Puisi

Air Mata Enam Januari Antologi Puisi Onzi GN

Air Mata Enam Januari

Ada sebuah cerita tentang sahabat yang tak pernah saya lupa wajahnya
Pelan-pelan saya membuka cerita di hadapan wajah pasrah dan ketidak percayaan
bahwa kesanggupan untuk melupakan jauh lebih berat dari kenyamanan.
Enam Januari tahun ini tak sehangat pantulan mentari ketika jemari memainkan bunyi.
Enam Januari dia pergi tanpa menunggu pagi
Enam Januari dia pergi tanpa salam tanpa surat
Enam Januari air mata kami menjadi pengganti sapa
Di saat doa kami menjadi lampu hidup menerangi namamu dalam katup

Baca Juga :   Bernafas Lekas Antologi Puisi Reineldis Alviana Jaimun

Selamat jalan sahabat
Puisimu telah kami dengarkan
Harapanmu telah kau pupuskan
Suara gigil di pintu kemesraan telah kau kisahkan
Doamu semasa hidup, Engkau indahkan dalam jalan pulangmu

Baca juga : Prolog Sebuah Buku Antologi Puisi Cici Ndiwa

Ko(Pi)sah

Bukan sekedar teka teki yang bertopi
Ini hanyalah ucapan yang berkecukupan
Tak punya wajah
Punya rasa
Tak punya segalanya
Punya salah

Baca Juga :   Cantik Itu Luka Antologi Puisi Kanis Rade

Ko(Pi)sah
Lebih baik daripada ketenangan yang tak pernah mengartikan hening
Pisah?
Segalanya mengobati sejenak dan selamanya.

Baca juga: Ina Ada yang Patah Selepas Mengenalmu

Za’o se’ Do’

Tak perlu banyak pertanyaan
Sebut saja za’o se’ Do’
Tak perlu banyak pelampiasan
Sebut saja za’o se’ Do’
Tak perlu banyak caci maki
Sebut saja za’o se’ Do’

Baca Juga :   Cinta-Antologi Puisi Venand Samudin

Ketika saya Berjalan,
Kamu berwajah awan
Ketika saya berhenti
Kamu berdiri dengan ketidakpastian
Ketika saya diam dan kamu mengemban
Di saat itu juga za’o se’ Do’

Baca juga : Membaca Tubuhmu Antologi Puisi Maxi L Sawung

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button