok matamu akan dioperasi karena lebih cepat kita melakukan tindakan akan jauh lebih baik. Jangan lupa bawa keluargamu.”

Kata dokter. Aku meninggalkan ruangan pemeriksaan. Aku mengeluarkan gawai dari saku celanaku lalu menghubungi Virginia, berharap dia bisa datang menemani aku besok.

Namun, Virginia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, ditambah lagi sudah tidak ada jadwal kereta kelas ekonomi dari Semarang ke Jakarta.

Aku meninggalkan rumah sakit, menyusuri jalan kembali ke kontrakanku. Betapa menderitanya jauh dari keluarga dan hidup sendiri di antara orang asing dengan beragam kesibukannya masing-masing.

Aku memeluk tubuhku seerat mungkin. Kuratapi diriku sendiri, membayangkan betapa sedihnya ketika aku harus melakukan semua pekerjaan dan rutinitasku sendirian setelah operasi nanti.

Sejak kepergian ayahku 19 tahun lalu, aku sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan sendirian. Namun, kali ini aku membutuhkan orang lain untuk menemaniku.

“Sekuat-kuatnya seseorang, pasti akan membutuhkan orang lain.”
Aku ingat ungkapan itu.

Senjaku jadi kelabu. Tak seindah senja-senja yang sudah aku lewati. Dersik angin malam seakan menggodaku.

Mungkin saja ia merindukan senyum khasku yang selalu ia bawa ke seluruh penjuru mata angin ketika ia membelai rambutku.

Membayangkan ruang operasi membuat kepalaku nyeri. Seperti dihimpit batu besar, dadaku terasa begitu sesak.

Hingga tengah malam mata tak bisa terpejamkan juga. Harusnya aku sudah tidur pulas dan mungkin saja sedang menikmati mimpi.

Suhu badanku panas sekali. Aku demam, mungkin karena aku terlalu panik.

“Tuhan, mengapa harus aku. Masih belum cukupkah cobaan yang Engkau berikan selama ini?”

Jerit batinku dalam kebingungan.

Aku meninggalkan ranjangku menuju sudut kamar, tempat aku menyimpan patung Keluarga Kudus Nazareth yang aku beli dari gaji pertamaku waktu itu.

Aku menyalakan lilin, lalu aku mulai mengadu pada Bunda Maria. Aku meminta melalui perantaraan Bunda Maria, kiranya Tuhan sudi merangkulku, agar aku tidak sampai sakit.

Tanpa aku sadari, bulir-bulir menetes dari balik netraku, membasahi pipiku.

Baca Juga :

Pilkada

Pukul 05.30 WIB aku terbangun. Rasanya aku baik-baik saja. Suhu badanku sudah kembali normal. Mataku langsung tertuju pada sudut kamarku.

“Bunda, terima kasih.” Bisikku sambil tersenyum.

Setelah mengumpulkan semua nyawaku yang tercecer di atas ranjang, aku meninggalkan kamarku dan melakukan semua ritual yang sudah menjadi kebiasaan yang harus aku lakukan setiap pagi.

Namun, pagi ini agak berbeda. Senyuman khasku menjadi pilu dan getir. Tangis senduku pecah di Kamis pagi tanggal 12 September tahun ini. Aku harus menulis kisah baru lagi dalam sejarah hidupku.

Matahari sangat terik di atas kepala. Aku kembali menyusuri jalan menuju rumah sakit. Kutapaki lorong rumah sakit yang sepi menuju ruang tunggu.

Ada beberapa pasien di sana, tetapi mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Betapa susahnya menemukan senyuman di kota yang tak pernah tidur ini, kota yang penuh dengan hingar bingar kesibukan masing-masing.

Baca Juga :

SELEPAS SENJA PERGI [Puisi-puisi Filbertus Sarigosa ]

Baca Juga :

Penuh Kasih Aku Mencintaimu

Setelah menyelesaikan administrasi Rumah Sakit, oleh beberapa suster aku dibawa menuju ruang operasi.

Dokter yang kutemui kemarin sudah menunggu. Aku begitu takut. Tetapi aku meyakinkan pada diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Mana keluargamu? Bukankah kemarin saya bilang bawa keluargamu juga?”

Dokter bertanya padaku. Aku terdiam. Lalu tanpa ragu dan malu aku mulai menjelaskan pada dokter alasan mengapa aku sendiri.

Setelah mendengar ceritaku, dokter merangkulku. Pelukan lelaki berjas putih itu terasa hangat sekali.

Rasanya seperti aku sedang dipeluk mendiang ayahku. Dekapan hangat yang sudah lama aku rindukan, kembali kurasakan hari ini di ruang operasi.

Aku pun makin mantap dengan keputusan untuk dioperasi.
Aku berbaring di ranjang rumah sakit.

Lampu-lampu ruang operasi berdiri kokoh di samping ranjang seperti serdadu yang menjaga tuannya. Dokter lalu melakukan pekerjaannya dengan sungguh.

Sambil sesekali ia menggodaku dengan jargon-jargon lucu ala-ala anak metropolitan. Beberapa suster yang membantu dokter di ruang operasi juga ikut-ikutan menggodaku.

Masih jelas dalam ingatanku, ada seorang suster yang sedang mengandung. Ketika menggodaku, ia mengambil tanganku dan diletakkannya pada perutnya sambil mengucap doa penuh harap agar anaknya kelak menjadi pribadi tangguh sepertiku.

“Suster ini ada-ada saja.”
Kataku dalam hati.
Beberapa saat kemudian operasinya selesai. Perlahan aku bangun dan turun dari ranjang operasi.

“Semangat, ya. Kamu anak yang kuat, kamu hebat.”


Kata dokter padaku dengan mata bening menahan tangis, memberi penguatan padaku. Aku pandangi matanya. Tatapan penuh kasih dan penguatan yang tulus terpancar dari matanya.

Aku pun seperti sedang melihat ayahku di dalam matanya. Ternyata masih ada orang baik di kota yang penuh dengan kesibukan ini. Pikiranku selama ini salah.

Aku meninggalkan ruang operasi menuju apotek rumah sakit. Beberapa saat kemudian seorang petugas di bagian farmasi memanggil namaku.

“Selamat ulang tahun, ya. Ini kado ulang tahunmu besok.”

Kata petugas itu sambil tersenyum sembari memberikan beberapa jenis obat tetes dan beberapa bungkus pil yang harus kuminum.

Bersama motor tua kesayanganku, aku kembali menyusuri jalanan menuju kontrakan.

Aku mengendarai motor itu penuh hati-hati karena pandanganku hanya dengan satu mata saja. Mata yang sudah mengidap katarak sekitar 30% itu sudah dijadwalkan juga untuk dioperasi 3 bulan lagi.

Sungguh, ini menjadi kisah luar biasa yang harus kugoreskan dalam catatan hidupku tahun ini.

Matahari terjerembab ke peraduannya. Semburat jingga di batas cakrawala mulai menghilang. Swastamitanya sirna dihalau gelapnya malam.

Ruang lelapku sengaja aku biarkan gelap. Lampunya tidak kunyalakan. Jendela kamar aku biarkan saja terbuka.

Hujan begitu deras menghujam atap kontrakanku. Aku mencium aroma petrikor yang dibawa masuk oleh dersik angin malam ke dalam kamarku. Aku rindu aroma tanah kelahiranku.

Kembali kunyalakan lilin di sudut kamarku. Di bawah kaki-Nya aku bertelu.

“Tuhan, terima kasih untuk kado ulang tahun terindah tahun ini.”

Batinku sembari kugenggang salib dari Rosario yang melilit di leherku. Aku masih percaya satu hal, setiap cobaan yang kuterima dan dijalani dengan penuh rasa syukur akan berakhir indah. Entah kapan, biarlah kehendak-Nya yang terjadi.

(Bekasi, 27 September 2020)

Baca Juga:

Bersumpah di Tengah Pandemi Covid-19

Baca Juga :   Gadis Senja di Puncak Golo Curu

Artikel Terkait

Komentar

  1. Waouwwww…. sungguh mengharukan. Ku teringat juga saat kos di Jakarta. Kehidupan metropolitan yang egois. Hanya memikirkan diri sendiri. Hampir tidak ada belarasa. Tapi percayalah bahwa pasti Tuhan akan menghadirkan satu orang yg tulus hati untuk membantumu.
    Tetaplah menjadi pribadi yg tegar. Karena segala suka duka hidup yg kamu hadapi akan semakin memperkokoh kakimu untuk melangkah dan mempertebal hatimu untuk tidak mudah cengeng.
    Selamat menapaki bukit yg mungkin tidak sehalus jalan aspal, berkerikil tajam. Jangan takut karena Tuhan pasti akan menyertaimu.
    Semangat mas boy????☕️

  2. luar biasa lelaki tanguh yang baru aku kenal deng sapaan aji, tetaplah bersyukur deng keadaan apapun, tetap semngt menjalani hari harimu, salam n doaku untukmu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button