Puisi

Antara Pagal, dureng dan senyum khas milik Ndu Antologi Puisi Oncak Sarigoza

Aku dan dureng milikmu masih menanti balasan rindu paling jitu
Tawa yang rapuh, kecup yang juga setuju

Oncak Sarigoza

Ndu, senyumu masih meraja di hati
Antara hujan Januari dan pagal yang di landa sepih
Aku memilih menyelip kopi di antara keduanya
Sebab, sisa kecupan mesrahmu masih tersisa di ujung cangkir milik hati

Jangan kau tanya mengapa semesta menitip rinai
Tapi, seberapa besar rindu milik bumi yang ingin memelukmu pasti
Aku tak mampu menjadi pawang, cukup ku ulang namamu di sela-sela rintikannya
Kau pasti tau!
Kau menelantarkan rindu atau ini hanya dusta langit

Ndu!
Dua hari yang lalu
Saat genangan air melulu lantah nyata
Aku memilih mentraktir hujan dengan puisi
Tidak lebih, selain mengungkap kecewa
Aku juga menertawai matahari yang bersembunyi

Baca Juga :   Dalam sepi yang masih terlalu dini Antologi Puisi Yofri

Aku ingin namamu tetap menjadi idola
Temu walau sepertiga
Rinai menghentikan sedetik nada
Sehingga, gunungan rasa bertemu sua
Kita memupuk akrab jumpa

(Pagal, 30 Januari 2021)

Baca juga : Penjajahan Modern 2020-2021
Baca juga : Kesedihan Antologi Puisi Inggrida Astuti Lestari

Pisah sementara dureng itu sesuatu

Di pojok sabtu
Yang merindukan Minggu
Genang-genang kelabu menyetubui dingin
Gelap mengecup angin
Senja beranjak garing

Aku dan dureng milikmu masih menanti balasan rindu paling jitu
Tawa yang rapuh, kecup yang juga setuju
Ndu, aku kerap kali menceritakan hujan
Tak puas ku defenisi kebisingan

Baca Juga :   Sajak Calon Jenazah Antologi Puisi Wandro J. Haman

Tidak ada alasan lain di balik semuanya
Hanya ada secerca harap yang tercecer manja
Tentang pisah sementara
Jangan kau maknai lama, hanya seketika saja pandangan ini suram meraba

Aku mengumpul serpihan kisah kita
Menulisnya di judul lagu paling istimewa
Kau maknai jujurnya
Sebab ini ungkapan hati paling dalam
Paling dasar ku rangkai kiasan

(Pagal, 30 Januari 2021)

Baca juga : Kamu, Hujan, Kopi Dan Sepiring Jagung Rebus
Baca juga : Rindu yang Sempat Riuh

Rindu yang tercecer

Aku telah kebal
Merawat rindu adalah timbal
Ia, tak baik menelantarkan iklas
Ini benar toh Ndu?
Ku harap dari hati bukan abal

Baca Juga :   Puisi-Puisi Wandro J. Haman

Hehe
Tercecer
Jatuh tak beraturan lagi hingga kesal
Begitu banyak tak terhafal
Asal, kau menebal rasa bukan membual
Aku percay kau paling baik tanpa sesal

Ndu…
Kau pasti bosan
Sekitar rindu saja sajak tak beraturan
Ku kucilkan rasa lain yang tiba di ujung hati ku telan
Aku memprioritaskan kerinduan
Ia..Aku memupuknya kesekian

(Pagal 30 Januari 2021)

Baca juga : Yang Merangsang Antologi Puisi Indrha Gamur
Baca juga : Aku Masih Mencari Bayanganmu Antologi Puisi Paulus Lunga

Onccak Sarigooza

Penulis berasal dari Pagal, Cibal


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button