Opini

Adven dan Harapan Untuk Pemimpin Terpilih

Penulis : Bonefasius Zanda

Setiap tanggal 25 Desember, umat kristen merayakan pesta kelahiran Sang Juru selamat. Umat kristen memiliki keyakinan mutlak bahwa Kelahiran Yesus Sang pemimpin akan dan selalu membawa kebebasan dan juga keselamatan bagi semua orang.

Oleh karena itu, mengawali tulisan ini, saya coba membawa pikiran dan hati kita untuk merefleksikan kembali sejarah perjuangan bangsa kita. Setiap tanggal 17 Agustus, mungkin terlampau ideal jika saya mengidentikan dengan kelahiran Yesus Sang Juru selamat. Perjuangan panjang para pahlawan dalam membebaskan rakyat dari cengkeraman kolonialisme Belanda dan fasisme Jepang tentu saja harus senantiasa menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.

Baca juga Senja di Oesapa Berserta Kenangannya

Bukan sekadar untuk mengedepankan heroisme mereka (para pahlawan) oleh karena penantian dan perjuangan panjang untuk keluar dari ketertindasan penjajahan. Namun inti dari bangkitnya perjuangan para pahlawan adalah ketika rakyat ditindas dan dirampas hak-haknya oleh belenggu struktur sosial penjanjah yang tidak memberikan kemerdekaan bagi rakyat untuk mengaktualisasikan dirinya secara bebas.

Baca Juga :   Menurunnya Partisipasi Politik Masyarakat dan Radikalisasi Kiprah Parpol

Kita sadari, bahwa untuk memiliki ataupun menjadi pemimpin yang identik dan kesempurnaan seperti Yesus tidaklah mungkin. Tapi, paling kurang memiliki harapan untuk mengarah kepada pemimpin yang cukup sempurna adalah urgen. Mungkin terlalu berkelebihan kalau saya menempatkan perjuangan panjang para pahlawan identik seperti Yesus. Sebab faktanya memang demikian. Bahwa kemerdekaan dan demokrasi yang kita alami saat ini adalah buah dari perjuangan dan pengorbanan nyawa para pahlawan dahulu.

Baca juga Duapuluh Sembilan November

Oleh karena itu, tanggal 9 Desember 2020 yang akan datang, barangkali bisa menjadi moment yang tepat untuk memancarkan kembali semangat kemerdekaan yang telah ditanamkan oleh para pejuang terdahulu. Harapan ini pun bisa terjawab jika masyarakat, terkhusus masyarakat Kabupaten Ngada mampu memilih pemimpin yang tepat berdasarkan petunjuk suara hatinya masing-masing.

Karenanya, dalam masa penantian kelahiran Sang Juru selamat dan juga pemilukada ini, jagalah hati nurani, jagalah harga diri dan jangan menjual harga diri dengan uang atau apa pun yang berbau destruktif. Sebab pemilih yang mengikuti suara hati dan menjaga harga diri adalah sebuah harapan yang harus diaktualisasikan pada saat pencoblosan nanti.

Akhirnya sebagai rakyat, saya dan kita sekalian harus yakin bahwa siapa pun yang akan terpilih nanti adalah figur pemimpin yang lahir dari suara rakyat. Bukan dari suara yang dibeli dengan uang atau melalui cara-cara yang mencederai demokrasi.

Baca juga Hijabmu dan Rosarioku Dalam Cinta yang Esa

Diakhir goresan ini, izinkanlah saya untuk memberikan pesan bagi pemimpin terpilih. Lebih khususnya untuk pemimpin Ngada. Pemimpinku, selamat berziarah menelusuri jejak-jejak kepemimpinanmu kelak. Dalam doa kita bertemu untuk menjadi pribadi-pribadi yang berbela rasa dengan sesama. Pemimpinku, jadilah bijaksana dan bermoral dalam setiap karya dan pelayananmu.

Gunakan suara rakyat, kebajikan perjuangan para pahlawan dahulu, dan keteladanan pemimpin sejati Yesus Kristus, sebagai dasar bagi tugas dan pelayananmu. Semoga penantian panjang selama ini, dapat memberi harapan akan kepastian bagi kesejahteraan rakyat secara universal tanpa pengecualian.

Bonefasius Zanda (Foto/Dokpri)

Penulis Adalah Pengajar SMA Katolik Regina Pacis Bajawa


Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button