cerpenPuisiSastra

Aku Bersama Hujan Antologi Puisi Maria Camelia

Aku menanyakan kabarnya pada sepi
Mengapa ia tak pernah kembali lagi dalam mimpi?
Lalu aku bertanya pada hujan
Mengapa ia tak kunjung datang? 
Dan aku bersandar pada masa lalu,
Sampai kapan ia kembali?
Sebab senyumnya masih ku simpan rapi pada bait-bait puisi.

Sedangkan di sini hati masih berantakan
Seperti saat engkau hilang di balik dingin malam itu.

Di sini aku masih termangu, memetik sepi di pohon rindu. 
Sambil merapal mantra hujan yang terus melumat kota kecil ini 
Aku sadar, bahwa sepi yang kian membuncah
terus menghantam atap hati
Tak ada tempat berteduh di tengah riakan rindu. 
Pada Sendu 
Aku tak ingin menguasai basahnya hujan. 
Aku biarkan dinginnya menemani raga ini

Baca Juga : Waktu Antologi Puisi Wandro J. Haman

Baca Juga : Sarimin Pergi ke Pasar Antologi Puisi Aris Setiyanto

Bumiku Menjadi Semu

Hujan lebat menghantam sekujur bisu yang rapuh
Petir berkeliaran
Tembok- tembok roboh
Angin bergejolak tanpa ampun,
Pandemi sialan, ia juga masih tak beranjak
meninggalkan jejak - jejak nestapa
Keluar rumah memakai masker, jaga jarak,
ekonomi semakin sekarat.
Musim hujan kali ini, menerbangkan 
bongkahan kenangan pada setiap 
genangan.
Kenangan akan tahun- tahun tanpa pandemi
Namun, ada secercah rindu kami 
yang terselip 
lewat sela - sela gerimis
rindu akan tahun- tahun penuh tawa tanpa ragu 
Bumiku, mengapa kau bungkam?
Bumiku izinkan kami seperti dulu 

(Ruteng, 8 Februari 2021)

Baca Juga : Mengapa Hantu Populisme Bangkit?

Baca Juga : Perjalanan Hidup Fansi Antang hingga Menjadi Kades Termuda di Manggarai Timur

Aku Tak Mampu Bicara

Pada suatu senja,
Saat matahari kian berkedip lemah
hamparan sawah melambaikan daunnya
kepada pipit yang terbang
pulang ke sarang
Kau tersenyum tipis dibawah cakrawala jingga
Sedangkan aku menikmati angin yang
memukul - mukul wajahku
saat itu aku tak ingin detik berlari
bisakah ia sedikit memberikan jedanya 
dan membiarkanku
bersama senja dan kamu?
Tapi tak apa 
Rinduku masih bisa terbang ke sana lagi
ke suasana dimana
mataku dan matamu bertemu,
Aku tak mampu bicara.

Maria Camelia

“Mahasiswa PBSI Unika Ruteng.”


Baca Juga :   Kelana Embun Pagi Antologi Puisi Andi Hotmartuah Girsan

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button