Puisi

Ada apa dengan Cinta – Antologi Puisi Emanuela Mogang

Atas nama puisi aku bertanya soal cinta yang mengambang
Atas nama puisi aku berkomentar lewat sajak-sajak jalang yang mungkin tak terdengar.
Dibalik tirai pagi, aku mempersembahkan segumpal luka
Yang terlahir dari rahim penuh dosa.
Ku letakan di depan senyuman mentari yang masih malu-malu menumpang pada bumi

Namun…..
Persembahanku tak di indahkan Tuhan
Seperti persembahan Kain di Mesbah Tuhan itu.
Kain memang merasa tersakiti karena ketidak-adilan yang membelenggu
Mungkin pikirannya protes dan hatinya bergeming tak tahu arah
Hingga, Habel menjadi pelampiasan napsu sakit hatinya
Darah Habel mengalir hingga sekarang
Melahirkan anak kata yang najis ketika aku amati

Ada apa dengan cinta?
Sehingga semuanya menjadi tragis
Dari Moyang kita sampai pada abad gila ini ?
Mungkinkah darah Habel telah memperkosa pikiran
Lalu, napsu Kain melumat hati yang belum sempat berproses untuk menati cinta
Akh…
Ada apa dengan cinta?

Baca juga Adven dan Harapan Untuk Pemimpin Terpilih

(Ruteng, 30 September 2020)

Baca Juga :   Cinta Seorang Gadis Antologi Puisi Emanuel Ervahno

Sandiwara Koruptor ?

Tuan mulutmu terlalu sakti mengucapkan janji
Kata-katamu manis semanis buah delima di depan rumah ibuku
Berbalut wajah penuh keyakinan, diimbangi senyum penuh keelokan
Tak banyak berkomentar kepercayaan merambat penuh dalam hati.

Dipersimpangan jalan
Engkau banyak berkoar-koar
Bersandiwara dengan indahnya
Melambai tangan pada selaksa mata yang meraung dari bilik-bilik kemiskinan
Tuan

Baca juga Cinta-Antologi Puisi Venand Samudin

Sadarkah bahwa tangan itulah yang mengerok kebahagian umat Tuhan ?
Engkau dengan dasi kemegahan duduk ditahta paling mewah
Bersandar angkuh memperlihatkan kehebatan
Tanpa Engkau tunduk dan menyaksikan betapa tragisnya wajah-wajah harap dibawa kursi korupsimu itu.

Baca Juga :   Selamat Natal, Alam Sebelah Antologi Puisi Maxi L. Sawung

Tuan Tuan
Masihkah Engkau ingat
Saat kita berjumpa diteras rumahku,
Aku suguhkan engkau dengan secangkir kopi,
Namun Engkau tidak meminumnya walau hanya seteguk
Engkau bersandiwara tentang ketidakpastian
Engkau bergumam mengenai jeritan umat Tuhan
Engkau berceloteh mengenai kerinduan anak-anak sebayaku, yang menderita
Engkau memancarkan keprihatian dan kekuatiran
Tanpa kau sadari bahwa aku tahu bahwa semua hanya omong kosong
Dan rumahku menjadi saksi bisu hadirmu yang bersuara tanpa berbuat

Masihkah kau ingat janji palsumu itu?
Engkau hanya mampu bersandiwara, berbicara mengenai perubahan
Tapi tak bisa melakukan apa-apa

(Ruteng, 30 September 2020)

Baca juga Hijabmu dan Rosarioku Dalam Cinta yang Esa

Kenangan

Aku ingat waktu itu
Saat kita meneguk kopi dari gelas yang sama
Sembari tersenyum

Baca Juga :   Kita dalam Gelap dan Terang Antologi Puisi Defri Noksi Sae

Aku ingat waktu itu
Ketika kita berbaring diatas biji pasir pantai
Putih dan hitam tergesa, berlari diujung pagar
Melihat gelora ombak merayu karang
Yang datang lalu pulang, kemudian seperti itu terus datang menjahili tubuh kering kita.

Baca juga Nol 3 Titik Satu Koma Kali 1

Aku ingat waktu itu
Saat kita diguyuri rinai hujan
Aku menangis takut sakit
Lalu, engkau mendekatkan bibirmu pada telingaku dan berbisik
“Mari kita bersulam cinta” dan kita saling mengecup

Aku ingat waktu itu
Lutut kita berlutut
Tangan mengatup
Kepala tertunduk
Engkau berdoa dan aku mengamininya pada Tuhan kita
Ku dengar permohonanmu pada Tuhan
“ Tuhan, Biarlah hati kami terikat walau tangan tak sanggup mengikat”

(Ruteng, 13 April 2020)

Penulis Emanuela Mogang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button