cerpen

Antologi Puisi Hams Hama

Foto: Google

Kamar dan Ibadah Sunyi

Di kamar ini, tak ada yang bisa diajak kompromi
Selain sebait doa yang melesap dalam sunyi
Jika hari-hari pergi
Dan waktu tak pernah kembali
Jangan mencarinya untuk diajari
Bagaimana seharusnya mencintai

Jika hari-hari pergi dan waktu kau harap kembali
Bersiap-siaplah: akal boleh kau siasati
Tapi perihal mencintai janganlah kau nodai
Sebab ukuran untuk mencintai
Tak bedanya doa yang tulus dari kobaran nurani

Sungguh, di kamar ini,
Aku tak tahu siapa yang lebih pandai mencintai
Apakah doa yang kerapkali kuakrabi
Atau kamar yang selalu berhasil menjadi penjara yang abadi

Ritapiret, 29 Maret 2020

Marayu Tuhan

Baca Juga :   Gadis Pasir

Sujudku serisau resah
Rinduku segusar gelisah

Aku haus.
Masihkah Kau milikku
Dan aku kepunyaanMu
Setelah kubenamkan cuka yang paling haram
Dan menolak setiap cawan yang Kau teteskan
Aku haus.
Barangkali masih tersisa sumur dibatas pengharapan
Ataukah ini isyarat genta memanggil taubat
Setelah teguran Kau tawarkan lewat isyarat dari setiap isi sabda yang masih perawan dari ingatanku?
Ritapiret 10 Februari 2020

Mata Rindu

Di persimpang ingatan
Kutemu kau bermandi sunyi bertatap kosong
Bermimpi sia-sia
Di persimpang ingatan
Ku temu kau memeluk sepi Mendekapnya erat
Dan kutanya pada sunyi Kucari pada ingatan
Kau masih di sana Mendiamkan rindu
Ada matamu
Ada mataku
Matamu mataku
Mata yang mencari
Mata yg mengharap
Matamu mataku mata sunyi
Tatapmu tatapku tatap sunyi
Dan kita pun melihat sesuatu yang sama
Samar: Rindu

Baca Juga :   Masih Ada Bekas Lipstik Pada Bibirmu

G. Samador, 27 Oktober 2019

Perempuan Pemeluk Luka

Serasa kata kalah seketika menguraimu bertahan dalam luka
Dan gerimis seakan mengekal kenangan penuh nestapa:
Di mata
Di jantung hati
Memaggut yang tertinggal sepi.
Mungkin sendirimu lebih menuai arti waktu sejengkal jari
Daripada berlaksa merapal curiga setiap doa
Ketika rusuk yang mengintip selalu saja lalu.

Seperti malam tadi kita bercerita
Menyoal arti sebuah cinta yang kadang lebih dipreteli
Daripada dimaknai
Tak lagi hitung satu darah dan rahim.
Dan sendu dimatamu bukan saja melupakan waktu untuk protes padaNya
Tapi gerah yang hampir membuncah..

Baca Juga :   Merindu Antologi Puisi Widiana Marny

Kau kunamai perempuan pemeluk luka
Yang mengekalkan kenangan kita
Merupan kata dalam sajak tergoreskan dipayungi gerimis yang kian resah

Rita yang sepi, 17 Januari 2019

Meyingkap Rindu

Kepadamu kusingkap rindu bekuku
Di antara sepi yang pernah kupahat dalam waktu
Tak hitung lelahnya menguras jaga dalam tabah yang indah
Tentang setia yang entah milik siapa.

Dan kemarin, di temaram senja
Kau perlahan mendekatnya hingga berhasil kau curi diamku
Dan pulang kau bawa serta rinduku
Yang kau cairkan di bawah terik dan bayang-bayang kita yang legam

Ritapiret, 10 Februari 2020

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button